Semangat Feminisme di Indonesia, Padam atau Membara?

Sumber: akun instagram pribadi @amaliyahherdianti, women march 2019
Apakah kalian pernah mendengar nama R.A Sutartinah, R.A Sri Sulandari, dan Nyi Siti Sukaptinah? Mungkin nama-nama tersebut asing di telinga kita. Jujur, awalnya aku juga tidak mengenal nama-nama tersebut. Bahkan selama 9 tahun aku bersekolah, tidak pernah menemukan nama-nama itu di buku pelajaran.

Belum lama aku ketahui nama-nama perempuan yang disebut di atas ialah tokoh penting dalam sekolah Taman Siswa. R.A Kartini misalnya. Sosok perempuan yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi tersebut memulai pergerakannya dengan melahirkan kitab yang cukup fenomenal di abad 20-an. Penerbitan surat menyurat pribadi Raden Ajeng Kartini dengan sahabat penanya, berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah terang, pada 1911.

Selain itu, ia sangat dikenal dengan jargon “emansipasi wanita” yang tak henti-hentinya digalakkan. Bahkan menjadi batu loncatan perjuangan kesetaraan gender perempuan-perempuan Indonesia dalam kanca pendidikan, politik, dan lain sebagainya.

Namun, Peranan perempuan dalam sejarah kemajuan bangsa Indonesia ini akankah selalu kita ingat? Sementara perjuangan yang ditinggalkan oleh R.A Kartini akan kesetaraan tersebut belum sepenuhnya terlihat eksistensinya di dalam masyarakat Indonesia. Masih ada sekat kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

Isu Feminisme Masih Menjadi Perbincangan

Isu terkait feminisme masih sering menjadi perbincangan dan wacana di ruang-ruang diskusi maupun di kalangan masyarakat umum. Sementara itu, tidak sedikit pula tulisan yang secara khusus membahas feminisme dari berbagai aspek. Dan tidak jarang yang menyinggung lebih dalam akan kesetaraan gender.

Awalnya aku merasa kurang setuju dengan kesetaraan yang mana seorang perempuan mengambil peran seorang laki-laki. Karena dalam pandangan agamaku, yang aku simpulkan sendiri bahwa laki-laki lebih dari perempuan dan laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.

Cara pandangku mengenai itu agaknya goyah ketika aku membaca suatu kutipan, “kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan.”

Aku temui seorang teman yang aktif dalam pergulatan feminisme ini. Dia seorang laki-laki, tapi dia tergabung dalam perkumpulan yang menamai diri mereka Lawan Patriarki. Wah cukup menarik, pikirku. Aku sedikit bertanya-tanya kepadanya.

Ia mengatakan “Kami (perkumpulan) di sini menyatukan visi yang sama yaitu melawan patriarki juga keresahaan yang sama di mana perempuan masih dianggap sebagai manusia kelas ke-dua yang dianggap lemah dan sering ditindas.” Perkataan itu cukup menarik menurutku.

Dominasi Laki-laki Terhadap Perempuan

Saat mendengar beberapa statement dan anggapan yang menyinggung eksistensi perempuan di kalangan masyarakat, tidak jarang ditemui suatu keganjalan. Anggapan bahwa laki-laki ditempatkan pada posisi superior dibanding perempuan merupakan problem yang membutuhkan perhatian khusus.

Kita sebagai laki-laki memang harus melindungi perempuan, tapi tidak menghilangkan esensi bahwa perempuan juga manusia yang sama dan punya hak. Dapat aku katakan dan kamu mungkin juga merasakannya bahwa dalam bermasyarakat di Indonesia kedudukan seorang perempuan memang benar seperti manusia kelas ke-dua setelah laki-laki.

Dominasi peran laki-laki dalam kehidupan mulai dari pemilihan seorang pemimpin sampai dalam kehidupan keluarga terdekat masih sangat mendominasi. Maksud setara yang aku pahami adalah bukan menjadikan perempuan untuk sama dengan laki-laki, melainkan perempuan mendapatkan posisi yang sama dengan laki-laki.

Contohnya seperti perempuan yang mempunyai daya, pengetahuan, juga rekam jejaknya lebih dari para laki-laki dalam suatu organisasi misalnya, perempuan itu boleh “menghajar” stigma pemimpin yang mengharuskan laki-laki tersebut, perempuan bisa menjadi pemimpin.

Tapi, memang harus diakui stigma pemimpin haruslah laki-laki masih ada di Indonesia. Meski stigma itu telah dipatahkan oleh Megawati Soekarnoputri yang menjadi Presiden pada tahun 2001 silam. Tapi, stigma itu seakan mengakar dan tumbuh kembali dalam kehidupan sosial di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesia seorang perempuan selalu hanya dipandang dari segi cantik tidaknya. Juga tidak sedikit yang memandang perempuan sebagai makhluk lemah dan tak berdaya, kenapa selalu demikian? Mungkin saja perempuan seperti seekor singa di dalam dunia persirkusan. Pahamilah itu!

