Tentang

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor merupakan salah satu Badan Otonomi Mahasiswa (BOM) yang berada di bawah naungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga. Organisasi ini bergerak di bidang kejurnalistikan. Tidak hanya mengembangkan kemampuan tulis-menulis, LPM Rhetor juga mengembangkan kemampuan di bidang videografi, fotografi, dan desain grafis.

LPM Rhetor telah terbentuk sejak tahun 1990. Namun, baru diresmikan sebagai BOM-F pada 27 September 1997. Dalam 29 tahun perjalanannya, LPM Rhetor sempat mengalami pasang surut, dari kekosongan kekuasaan, tidak memiliki ruangan atau sekretariat di fakultas, bahkan hingga mati suri. Benturan antara idealita dan realitas yang ada kampus, serta kesadaran akan pentingnya suatu lembaga pers mahasiswa, akhirnya membuat LPM Rhetor hidup kembali dan bertahan hingga hari ini.

LPM Rhetor secara aktif telah melakukan pengawalan berbagai isu dan/atau kasus, baik di kancah kampus, daerah, maupun nasional. LPM Rhetor juga menyajikan realitas sosial, ekonomi, politik, dan budaya dalam setiap produk jurnalistiknya. Berkiblat pada Sembilan Elemen Jurnalisme (gagasan Bill Covach dan Tom Rosentiel), LPM Rhetor tumbuh dan ada untuk menyuarakan suara mereka yang tidak tersuarakan. Dalam sejarahnya, pers mahasiswa memang lahir dari pergolakkan gerakan mahasiswa, hingga muncul sebagai alat baru perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan dan mengkritisi berbagai persoalan yang ada.

LPM Rhetor telah menetapkan idealismenya sebagai organisasi, media, dan gerakan. Sebagai organisasi, baik secara strategis maupun taktis, LPM Rhetor mengambil pemikiran Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Seorang terpelajar pada masa politik etis kolonialisme Belanda di Indonesia, yang dianggap sebagai bapak dari organisasi dan organisir bangsa ini. Pers sebagai organisasi dijadikan sebagai alat perjuangan yang didasari pada semangat juang yang plural, tanpa melihat latar belakang kesukuan, agama, ras, maupun golongan tertentu. Semangat inilah yang kemudian menjadi bibit dari kesadaran untuk melawan ketidakadilan tanpa memandang SARA.

Lebih dari itu, pers mahasiswa sebagai organisasi juga diorientasikan oleh LPM Rhetor sebagai bentuk pengawalan terhadap gerak-laju dan tumbuh-kembangnya masyarakat kita. LPM Rhetor menjamah semua ruang lingkup yang ada, terutama dunia pendidikan yang bersinggungan langsung dengan mahasiswa. Oleh karenanya, sebagai organisasi, LPM Rhetor diatur berdasarkan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, hingga garis besar haluan organisasi.

Sebagai Media, LPM Rhetor mengharuskan setiap anggotanya untuk mampu menerjemahkan kerja-kerja gerakan dalam kerja-kerja media. Artinya, jurnalisme digunakan sebagai alat dalam bergerak, mengawal, dan menyuarakan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Posisi pers mahasiswa yang tidak terikat dengan modal investasi manapun, menjadikan pers mahasiswa lebih independen dan lebih kreatif dalam menyajikan konten-konten informasi kepada khalayak luas.

Dalam ruang lingkup gerakan, LPM Rhetor bertugas untuk mengorganisir massa, serta mengadvokasi persoalan sosial. Mahasiswa dan pers punya peran dan tugas yang sama, yaitu berpihak kepada rakyat kecil. Idealisme mahasiswa tidaklah berpatok pada ideologi tertentu, organisasi, dan golongan manapun. Sehingga, lembaga pers mahasiswa harus mampu melakukan kritik-autokritik atas gagasan yang ada, kemudian mentransformasikannya dalam pikiran maupun tindakan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Divisi-Divisi di LPM Rhetor

  1. Devisi Redaksi

Divisi redaksi merupakan divisi yang bergerak dibidang keredaksian LPM Rhetor. Keredaksian mengatur isu yang akan diangkat dalam berbagai konten LPM Rhetor: berita, essay, cerpen, fotografi, videografi, dan komik. Divisi redaksi dipimpin oleh pemimpin redaksi.

      2. Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)

Ibarat mobil yang membutuhkan bahan bakar, LPM Rhetor pun demikian. Namun, bahan bakar tersebut berupa wacana dan pemahaman anggota LPM Rhetor yang dikawal oleh divisi PSDM. Setiap anggota LPM Rhetor difasilitasi untuk belajar berbagai hal tentang kejurnalistikan. Tidak hanya itu, anggota LPM Rhetor juga difasilitasi untuk belajar tentang wacana-wacana sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Bahan bakar ini kemudian yang dijadikan sebagai pisau untuk membedah realitas sosial.

