Cerita Seorang Dosen Difabel Daksa: Sulit Cari Kampus, Infrastruktur Tak Ramah Difabel, hingga Stigma Negatif di Masyarakat

1035
dok/pribadi/ Meta (tengah, duduk menggunakan kursi roda) bersama para mahasiswi di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Selagi ruang publiknya aksesibel dan sistem sosialnya mendukung, semuanya nggak jadi kendala buat difabel.

lpmrhetor.com- Hingga saat ini, keberadaan difabel di tengah masyarakat masih kerap dianggap sebagai aib. Stigma itu lengket sebab mereka dipandang sebagai anggota masyarakat yang tidak produktif.

Meski tak selamanya begitu, setidaknya hal ini terjadi di daerah asal Meta di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Tentu ini adalah keadaan yang tak sepatutnya terjadi, karena difabel adalah bagian dari masyarakat yang mestinya mendapat hak dan kesempatan yang setara untuk bisa mengakses berbagai layanan publik. 

Tak terkecuali, akses difabel terhadap layanan pendidikan. Bagi difabel, memilih kampus bukan persoalan enteng. Tak mudah menemukan kampus dengan infrastruktur yang aksesibel dan menerapkan sistem pendidikan inklusif. Bagi difabel daksa, yang memiliki hambatan mobilitas, ketiadaan ramp (bidang miring) dan lift untuk menuju lantai atas, mempersulit ruang gerak mereka.

Lpmrhetor mewawancarai Meta Puspitasari, seorang dosen pengguna kursi roda di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, dan menuliskan kisahnya.

***

Setelah membuat janji temu lewat WhatsApp, saya menemui Meta Puspitasari pada 18 Januari 2023 di ruang Difabel Corner yang terletak di lantai satu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Ruangan ini biasa dipakai berkumpul penyandang difabel di kampus.

Meta lebih dulu sampai di sana, duduk di atas kursi roda elektrik miliknya. Pagi itu, sekitar pukul sembilan, perpustakaan masih sepi. Hanya beberapa orang yang tampak berlalu lalang. Setelah mempersilahkan saya duduk di sebelahnya, ia mulai bercerita.

Sejak lahir, Meta mengalami gangguan saraf motorik pada bagian kanan tubuhnya. Hal ini membuatnya tak bisa berdiri dengan sempurna. Dokter mengatakan bahwa kondisi ini tidak bisa sembuh dan berubah meski Meta berulang kali terapi dan minum obat.

Saat menginjakkan kaki di UIN Yogyakarta pada 2010, ia menjadi mahasiswa difabel daksa pertama di kampus. Berkat kegigihan dan dukungan dari orang-orang di sekitar, saat ini ia telah menjadi dosen di kampus yang sama.

Tak Mudah Memilih Perguruan Tinggi

Setelah lulus SMA pada 2008, Meta tak langsung mendaftar kuliah. Sebagai difabel daksa, ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Waktu itu, kata Meta, banyak kampus belum bersedia menerima difabel sebagai mahasiswanya. 

Ditambah lagi, selama dua belas tahun sekolah dari SD sampai SMA, ia selalu diantar jemput orang tuanya untuk ke sekolah. Ia berpikir bahwa hal itu tak mungkin bisa dilakukan saat menempuh pendidikan tinggi, karena kedua orang tuanya juga harus bekerja untuk menopang kehidupan keluarga.

“Jadi tahun itu saya terombang-ambing nggak jelas,” kata Meta. “Hingga, akhir 2009, saya bilang ke Bapak bahwa saya ingin kuliah, bagaimana pun caranya. Karena saya yakin difabel yang pengen kuliah itu pasti banyak, jadi seharusnya pemerintah menyediakan fasilitas untuk itu.”

Pendek kisah, bersama sang Bapak, Meta mencari tahu kampus-kampus yang mau menerima mahasiswa difabel melalui mesin pencari Google. Setelah memasukkan kata kunci “kampus difabel”, ia mendapat banyak opsi kampus, seperti UIN Yogyakarta, UAD, UNS, dan lain-lain.

Beberapa kampus menyatakan diri menerima difabel namun membatasi mereka hanya pada beberapa program studi tertentu saja. “Jurusan Pendidikan Luar Biasa, misalnya. Itu kan diskriminatif,” ucap Meta. 

