Foucault, Kekuasaan, dan Pengetahuan

Michel Foucault. Sumber: Istimewa.

Foucault menolak pandangan yang menyatakan kekuasaan subjek yang berkuasa (raja, negara, pemerintah, ayah, laki-laki), dan subjek yang dianggap melarang, membatasi, atau menindas.

P AUL-MICHEL FOUCAULT (lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926 – meninggal di Paris, 25 Juni 1984 pada umur 57 tahun) atau lebih dikenal sebagai Michel Foucault, adalah seorang filsuf Perancis, sejarawan ide, ahli teori sosial, ahli bahasa dan kritikus sastra.

Teori-teorinya membahas mengenai hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan, dan bagaimana mereka digunakan untuk membentuk kontrol sosial melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan, terutama penjara dan rumah sakit.

Meskipun sering disebut sebagai pemikir pada masa post- strukturalis dan postmodernis, Foucault menolak label-label ini dan ia lebih memilih untuk menyajikan pemikirannya sebagai sejarah kritis modernitas.

Pemikirannya telah sangat berpengaruh bagi kedua kelompok akademik dan aktivis. Ia Sering menulis tentang Iran, dia simpatik pada islam karena sempat hidup di Iran ketika terjadi Revolusi Islam.

Dalam hal ini foucault memiliki pandangan bahwa Islam itu memiliki kekuatan untuk bersatu, dan agama menjadi persoalan yang sangat sensitif untuk menggambarkan tragic life of abuse, revolt, and sexual perversion.

Ia berasal dari keluarga dokter, namun ia enggan unuk mengikuti jejak kedua orang tuanya, ia lebih memilih untuk menjadi dirnya sendiri, sejak kecil ia memiliki keinginan yang sangat aneh, ia memiliki cita-cita menjadi putri duyung. Meski demikian Ia dianggap murid terbaik oleh Nietz.

Faucault digambarkan memiliki psikilogi yang labil, gampang marah dan stres. Ketika masih kuliah, ia membuang nama ayahnya Foucault.

Ayahnya bernama Paul Foucault. Ia dianjurkan ayahnya untuk mengambil jurusan kedokteran, namun enggan dan berpaling ke jurusan Filsafat Humaniora.

Foucault lebih tertarik dengan fakta kegilaan, ketika ia mengalami perbedaan pandangan mengenai sex, ia diantarkan oleh orang tuanya ke dokter jiwa.

Diskontinuitas Sejarah

Menurut Foucault, sejarah adalah diskontinuitas. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup manusia, senantiasa terjadi discontinue, fragmatis, dan acak.

Secara ekstrem Foucault menolak konsep sejarah yang selalu mengandaikan rangkaian peristiwa yang terjalin secara berkesinambungan, tertata dengan prinsip kausalitas, dan mengandaikan adanya satu pusat yang merupakan titik tolak ataupun titik tuju.

Itulah sebabnya Foucault lebih bergairah untuk terlibat dalam satuan-satuan lokal dan mikropis, serta berupaya menemukan dan mengakui kebenaran dalam lokalitas tertentu.

Episteme

Secara ringkas istilah episteme bisa didefinisikan sebagai cara seseorang atau sekelompok orang berpikir, memandang, menguraikan dan memahami kenyataan. Menurut foucault, dalam satu periode sejarah zaman terdapat satu episteme.

Foucault mengklarifikasi periode peradaban Eropa ke dalam tiga macam :

  • Abad ke-16 (Renaissance), episteme pada jaman ini adalah resemblance atau kemiripan (wajah manusia menyerupai bulan, dll)
  • Abad ke-17 dan 18 (Klasik). Episteme pada zaman ini terjadi diskontinuitas dalam epitisme atau sistem pemikiran. Kata kunci episteme jaman ini adalah representation (penghadiran/ pembayangan)
  • Abad ke-19 dan 20 (post Klasik/ Modern), episteme pada zaman ini juga mengalami diskontinuitas. Kata kunci untuk menerangkan jaman ini adalah siginfication.

