lpmrhetor.com – Penggunaan media sosial (medsos) kini sudah menyebar luas di kalangan manapun. Cakupan usia dari tua hingga muda, tidak satupun generasi yang luput menggunakan medsos untuk memenuhi kebutuhan mereka. Baik untuk mencari penghasilan tambahan atau sekadar mencari hiburan semata.
Dalam inet.detik.com disebutkan pada Januari 2025 terdapat 143 juta identitas pengguna medsos aktif di Indonesia. Jika pada awal tahun 2025 total penduduk Indonesia mencapai 285 juta jiwa, maka 143 juta jiwa setara dengan 50,2%. Dengan kata lain, pengguna medsos aktif di Indonesia setengah dari total penduduk. Data ini diungkapkan dalam laporan hasil gabungan analisis oleh We Are Social dan Meltwater bertajuk Digital 2025 Global Overview Report.
Dari data tersebut dapat dibayangkan betapa cepatnya informasi tersebar setiap harinya. Terlebih pada saat ini, masyarakat seperti mustahil terlepas dari peranan teknologi dalam kegiatan sehari-harinya.
Banyak orang yang mencoba peruntungannya lewat media sosial. Semua berlomba-lomba menjadi content creator demi mengejar gaji yang katanya ‘besar’ dan waktu kerja fleksibel. Semua orang berlomba untuk mencari kebebasan. Apakah ini menjadi suatu hal yang baru terjadi atau hanya menjadi hal yang baru kita sadari?
Beberapa platform, seperti TikTok, menyediakan fitur untuk memaksimalkan fungsi media sosial. Banyak masyarakat yang menggunakan fitur tersebut dan mencoba peruntungannya dengan mengandalkan hadiah dalam bentuk paus, topi cowboy, atau bunga mawar, dari orang yang mengunjungi siaran langsung mereka.
Seperti para ibu atau bahkan wanita lanjut usia yang bermain game online sembari melakukan siaran langsung. Mereka mengungkap bahwa hasil dari siaran langsung itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu muda yang rela berjoget atau berlari dalam siaran langsung juga melakukannya dengan tujuan yang sama, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebenarnya apa yang mengawali fenomena tersebut, sehingga banyak sekali model siaran langsung seperti ini di luar kondisi ekonomi yang mendesak mereka?
Menurut Kepala Laboratorium Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Irawan Wibisono, hal ini diawali dari algoritma yang mempengaruhi gaya hidup seseorang. Bahkan bisa dikatakan orang-orang saat ini hidup berdasarkan algoritma. Zaman sekarang, seorang produsen tidak bisa mempengaruhi algoritma. Justru produsen atau orang yang memanfaatkan medsos untuk mengais penghasilan tambahan itu harus mengikuti permainan algoritma.
Kenyataan pahitnya adalah algoritma berganti setiap detik. Semua media harus mengikuti algoritma yang sedang menjadi trending topic di mesin pencarian, seperti Google. Jika tidak mengikutinya, maka apapun yang dikeluarkan oleh media tersebut tidak akan laku. Hal itu juga yang mendasari banyaknya media cetak yang gulung tikar dan jarang dilirik oleh masyarakat. Wartawan yang tadinya turun ke lapangan kini menjadi ‘karyawan Google’ karena harus mengikuti minat masyarakat yang bergantung pada bagaimana sebuah berita diproduksi.
Sementara bagi konsumen, sangat mudah untuk menggunakan algoritma. Konsumen harus lebih jeli dengan yang diinginkan. Dengan demikian, itu pula yang akan ditampilkan dan sering muncul. Irawan juga mengutip perkataan Imam Ali, “Kita akan mendapatkan apa yang kita cari”. Jika yang dicari adalah suatu hal yang baik, maka hal itulah yang akan muncul untuk kita. Begitu pula sebaliknya.
Kemudian mengapa model siaran langsung seperti yang sudah disebut sebelumnya selalu menghiasi beranda mayoritas pengguna media sosial, khususnya platform TikTok?
Sekalipun tidak banyak, pasti ada beberapa akun yang menampilkan jenis siaran langsung tersebut. Seiren Ikhtiara, Dosen KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengatakan bahwa algoritma memang didesain untuk membuat konsumen betah berlama-lama melihat konten yang menurut platform tersebut menarik dan relevan untuk kita (red: para konsumen), baik secara aktivitas, interaksi atau preferensi kita sebelumnya.
Disadari atau tidak, kita lebih sering dikendalikan oleh algoritma dibanding mengendalikan algoritma itu sendiri. Hal ini didasarkan pada pernyataan sebelumnya bahwa algoritma memang didesain untuk mengerti kemauan dan kebutuhan kita. Algoritma sangat besar pengaruhnya untuk kehidupan manusia, bahkan bisa membentuk sudut pandang seseorang terhadap sesuatu melalui apa yang hadir di beranda orang tersebut. Selain itu, algoritma juga menentukan popularitas berita yang menarik, bukan yang penting.[]
Penulis : Shabina Nasywa Mufti
Editor : Ruhana Maysarotul Muwafaqoh
