Praktik Nepotisme di UMKM Batik Tanjungbumi

sumber: infobatik.id

lpmrhetor.com – Salah satu penggerak perekonomian masyarakat di Kabupaten Bangkalan adalah industri batik. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi kebanggaan Kabupaten Bangkalan ini banyak tersebar di Kecamatan Tanjungbumi. Hal ini seperti yang dituliskan oleh Achmad Marzuki dalam jurnalnya Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam Peningkatan Perekonomian Lokal, (2011).

Ketika diwawancarai mengenai hasil penelitiannya tentang batik Tanjungbumi, Difla Royhani, Mahasiswi UNESA mengatakan bahwa daya tarik batik Tanjungbumi terletak pada motif dan pewarnaannya yang khas, Jum’at (05/07).

“Motif batiknya berbeda dengan batik Jawa, karena memang itu berasal dari inisiatif pengrajinnya sendiri, pewarnaannya juga khas, menggunakan warna-warna yang tegas, dan menggambarkan karakter pengrajinnya yang merupakan rakyat pesisir,” ungkapnya.

Difla menambahkan bahwa sebelum dijadikan sebagai sumber pendapatan, para ibu-ibu menjadikan kegiatan membatik sebagai pengisi waktu luang sembari menunggu kedatangan suaminya berlayar.

“Sembari menunggu suaminya datang berlayar, mereka berinisiatif. Awalnya itu hanya gambar-gambar biasa di kain, yang digambar itu motifnya binatang laut. Kemudian lambat laun mereka berinisiatif mulai menggambar menggunakan malam. Seiring perkembangan zaman, batik mereka itu laku dijual dan semakin berkembang menjadi sumber pendapatan ibu-ibu disini,” jelas Difla.

Dalam jurnalnya, Achmad Marzuki juga menuliskan meski batik Tanjungbumi sudah menjadi usaha sejak lama, namun, kenyataannya masih sulit berkembang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya hubungan baik antara pemerintah dengan pengrajin industri kecil. Hubungan yang aktif terjalin hanya pemerintah dengan pengusaha besar yang telah menghasilkan banyak produk. Selain itu praktik nepotisme juga menyebabkan tidak meratanya pemberian pelatihan dan pemberian bantuan, serta meresahkan para pengrajin kecil.

Salah seorang pengrajin kecil, Hasilah turut mengiyakan tulisan Achmad, menurutnya pelatihan tersebut hanya diikuti oleh orang-orang terdekat dari pengurus Unit Pelayanan Teknologi (UPT) batik Tanjungbumi.

“Tidak pernah diajak ikut pelatihan, kan hanya orang tertentu yang diajak hanya saudara-saudaranya. Intinya nepotisme, kalau orang dekatnya baru diajak,” ujar Hasilah.

Benarkah pelatihan hanya untuk orang-orang tertentu?

Pada tahun 1979, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (PERINDANG) membangun Unit Pelaksana Teknis di Kecamatan Tanjungbumi untuk memberikan pembinaan kepada para pengrajin batik. Kepala UPT batik Tanjungbumi, Mesrawi pun mengatakan bahwa pembinaan telah dilakukan setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun.

“Pembinaan itu dilakukan dengan cara memberikan pelatihan ke Jogja, Pekalongan. Setiap tahun rata-rata satu kali dua kali saya mengirim,” ungkapnya, Jum’at (28/06).

Meskipun pihak UPT Batik kerap mengadakan pelatihan, namun banyak pengrajin kecil justru mengaku tidak mengikuti pelatihan tersebut.

Selain Hasilah, hal ini juga dialami oleh Maisun. Ia mengatakan bahwa pelatihan tersebut hanya untuk orang-orang tertentu, bukan untuk pengrajin kecil sepertinya.

“Itu untuk orang tertentu saja, kan itu undangan. Saya tidak pernah ikut karena tidak pernah di undang,” aku Maisun.

Ketika ditanya tentang kriteria peserta pelatihan, Masrawi mengungkapkan bahwa tidak ada proses pemilihan peserta pelatihan secara khusus, ia hanya memandang orang yang sekiranya bisa dan mau mengembangkan batik.

“Ya, karena saya asli orang sini, ya cukup memandang siapa yang bisa mengembangkan dan ingin mengembangkan batik,” jelasnya.