Episteme merupakan proses panjang penentuan dan disiplin berpikir manusia oleh rezim diskursus (wacana) dan kebenaran.

Untuk menemukan kebenaran episteme dari masing-masing periode, Foucault menggunakan dua model pendekatan filsafatnya yang saling melengkapi, yaitu arkeologi dan genealogi.

Pengetahuan bukanlah sekadar refleksi atas realitas. Kebenaran merupakan kontruksi kewacanaan.

Rezim pengetahuan yang berbeda menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Manusia adalah produk wacana, lebih dari  sebaliknya. Siapapun yang mengontrol episteme, maka akan mengontrol realitas,  terciptalah Knowladge is power.

Melalui pendekatan arkeologi, Foucault hendak menyingkapkan unsur-unsur terdalam dan tersembunyi dari masing-masing episteme, sekaligus memperlihatkan perbandingan yang diwacanakan dalam setiap periode sejarah.

Sedangkan, melalui pendekatan genealogi, Foucault tidak hanya sebatas menyingkapkan unsur-unsur terdalam dari tiap-tiap episteme. Tetapi lebih jauh ia mau menemukan variabel tersembunyi, motif, dan sebab terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut.

Relasi Kuasa Pengetahuan

Kekuasaan selalu terkualisikan lewat pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kuasa.

Penyelenggaraan kekuasaan selalu memproduksi pengetauan sebagai basis kekuasaannya. Kuasa memproduksi pengetahuan tanpa kuasa, dan sebaliknya, tidak ada kuasa tanpa pengetahuan.

Untuk mengetahui kekuasaan, dibutuhkan penelitian mengenai produksi pengetahuan yang melandasi kekuasaan. Karena setiap kekuasaan disusun, dimapankan, dan diwujudakan lewat pengetahuan dan wacana tertentu.

Setiap kekuasaan selalu berpresentasi menghasilkan sesuatu yang disebarkan lewat wacana yang dibentuk oleh kekuasaan.

Kerja Kuasa

Kuasa tidak bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi bekerja melaui normalisasi dan regulasi.

Foucault menolak pandangan yang menyatakan kekuasaan subjek yang berkuasa (raja, negara, pemerintah, ayah, laki-laki), dan subjek yang dianggap melarang, membatasi, atau menindas.

Menurut Foucault, kuasa tidak bersifat subjektif. Kuasa tidak bekerja dengan cara negatif dan represif. Melainkan dengan cara positif dan produktif.

Kuasa memproduksi realistis, lingkup-lingkup objek, dan ritus-ritus kebenaran.

Strategi kuasa bekerja melalui normalisasi dan regulasi, menghukum dan membentuk publik yang disiplin.

Publik tidak dikontrol lewat kekuasaan yang sifatnya fisik, tetapi dikontrol, diatur, dan disiplinkan lewat wacana. Kekuasan ada korelasi dengan pengetahuan.

Pengawasan Panoptik

Sistem Panoptik yaitu pengawasan yang dilakukan secara discontinue (tidak terus menerus), tetapi berdampak secara continue (terus menerus).

Tujuannya untuk menghasilkan ketaatan yang secara permanen tetapi kecil sumber daya yang digunakan.

Panoptik bisa saja menjadi efektif dan ekonomis, tetapi juga bisa menjadi buruk dampaknya.

Dengan memahami pandangan Foucault terhadap kekuasaan dan pengetahuan, maka konstruksi kekuasaan oleh pelaku represi yang sudah tumbuh dan mengakar dalam pikiran, terpatahkan oleh pandangan Foucault.

Baginya kekuasaan disusun, dimapankan, dan diwujudakan lewat pengetahuan dan wacana tertentu. Maka muncullah istilah knowladge is power.[]

Irfan Asyhari. Anggota Bidang Promosi LPM Rhetor yang juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan