Beranda / Artikel / Mengenal Glass, Wartawan Imajiner dari Film Shattered Glass

Mengenal Glass, Wartawan Imajiner dari Film Shattered Glass

Shattered Glass merupakan salah satu film bertema jurnalistik yang diangkat berdasarkan kisah nyata. Film ini dibintangi oleh Hayden Christensen sebagai Stephen Glass, seorang wartawan dari majalah New Republik, salah satu koran terkenal di New York, Amerika Serikat, yang dalam pemberitaannya selalu menitikberatkan pada persoalan politik.

Berkisah tentang permasalah internal New Republik pada tahun 1998 ketika Glass melakukan kerja kewartawanan dengan tidak berdasarkan kode etik jurnalistik. Perilaku Glass dalam film ini penulis sebut sebagai “jurnalisme imajiner” atau dalam film disebut “jurnalisme pendongeng”.

Glass dikisahkan sebagai seorang jurnalis yang cerdas, yang tulisannya selalu menarik pembaca dan tetap bertahan pada pekerjaannya meski dengan gaji kecil. Glass menyukai pekerjaannya, ia membayangkan kelak tulisannya akan dibaca oleh orang-orang terkenal seperti presiden.

Menurut Glass, banyak wartawan yang menganggap persoalan politik akan selalu menjadi berita yang menarik, namun Glass memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, cerita yang menarik adalah cerita tentang orang-orang yang kita temui. Bagi Glass, jurnalisme adalah seni memahami tingkah laku manusia.

Oleh karena itu, untuk menjadi seorang jurnalis, kita harus tahu untuk siapa kita menulis, dan juga mengetahui apa kelebihan kita. Seorang penulis harus menjadi pembaca untuk tulisannya sendiri, dengan begitu pembaca akan merasa seakan tulisan itu adalah tentang dirinya.

Glass pernah menulis sebuah artikel tentang partisipasinya dalam sebuah rapat Partai Republik, lalu suatu saat sang editor Michael Kelly, menemukan ada beberapa fakta yang tidak sesuai pada artikel tersebut. Namun Glass mengklaim bahwa dirinya hanya keliru dalam melaporkan apa yang terjadi, bukannya sengaja.

Dalam hal ini Glass sebagai seorang watawan tidak mengedepankan etika jurnalistik dimana seorang wartawan tidak boleh menyiarkan berita bohong dan menyesatkan. Patutnya, seorang wartawan juga tidak boleh berasumsi, mengada-ada atau  berimajinasi terhadap suatu hal. Tujuan utama seorang wartawan ialah menyajikan informasi kepada masyarakat, bukan untuk membodohi pembaca dengan kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh wartawan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Glass, ketika ia mencoba memberitakan tentang pertemuan hacker nasional, penonton seolah-olah dibawa terjun ke dalam imajinasi Glass seakan-akan kejadian tersebut benar dan nyata.

Tidak hanya tulisan tentang hacker terebut yang mengandung unsur kebohongan, ternyata sebagian besar dari tulisan Glass merupakan hasil karangan, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tepat di bulan Juli New Republik mencetak permohonan maaf kepada para pembacanya mengakui bahwa 27 dari 41 tulisan karya Stephen Glass merupakan rekayasa dan sepenuhnya hasil karangan.

Mengedepankan imajinasi, mengada-adakan sesuatu dalam penulisan berita jelas merupakan suatu hal yang tidak dapat dibenarkan dan itu merupakan kesalahan fatal bagi seorang wartawan. Berita bersumber atas data di lapangan, kendati demikian cek fakta perlu dilakukan.

Sebagai seorang jurnalis mengedepankan kebenaran dan disiplin verifikasi menjadi suatu hal yang utama dilakukan dan itu telah tertuang dalam elemen-elemen jurnalisme. Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep verifikasi, bahwa seorang wartawan tidak boleh menambah atau mengarang apa pun dalam pemberitaanya, tidak menipu bahkan menyesatkan pembaca, bersikap transparan dan jujur dalam melakukan reportase, bersandar pada reportase diri sendiri artinya data yang didapatkan bersumber langsung dari reportase yang didapatkan di lapangan jika pun bersumber dari orang lain maka segera untuk melakukan verifikasi data, dan yang utama ialah bersikap rendah hati.

Berimajinasi memang tidak ada salahnya namun perlu diketahui hal itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan yang berbeda. Seperti halnya Glass, melalui kesalahannya ia telah mengetahui kelebihan dirinya, oleh karena itu bagi seorang yang suka berimajinasi atau pun mendongeng, sepertinya menjadi seorang novelis adalah suatu pilihan yang tepat. Satu ungkapan dari Glass, “Kau harus tahu siapa pembacamu dan kau harus tahu apa kelebihanmu”.[]

 

 

 Siti Halida Fitriati adalah Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *