Pers Mahasiswa dan Masalah Operasional yang Tak Pernah Usai

sumber: shopee.co.id

Pers Mahasiswa dan Masalah Operasional yang Tak Pernah Usai

 

Judul Buku         : Pers Mahasiswa dan Permasalahan Operasionalisasinya

Penulis                : Ana Nadhya Abrar

Penerbit               : Liberty

Tahun terbit        : Cetakan 1, 1992

ISBN                     : 979-499-086-8

 

Pers mahasiswa (persma) digadang-gadang mampu meningkatkan intelektualitas mahasiswa. Hal ini menurut Ana Nadhya Abrar, dalam buku Pers Mahasiswa dan Permasalahan Operasionalisasinya, bisa terwujud apabila persma setia dengan bidang garapannya, berorientasi kepada masyarakat. Anggapan persma mampu meningkatkan intelektualitas menguat setelah perguruan tinggi tidak mampu menjalankan fungsionalnya sebagai lembaga pendidik.

Kampus yang memiliki program pengabdian kepada masyarakat, semisal Kuliah Kerja Nyata (KKN), nyatanya belum mampu membekali mahasiswa supaya memiliki orientasi kepada masyarakat. Mahasiswa lebih banyak diarahkan agar memiliki kesadaran eksistensial tentang diri dan profesinya melalui kegiatan akademis dan kurikuler.

Atas kenyataan tersebut, persma dianggap sebagai perpanjangan tangan kampus untuk meningkatkan intelektualitas mahasiswa, hal yang selama ini tidak bisa diberikan oleh kampus. Namun, hal ini hanya menyangkut tujuan persma dalam konstelasi sistem sosial di kampus. Dalam operasionalnya, persma tetap mandiri, seperti pers umum.

Sama halnya dengan pers umum, persma perlu menentukan orientasi pembacanya. Meskipun berada di lingkungan perguruan tinggi, tetapi seiring berkembangnya teknologi informasi, persma juga dituntut untuk mengaktualisasikan diri seiring perkembangan zaman.

Masalah lalu muncul ketika persma tidak mampu menentukan orientasi pembaca. Sebuah media memiliki karakteristik pembaca dengan intelektual, ideologi, latar belakang dan status sosial yang berbeda-beda. Media pers perlu spesifik menentukan objek operasionalnya. Hal itu dilakukan demi keefektifan dan keberhasilan media dalam proses transmisi nilai. Ketika sebuah media telah menetapkan targetnya, mereka bisa merencanakan isi dan cara penyajian informasi sesuai dengan ideologi yang persma anut.

Apabila persma tidak menentukan lingkup orientasi pembacanya, bisa diperkirakan medianya pun tidak akan memberi pengaruh banyak. Terutama persma tidak mampu mendorong pembacanya untuk merespons isu. Menyikapi masalah ini, persma sering kali menyalahkan pembacanya. Mereka menganggap mahasiswa sekarang apatis terhadap lingkungan sosialnya, tidak kritis, dan ujungnya, setelah mengetahui medianya tidak memiliki gaung di kalangan pembaca, persma mengalihkan kegiatannya kepada apa yang bisa mempengaruhi masyarakat secara fisik, seperti unjuk rasa.

Menurut Ana Nadhya, kegiatan fisik seperti unjuk rasa bukanlah ranah persma. Kegiatan tersebut justru menjadi hambatan bagi peningkatan peranan media itu sendiri. Perlu disadari bahwa persma tidak akan mampu melakukan perubahan sosial secara langsung, sekecil apa pun itu. Bagi Nadhya, persma hanya mampu menjadi pemicu perubahan.

 

Manajemen Pers Mahasiswa

Pengelola persma perlu meningkatkan mutu informasi yang tersaji dalam media mahasiswa lewat penetapan kebijakan redaksional. Selain itu, hal ini juga menyangkut idealisme pers yang dijabarkan dalam bentuk kebijakan tersebut. Seperti yang diketahui, satu hal yang tidak bisa dihindari dalam menentukan kebijaksanaan redaksional adalah pilihan masyarakat yang akan membaca media mahasiswa. Tidak semua informasi yang termuat di media mahasiswa dibutuhkan pembaca. Redaksi perlu selektif dalam memuat pemberitaan agar maksud media bisa diterima pembaca.

Sebuah media mahasiswa memiliki persoalan yang sangat beragam. Mulai bagaimana menerbitkan media mahasiswa sesuai dengan periodesasi yang sudah ditetapkan, hingga persma mampu mempertahankan citra dihadapan pembacanya.

Selain itu, eksistensi persma ditentukan dengan dua hal. Sebagai media komunikasi dan lembaga sosial. Sebagai media komunikasi, media dikatakan eksis bila ajek mengunjungi pembacanya dan menyebabkan jumlah pembacanya bertambah dari waktu ke waktu. Sedangkan sebagai lembaga sosial, pers dikatakan eksis bila bebas dari berbagai tekanan sistem sosial di lingkungan dalam merefleksikan segala realitas sosial.

Sebagai kelompok usia muda, mahasiswa memang cenderung memiliki energi, semangat paling tinggi daripada golongan usia lainnya. Wajar kalau energi itu mereka gunakan untuk kegiatan lain di luar kegiatan akademis. Namun, bukan berarti mahasiswa harus bersikap pragmatis dan hedonistik dalam kehidupan mereka.

Dalam hal ini, persma selaiknya berperan membumikan orientasi kepada masyarakat yang harus dimiliki mahasiswa. Lewat media, persma bisa menjabarkan tentang pentingnya idealisme bagi mahasiswa serta  memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memikirkan kondisi dan kesejahteraan masyarakat di sekelilingnya.

Setelah memiliki perspektif atau orientasi yang jelas, persma dihadapkan pada persoalan pelik lainnya. Pengelola persma tidak terbiasa dengan manajemen yang rapi, baik menyangkut bidang usaha maupun bidang redaksional. Dalam persma hal itu bisa terjadi akibat ketidakjelasan sistem kerja yang dipakai, semua personelnya harus sanggup bekerja di setiaap lini.  Sebagian besar yang dimiliki persma adalah anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART), semacam pedoman organisasi pers mahasiswa secara keseluruhan.

Keadaan semacam ini menyebabkan bidang redaksional bekerja menunggu perintah. Biasanya, perintah yang dipatuhi adalah yang datang dari pemimpin redaksi atau pemimpin umum. Kedua pemimpin tersebut dianggap memiliki kekuasaan yang hampir tidak terbatas. Lebih parah lagi, akibat merasa memiliki kuasa, kemudian ada yang beranggapan bahwa segala urusan keredaksian tidak akan terselesaikan jika tidak ada campur tangan pihak ini.

Tentu hal tersebut tidak bisa dibenarkan, terlepas dari siapa pemangku jabatannya, persma harus mampu bertindak seprofesional mungkin. Dengan mengedepankan kebutuhan informasi dari para mahasiswa yang menjadi masyarakat informasi (objek penikmat informasi).

Selain keinginan dalam mengembangkan masyarakat informasi untuk mempercepat laju pengembangan nasional, khalayak juga perlu prihatin terhadap kompetensi keredaksian persma terhadap sistem informasi. Persma dianggap tidak begitu peduli  dengan persoalan sistem informasi. Bukan bermaksud mendiskreditkan sebuah persma, tetapi seyogyanya sebuah media mampu memberikan informasi utuh yang masuk (input), dikelola (processing), sehingga mampu menjadi informasi (output) yang bermanfaat bagi pembaca.

Berbeda dengan pers umum, persma lebih bebas merefleksikan realitas sosial yang sedang terjadi. Persma tak perlu takut bangkrut karena tidak menyuarakan kepentingan tertentu. Pun tidak perlu khawatir media persnya dibredel, atau bahkan dicabut status mahasiswanya akibat menerbitkan sebuah media mahasiswa. Hal itu demi menegaskan perannya sebagai mahasiswa.

Peningkatan kepedulian persma terhadap masalah yang terjadi di lingkungan mahasiswa, diyakini akan terjamin bila persma meningkatkan ambisi dalam menerbitkan media. Meskipun terkesan ambisius, keinginan kuat untuk bisa memproduksi karya lewat media, bisa menjadi nilai lebih bagi sebuah persma itu sendiri.

Peran persma tidak bisa dianggap remeh, begitu pula permasalahan operasionalisasi yang menyertainya. Perlu manajemen keredaksian yang baik agar tujuan persma senantiasa sesuai dengan koridor. Selain itu, permasalahan terkait opersional media dapat terselesaikan dengan baik dan tidak kembali diwariskan dari masa ke masa.

 

M. Alfan Fannan, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

The Lobster: Tentang Kebebasan dan Ruang Privat

Sebelum fiksi ilmiah yang bercerita tentang tema distopia