Perlukah Legalisasi Ganja di Indonesia?

Doc. lpmrhetor.com

Status hukum ganja perlu ditinjau kembali, tidak lagi mengacu pada UU tahun 2009.

Isu legalisasi ganja di Indonesia sudah muncul sejak tahun 2007. Legalisasi ini terjadi akibat dari regulasi-regulasi yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah memberikan batasan penggunaan ganja karena dianggap sebagai zat adiktif berbahaya. Maka dari itu, Transasional Institute, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Institut Nasional Indonesia sempat memberikan usulan untuk meninjau kembali status hukum ganja di Indonesia.

Ungkapan senada pernah disampaikan oleh Tomi Hardjatno, ahli narkotika dan konsultan untuk BNN. Tomi menentang pelarangan ganja di Indonesia dengan alasan ganja merupakan bumbu masak yang umumnya digunakan oleh masyarakat Aceh. Tidak hanya Aceh, masyarakat Padang dan Medan juga menggunakan ganja untuk meningkatkan rasa sedap pada masakan.

Di sisi lain, Jusuf Kalla, pada waktu itu masih menjabat sebagai wakil presiden tahun 2007, dikutip dari The Jakarta Post, menentang upaya legalisasi ganja. Namun sebaliknya, ia berpendapat tidak masalah jika ganja digunakan sebagai bumbu masak.

Ketua Lingkar Ganja Nusantara (LGN), Dhira Narayana, dilansir dari bbc.com, mengungkapkan keuntungan yang akan diperoleh bagi pemerintah maupun masyarakat apabila ganja dilegalkan, terutama untuk keperluan industri dan medis.

“Jika ganja legal maka yang memegang kendali adalah pemerintah. Jadi seperti alkohol, ganja bisa dijual dengan syarat tertentu dan pajaknya masuk ke pemerintah,” ungkapnya dalam aksi turun jalan, di Jakarta (6/5/11).

Benarkah legalisasi untuk kebebasan?

Legalisasi ganja sering diartikan sebagai kebebasan masyarakat dalam menggunakan ganja. Hal ini disampaikan oleh Dhira Narayana, dalam acara bedah buku Hikayat Pohon Ganja dengan tema “Pandangan Islam terhadap Isu Legalisasi Ganja” di gedung Convention Hall, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (5/11/19).

“Istilah legal sering diartikan terbebaskan. Kita sering salah kaprah, kan? Sering diartikan kalau dilegalkan semua orang boleh makai dong?” paparnya.

Padahal, menurut Dhira, legalisasi ganja artinya boleh menggunakan ganja, namun tetap berdasarkan aturan, dan  disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Dilegalkan itu diatur dong. Bentuk aturannya seperti apa? Ya kita riset dulu, peraturan itu ya harus berdasarkan kita, kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Dhira juga menyampaikan tentang awal mula pelarangan ganja di Indonesia, dalam catatan sejarah dimulai sejak tahun 1976. Dari larangan tersebut akhirnya muncul istilah ‘penyalahgunaan’ yang masih eksis hingga saat ini.

“Ganja mulai ilegal tahun 1976, kita baca di koran-koran sebelum itu kita gak menemukan istilah penyalahgunaan ganja di Indonesia. Istilah penyalahgunaan baru muncul di Indonesia tahun 1976 dan undang-undang itu diratifikasi,” katanya.

Disinyalir, status ilegal ganja sarat dengan kepentinga politis.

“Selain itu, fatwa haram soal ganja juga muncul di tahun yang sama, sebelumnya belum pernah dibahas, tapi ujug-ujug seperti ada kepentingan untuk membahas,” pungkas Dhira.

Bagaimana seharusnya status hukum dan dampaknya?

Guru besar Antropologi UGM, Irwan Abdullah berpendapat bahwa hukum pembatasan penggunaan ganja dapat diatur dengan hukum yang berbeda. Mengingat masyarakat Indonesia masih khawatir ganja digunakan sebagai zat yang berbahaya.

Anggota DPRD DIY, Syukhron Arif Mutaqqin, yang juga hadir sebagai narasumber menyatakan, sampai hari ini belum ada pembahasan hukum dan undang-undang yang mengarah ke legalisasi ganja. Hukum tentang ganja masih menggunakan UU tahun 2009.

“Sampai hari ini belum dibahas soal itu,” ujar Syukhron.

Selain itu, ungkap Irwan, bahkan ganja dapat menjadi potensi ekonomi yang baik bagi Indonesia.

“Jadi kalau misalkan ganja ini kemudian dikelola dengan baik, di bawah departemen perdagangan, di bawah pemerintah, kemudian ganja ini menjadi potensi besar untuk Indonesia,” tutupnya.[]

Reporter: Kusharditya Albi

Editor: Siti Halida Fitriati

You may also like

Surat Pernyataan Keputusan Bersama Bukan Akhir dari Perjuangan

lpmrhetor.com – Selasa (30/06/2020), puluhan mahasiswa melakukan aksi