      3. Divisi Jaringan dan Komunikasi

Divisi ini adalah divisi yang mengawal hubungan LPM Rhetor dengan berbagai lembaga, organisasi, ataupun sesama pers mahasiswa di luar LPM Rhetor. LPM Rhetor juga berperan aktif dalam gerakan pers mahasiswa dalam lingkup regional Yogyakarta, maupun lingkup nasional. Saat ini LPM Rhetor terhimpun dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Program dan Agenda LPM Rhetor

Program kerja dan agenda LPM Rhetor telah diselaraskan dengan konsep organisasi, media, dan gerakan. Adapun program kerja dan agenda LPM Rhetor, yaitu:

  1. Pelatihan Jurnalis Tingkat Dasar (PJTD)

Pelatihan ini merupakan pelatihan awal yang wajib diikuti oleh setiap calon anggota baru LPM Rhetor. Dalam pelatihan ini diperkenalkan tentang sejarah pers dan pergerakan, nilai-nilai dalam Sembilan Elemen Jurnalisme dan/atau Agama Saya Adalah Jurnalisme (Andreas Harsono), serta kemampuan untuk menganalisis keadaan sosial.

      2. Karantina Reporter

Karantina Reporter ini dikhususkan untuk anggota tingkat pertama dan kedua. Anggota LPM Rhetor tingkat Pertama akan diarahkan untuk mendalami kemampuan analisis sosial, kemudian merumuskannya dalam bentuk produk jurnalistik. Anggota LPM Rhetor tingkat kedua difokuskan pada kaidah penulisan yang sesuai dengan PUEBI dan pengayaan wacana tentang framing berita.

      3. Pelatihan Jurnalis Tingkat Lanjut (PJTL) dan Upgrading

Pelatihan Jurnalis Tingkat Lanjut merupakan agenda wajib bagi setiap anggota magang LPM Rhetor yang berniat menjadi anggota biasa maupun luar biasa LPM Rhetor. Materi pelatihan lebih pada pengenalan produk jurnalistik lanjut, seperti indepth news, investigative news, mobile journalism, dan lain sebagainya.

      4. Pertemuan Rutin

LPM Rhetor mengadakan pertemuan rutin selama tiga hari dalam sepekan, Senin, Rabu, dan Jum’at sebagai follow up setiap pelatihan yang sudah dilaksanakan. Hari Senin dikhususkan untuk anggota magang. Diskusi pada hari Senin lebih berfokus pada pengetahuan dasar jurnalistik. Hari Rabu difokuskan pada pengayaan wacana dan keilmuan lainnya. Sedangkan hari Jumat digunakan untuk rapat redaksi.

Pengalaman Liputan dan Gerakan

LPM Rhetor secara aktif mengawal isu yang ada di masyarakat. Pada tahun 2017, LPM Rhetor juga aktif mengawal isu agraria, khususnya pembangunan bandara di Kulon Progo. Tulisan yang diangkat di laman lpmrhetor.com dengan judul Selasa yang Panjang di Kulon Progo, bahkan telah membawa penulisnya ke sebuah konferensi global yang dilaksanakan oleh British Council bernama Future News Worldwide 2018 di Edinbrugh, Skotlandia.

Tidak hanya isu tentang agraria, LPM Rhetor juga menulis dan mengawal isu tentang kekerasan seksual, baik kasus daerah (Kekerasan seksual terhadap mahasiswi di salah satu kampus ternama di Yogyakarta), maupun isu nasional (RUU Penghapusan Kekerasan Seksual). LPM Rhetor juga menulis tentang isu gender, diskriminasi, intoleransi, dan permasalahan sosial lainnya. LPM Rhetor turut aktif melakukan pengawalan pada setiap aksi mahasiswa di Yogyakarta.

Pada pengawalan isu diskriminasi, LPM Rhetor sempat mengadakan diskusi publik dengan tema, “Intoleransi Merejalela, Media dan Negara Kemana?” dengan menghadirkan narasumber Alimatul Qibtiyah (Akademisi UIN Sunan Kalijaga, Pemerhati Media dan Gender), Shinta Maharani (Koresponden Majalah Tempo dan Penulis Lepas Vice), dan Olivia Lewi Pramesti (Akademisi Universitas Atmajaya, Peneliti Media dan Birokrasi). Sebelum diskusi publik terselengara, LPM Rhetor juga telah mengadakan serangkaian forum group discussion selama tiga minggu berturut-turut dan menghadirkan lebih dari 30 lembaga.

Dalam ranah kampus, LPM Rhetor turut aktif mengawal setiap kebijakan yang ada, seperti isu cadar, UKT, program pondok bagi mahasiswa bidikmisi, organisasi ekstrakulikuler, Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa), hingga persoalan kontroversi lainnya.