Sedangkan Meta tak ingin mengambil jurusan itu. Menurutnya, mestinya difabel juga dibolehkan untuk mengambil jurusan-jurusan lain yang ada di kampus, sesuai dengan minat mereka.

Pilihan Meta akhirnya jatuh pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Tafsir Hadis (sekarang menjadi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir). Ia resmi menjadi mahasiswa baru pada tahun 2010.

Mengambil Pilihan Nekat

Kepada saya, Meta mengatakan bahwa pilihannya mengambil program studi Tafsir Hadis merupakan pilihan nekat. Pasalnya, hingga SMA, ia menempuh pendidikan di sekolah umum, bukan sekolah keagamaan. Belajar di pesantren juga belum pernah.

“Dulu mikirnya kuliah di kampus yang bernuansa Islam kok nggak ambil jurusan yang Islam-islam juga,” kata Meta.

Di samping itu, ketiga adik Meta kebetulan menempuh pendidikan di sebuah Pondok Pesantren. Ia membayangkan, suatu saat ketika semua adiknya selesai nyantri dan pulang ke rumah, setidaknya ia bisa mengimbangi apa yang menjadi topik obrolan adik-adiknya.

“Paling tidak kalau ngobrol, saya jadi paham mereka bahas apa. Kalau mereka ngomong tentang tafsir, hadits, saya paham, meskipun secara keilmuan mungkin mereka lebih baik dari saya.”

Begitu mulai kuliah, ia mendapati bahwa beberapa teman kelasnya merupakan Gus dan Ning (sebutan untuk anak seorang Kiai). Teman yang lain, tak sedikit juga yang jebolan dari pondok pesantren. Mereka mengambil program studi Tafsir Hadis karena memang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup mendukung.

Karena itu, saat awal-awal kuliah, Meta sempat merasa kesulitan untuk mengikuti pembelajaran di kelas. Namun, hal itu tak membuat Meta patah arang. Dengan cara-cara yang bisa dijangkau, ia coba belajar lebih keras lagi. Lebih giat lagi.

“Dulu di awal kuliah saya juga nge-blank karena banyak istilah-istilah asing yang saya nggak paham ini maksudnya apa. Jadi di awal-awal saya sering ajak adik untuk diskusi bahas ini maksudnya apa; istilah ini maksudnya apa. Di samping itu juga diskusi dengan temen-temen.”

Infrastruktur Bangunan Kampus Tak Ramah Difabel

Sebagai mahasiswi difabel daksa, hambatan utama yang menimpa Meta adalah soal mobilitas dari satu tempat ke tempat lain. Saat kuliah, kata Meta, ia masih belum menggunakan kursi roda.

Maka saat berangkat kuliah dari kos, ia biasa menaiki becak kayuh. “Saya pakai becak kayuh karena kebetulan bapaknya sering antar anak-anak ke sekolah dan kebetulan rumahnya gak jauh dari kos saya.”

Di area kampus, infrastruktur bangunan tiap gedung belum aksesibel bagi difabel daksa. Untuk naik ke lantai atas, keberadaan ramp atau bidang miring masih sangat minim. Lift juga tidak ada. Di setiap bangunan kampus, akses untuk naik-turun lantai masih menggunakan anak tangga. Tahun ini, bangunan yang memiliki lift baru dua saja, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dan Gedung Kuliah Terpadu.

Padahal ketika ia masih menjadi mahasiswa saat itu, Ketentuan aksesibilitas pada bangunan publik untuk difabel sudah diatur lewat Permen PU no. 29/PRT/M/2006. Salah satu isinya menyatakan bahwa bangunan publik harus aksesibel bagi difabel dengan pengadaan ramp dan lift.

Kini Meta telah menjadi dosen. Akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas yang terbaru diatur lewat PP 13/2020. Dalam PP tersebut telah dijabarkan bentuk akomodasi yang layak berdasarkan ragam penyandang disabilitas.

Akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas fisik dijabarkan dalam pasal 11 huruf (a) sampai (i). Akomodasi yang dimaksud adalah ketersediaan aksesibilitas untuk menuju tempat yang lebih tinggi dalam bentuk bidang miring, lift, dan/atau bentuk lainnya (huruf a); fleksibilitas proses pembelajaran (huruf c); fleksibilitas waktu penyelesaian tugas dan evaluasi (huruf f); dan lain-lain.

Sejak mahasiswa baru, ruang kuliah Meta kerap berada di lantai tiga dan empat. Karena infrastruktur bangunan UIN belum aksesibel, maka untuk naik-turun lantai fakultas, Meta mengaku harus dibantu teman-temannya dengan cara digandeng. Terkadang, Meta juga dibantu staf pengajar atau petugas kebersihan kampus.

“Waktu awal mahasiswa baru itu ngerasa, huh, kok gini sih. Waktu itu sama sekali nggak ada pengecualian, karena saya difabel maka saya kuliah di lantai bawah. Semuanya sama, ketika yang lain kuliah di lantai tiga saya juga harus kuliah di lantai tiga. Yang lain ke lantai empat saya juga harus ke lantai empat. Sama aja,” ucap Meta.

“Tapi ya alhamdulillah temen-temen saya di kelas itu sangat punya rasa kepedulian tinggi, jadi mereka dengan senang hati membantu saya untuk naik turun tangga.”

Kesulitan-kesulitan itu begitu Meta rasakan saat ia masih mahasiswa baru. Seiring berjalannya waktu, ia mulai membiasakan diri dan beradaptasi dengan kondisi-kondisi baru semacam ini. Tahun kedua kuliah, ia mengaku sudah mulai bisa membiasakan diri.

Sebenarnya, mulai tahun kedua kuliah, pihak TU fakultas sudah menyediakan satu kelas untuk ditaruh di lantai satu. Meta dihubungi untuk mengambil kelas yang letaknya di lantai satu itu, dan ia mengiyakan.

Namun, lanjut Meta, ternyata peminat kelas itu selalu tak lebih dari sepuluh orang. Dosen pengajar pun kerap mengeluh dengan mengatakan bahwa, energi yang dipakai untuk mengajar delapan orang dan tiga puluh mahasiswa tak beda jauh. Maka untuk alasan efisiensi, karena mahasiswanya terlampau sedikit, kelas Meta diminta gabung dengan kelas lain yang letaknya di lantai atas.

“Jadi karena saya termasuk yang delapan itu, ya sudah, mau tidak mau ya harus naik to. Tapi it’s ok, karena temen-temen dengan senang hati membantu, ya nggak papa naik turun lagi. Itu menjadi bagian yang akhirnya saya nikmati.”

Meta mengaku, ia baru benar-benar mulai kuliah di lantai satu saat menginjak semester enam. “Jadi dari delapan mata kuliah di semester enam, yang harus ke lantai empat hanya dua mata kuliah,” ucapnya.

Yang Dibutuhkan Difabel Bukan Rasa Kasihan

Ketika pulang ke rumahnya di Kabupaten Pringsewu, Lampung, Meta merasa resah dengan sikap masyarakat yang masih menomorduakan difabel. Masyarakat di sana masih banyak yang menganggap difabel sebagai aib yang harus disembunyikan. Maka, di sana banyak ditemukan difabel yang dikurung di dalam kamar dan tak dibolehkan keluar rumah. 

Perlakuan diskriminatif itu bahkan tak jarang muncul dari keluarganya sendiri. “Jadi oleh keluarganya, mereka [difabel] tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang, apalagi untuk mengakses pendidikan.”

Stigma itu membuat Meta merasa tak mendapatkan rasa aman saat harus bepergian ke ruang publik seorang diri. Maka setiap kali keluar rumah, ia merasa harus selalu bersama salah satu keluarga atau kerabatnya.

“Saya pengen Pringsewu itu nggak harus seratus persen sama kayak Jogja, tapi minimal ketika saya ke Indomaret sendiri, ketika pesen go-car, terus saya jalan sendiri, nggak ada tatapan aneh. Nggak ada tatapan mencurigakan dari orang-orang sekitar. Kemudian, saya dapat driver yang friendly, dan di Indomaret saya dapat pelayanan yang baik seperti saat ke Mirota Jogja, misalnya,” tutur Meta.