Satima, salah satu pengrajin yang pernah mengikuti pelatihan juga membenarkan adanya praktik nepotisme. Berdasarkan pemaparannya, Mesrawi selaku kepala UPT batik menunjuk satu pengrajin besar di setiap desa, dan memasrahkan kepada pengrajin tersebut untuk mengajak orang-orang yang akan mengikuti pelatihan.

“Pak Mesrawi itu menyerahkan ke M [nama asli disamarkan-red], nanti M yang ngajak orang-orang, ya yang diajak itu kadang saudara-saudara jauhnya, kadang dari teman ke teman itu diajak. Saya teman dengan dia, jadi diajak,” ungkapnya.

Bantuan perlengkapan hanya iming-iming bagi pengrajin kecil.

Tak hanya persoalan pelatihan yang diikuti oleh orang-orang tertentu. Bantuan perlengkapan membatik, seperti malam, canting, kain mori, dan kompor pun mengalami persoalan serupa.

Maisun kembali bercerita. Ia mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan melalui UPT Batik Tanjungbumi hanya diberikan kepada pengusaha batik yang usahanya sudah besar dan mampu memproduksi banyak batik dalam waktu cukup singkat. Sementara pengrajin kecil yang membutuhkan bantuan justru tidak pernah mendapatkannya.

“Iya biasanya memang dapat seperti malam, kompor, tapi saya tidak pernah dapat, hanya dikasih ke pengusaha-pengusaha yang mampu,” paparnya.

Wartawan lpmrhetor.com pun mengkonfirmasi kepada Masrawi. Dari keterangannya, Masrawi lagi-lagi memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa penerima bantuan.

“Kan nanti saya yang memilih, pernah saya memilih 30 orang, lengkap dapat itu semua,” terangnya.

Kekecewaan pun tak hanya dialami oleh Maisun, janji-janji memperoleh bantuan juga dirasakan oleh Hasilah. Ia bercerita bahwa telah mengikuti proses pengajuan bantuan, namun hingga saat ini tak kunjung mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun.

“Cuma janji-janji saja. Dulu pernah diwawancara, namanya direkap, dicatat, disuruh menunjukkan KTP juga. Tapi ujung-ujungnya nggak dapat apa-apa. Katanya bakalan dapat malam, dapat kain mori, ternyata tidak dapat apa-apa, gak tau lari kemana bantuan itu, sampai sekarang tidak ada juga,” jelas Hasilah.

Pemberian informasi bantuan tidak dilakukan secara masif.

Informasi mengenai pelatihan, bantuan peralatan, dan tata cara mendapatkan pinjaman modal usaha tidak terbagi rata kepada pengrajin batik Tanjungbumi. Hal ini terbukti dari pengakuan beberapa pengrajin batik. Nia Aprilianti salah satunya. Ia mengaku tidak tahu menahu bagaimana proses mengajukan pinjaman modal usaha ke pemerintah.

“Tidak mengajukan pinjaman modal, ya karena tidak tau cara mengajukannya, tidak paham, juga tidak pernah ada informasi atau pemberitahuan dari pihak UPT terkait cara peminjaman modal,” ungkap Nia.

Mesrawi pun mengakui tidak ada sosialisasi dan informasi dari pihak UPT Batik tentang proses mengajukan dana bantuan secara langsung. Seolah tak ingin bersusah payah memberi sosialisasi, Masrawi berujar itu kepentingan pengrajin sendiri untuk mencari tahu tata cara pengajuan bantuan peminjaman modal.

“Itu dari mulut ke mulut. Kalau mendengar si itu dapat bantuan, ya, cari tahu sendiri bagaimana caranya,” jelas Mesrawi.

Mesrawi juga menambahkan bahwa siapa saja bisa mendapat bantuan, tergantung lincah atau tidak si pengrajin.

“Pengusaha kalau mau mengajukan bantuan pasti dapat, tergantung orangnya, kalau orangnya lincah, bisa mencari pemasaran dan bantuan,” ungkapnya.

Rumitnya alur peminjaman modal usaha dan tidak adanya sosialisasi membuat pengrajin batik lebih nyaman untuk menggunakan modal mereka sendiri. Seperti yang diakui oleh Satima.

“Cara-caranya itu ribet, saya kalau masih punya modal sendiri juga takut untuk mengambil pinjaman-pinjaman seperti itu,” pungkasnya. []

Reporter: Halimatus Sakdiyah E.M

Editor: Isti Yuliana

You may also like

UMS: Upaya Meningkatkan Taraf Hidup Pekerja

Upah buruh rendah, serikat pekerja diminta untuk terus