Perjuangan Feminisme

“Gerakan yang menuntut kesetaraan dan keadilan hak dengan pria” yang dikenal dengan istilah Feminisme. Feminisme berasal dari bahasa latin, femina yang berarti perempuan. Istilah feminisme mulai marak digunakan pada tahun 1890-an.

Diketahui dalam sejarah gerakan feminis sudah dimulai sejak abad ke-18 melalui tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Right of Woman yang isinya menyuarakan persamaan hak politik bagi perempuan terhadap Revolusi Perancis.

Di Indonesia satu abad setelah Revolusi Perancis, hadirlah R.A Kartini yang mengkritik keadaan perempuan Jawa yang tidak diberikan pendidikan setara dengan laki-laki. Sehingga R.A Kartini sendiri membangun sekolah untuk para perempuan, juga untuk semua golongan sosial tidak hanya untuk golongan bangsawan.

Mengenai R.A Kartini, aku mengenal nama pahlawan itu di Sekolah Dasar. Sejak itu aku belum persis mengetahui perjuangannya tentang apa. Beranjak akil baligh, aku mulai mengetahui jasa R.A Kartini yang namanya tersohor di Indonesia. Sampai-sampai 21 April diperingati dengan Hari Kartini.

“Perempuan adalah makhluk lemah yang tidak bisa megemban peran laki-laki,” seharusnya anggapan itu sudah kita buang. Coba lihat kembali perjuangan R.A Kartini yang mengangkat nama kaum perempuan di Indonesia ini. Menurutku untuk semakin mensukseskan perjuangan kesetaraan gender ini, penting sekali dimulai dengan kesadaran dari para laki-laki pula.

Kesadaran dari kaum laki-laki sangatlah penting. Keterbukaan laki-laki dalam menerima dan menganggap perempuan bukan makhluk yang lemah adalah kunci. Juga seorang laki-lakilah yang berjuang untuk melepaskan rantai yang membelenggu gerak kaum perempuan.

Feminisme dan Milenial

Perjuangan perempuan telah terekam dalam sejarah yang mengalir dalam darah para milenial. Tapi darah semangat perjuang tersebut sama dengan jaman dulu. Feminisme telah menjadi acuan sebagai penerang kesetaraan gender. Milenial di jaman sekarang harusnya sadar akan “rantai” yang masih membelenggu para perempuan. Yang tidak hanya sekedar memperingati tanggal tentang feminisme pada kalender.

8 Maret sekarang dikenal dengan International Women’s Day. Pada sejarahnya di tahun 1917, 8 Maret mula-mula dijadikan hari libur nasional di Rusia setelah kesuksesan perjuangan perempuan di sana untuk memperoleh hak pilih. Di Indonesia? Ada Hari Kartini untuk memperingati perjuangan feminisme pada 21 April.

Kedua hari tentang memperingati dan mengenang peran serta perjuangan perempuan masih kita lewati setiap tahun di era milenial ini. Tapi, apakah semangat itu ada di darah milenial? Apa hanya menjadi tanggal merah yang disenangi para siswa?

Pada 21 Oktober 2019 aku diajak seorang teman untuk mengikuti pertemuan sebuah perkumpulan yang menamai diri mereka Lawan Patriarki Yogyakarta. Sebelum aku memutuskan untuk berangkat ke acara tersebut. Aku melihat posternya yang berwarna merah muda bertuliskan “Lawan Patriarki” lalu terbesit dalam benakku bahwa perjuangan akan kesetaraan gender masih berlanjut.

Tidak hanya di Jogja, aku dapati postingan di media sosial bersangkutan dengan seruan feminisme di berbagai daerah Indonesia. Membuktikan bahwa semangat perjuangan para perempuan akan kesetaraan gender di Indonesia tidaklah mati. Semangat perjuangan R.A Kartini sebagian masih dalam darah para milenial di Indonesia.

Semangat warisan perjuangan feminisme dari para pendahulu masih diperjuangan oleh para milenial. Berawal dari kasus “penindasan” terhadap perempuan, tidak sendikit yang membela ketika ada pelecehan atau kekerasan terhadap perempuan. Itu bisa menjadi kesadaran awal terhadap feminisme.

Itu yang aku lihat, mereka barulah peduli ketika kaumnya “ditindas” oleh kaum laki-laki. Tidak masalah, kesadaran itu bebas bisa dirasakan dengan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Tangkaplah kesadaran akan hal itu, kita semua sama dihadapan Tuhan.[]

 

 

 

Eko Wahyudi, Wartawan magang LPM Rhetor dan Mahasiwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,