“Tapi kan untuk menuju ke sana butuh proses panjang. Karena sekali lagi butuh edukasi, Mas. Butuh pemahaman. Butuh sosialisasi untuk merubah mindset mereka bahwa difabel itu bagian dari masyarakat yang harus diberikan ruang, diberikan kesempatan dan kesetaraan agar mereka bisa menggali potensi diri yang mereka punya, dan menjadikan itu sebagai kelebihan untuk melengkapi kekurangan yang mereka miliki.”

Meta yakin, Tuhan menciptakan semua manusia dengan paket komplit. Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan teman-teman difabel. Kalaupun difabel daksa memiliki kekurangan secara fisik, misalnya, mereka juga pasti memiliki kelebihan di bidang lain.

Dan kelebihan itu hanya bisa digali ketika teman-teman difabel diberikan kesempatan dan ruang yang setara dengan masyarakat yang lain.

Meta melihat semacam pola, jika ada orang yang belum biasa berinteraksi dengan difabel, melihat difabel beraktivitas di ruang publik, maka mereka kerap memandang difabel dengan tatapan kasihan.

“Kasihan, kasihan, kasihan,” lanjut Meta. “Padahal itu nggak perlu. Selagi ruang publiknya aksesibel dan sistem sosialnya mendukung, semuanya nggak jadi kendala buat difabel.”

Meta memberi contoh, bagi difabel daksa pengguna kursi roda sepertinya, keberadaan ramp atau bidang miring di ruang publik menjadi sangat penting, karena mereka sangat kesulitan menggunakan anak tangga berundak ketika harus menuju tempat yang lebih tinggi. 

Jadi, lanjutnya, yang membuat difabel sulit beraktivitas di ruang publik, kerap kali adalah lingkungan dan infrastruktur yang dibangun tanpa memperhatikan keberadaan difabel.

Menjadi Dosen

Sejak kecil, Meta tak pernah bercita-cita untuk menjadi dosen. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Bapak Meta merupakan seorang guru SMA, sedangkan Ibunya mengajar di salah satu SMP di daerahnya.

Dalam benak Meta, ritme kerja Bapak-Ibunya sebagai guru sangat membosankan. Hal ini akhirnya membuat Meta menghindari mengambil jurusan Pendidikan saat mendaftar kuliah.

Maka ketika perjalanan waktu membuatnya menjadi seorang dosen, ia harus melakukan banyak penyesuaian-penyesuaian baru.

“Dengan background pendidikan saya yang sama sekali nggak pernah membahas kurikulum, micro teaching, nggak pernah praktek ngajar, terus tiba-tiba harus ngajar di kelas menghadapi mahasiswa-mahasiswa itu juga tantangan baru.”

Meta menyelesaikan program sarjana di jurusan Tafsir Hadis pada Maret 2015 dan melanjutkan magister Interdisciplinary Islamic Studies konsentrasi Hermeneutika Al-Qur’an pada tahun berikutnya, setelah mencoba mendaftar yang kedua kalinya. Ia resmi meraih gelar Master pada 2021.

Pada tahun yang sama, saat kampus merekrut dosen tetap non-PNS, Meta coba daftar dan lolos menjadi dosen di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Ia mulai mengajar pada Februari 2022, saat kuliah masih dilaksanakan secara daring. Hingga kini, Meta mengaku menikmati profesinya sebagai dosen.

Sejak menjadi dosen pula Meta mulai menggunakan kursi roda. 

“Saya pakai kursi roda ini rekomendasi dari Bu Rektor. Karena kan dulu saya digandeng ke mana-mana, nah dengan status saya sebagai dosen saat ini, kok kayaknya kurang etis kalau saya harus minta tolong mahasiswa untuk antar saya ke sana-sini. Makannya beliau menyarankan saya untuk pakai kursi roda elektrik biar saya bisa mobilitas secara mandiri.” []

Reporter : M. Hasbi Kamil

Editor : Muhammad Rizki Yusrial

 

You may also like

Siasat MIVUBI Memprotes Pemerintah Tanpa Takut Represi Aparat

lpmrhetor.com- Aparat Kota Tangerang langsung menghapus mural wajah