Aksi Vandalisme, Potret Persoalan UKT yang Belum Usai

lpmrhetor.com – Jumat (15/03). Aksi vandalisme kembali terjadi. Dinding gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menjadi sasaran coretan yang bermuatan protes terkait mahalnya Uang Kuliah Tunggal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tepat di depan pintu masuk FEBI terpampang coretan hitam yang bertuliskan “UKT-MU MAHAL tapi Lu diem aja GOBLOK”.


Coretan serupa juga ditemukan pada lantai dua gedung Fakkultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Sontak, coretan-coretan tersebut pun mengundang perhatian para sivitas akademika. Mengingat, aksi tersebut menyuarakan keresahan mahasiswa dengan persoalan UKT yang sejak dulu tidak ada habisnya.


Pada tahun ajaran 2018/2019 saja, UKT tertinggi mencapai angka Rp 7.500.000 golongan tujuh untuk prodi Managemen Keuangan Syariah, FEBI.


Nadia, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, terang-terangan mendukung adanya aksi tersebut.


“Mendukung, sangat sangat mendukung dengan aksi itu. Orangnya berani. Walaupun kata orang mentang-mentang gedung bagus, fasilitas bagus, tapikan itu bukan dari uang UKT gedungnya,” ungkapnya.


Selain Nadia, salah satu mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya juga mendukung adanya aksi tersebut.


“Setuju, karena kuliah yang di sini bukan orang kaya semua, jadi beban buat orang tuanya, terlebih yang banyak tanggungannya.”

Fakta UKT yang terus mengalami kenaikan tiap tahun menjadi momok yang sering dikeluhkan kalangan mahasiswa. Seperti yang dialami Ahmad Albab Nuriya, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, mengaku alasan awal ia memilih masuk UIN Sunan Kalijaga karena pengakuan salah seorang kakak kelasnya. Ketika ia masih berada di bangku SMA, UIN Sunan Kalijaga termasuk kampus yang toleran akan biaya pendidikan, salah satunya dengan tidak menerapkan sistem UKT. Akan tetapi, setelah masuk menjadi mahasiswa UIN, fakta yang didapatinya berbanding terbalik. Justru ia mendapatkan UKT golongan tertinggi.


“Kenapa saya ngebet masuk UIN karena dulu kakak kelas saya bilang bahwasanya UIN itu ya enam ratus, bukan UKT si ya, satu semester itulah.” ungkapnya.

Ditambah lagi dengan UIN yang berstatus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), yang setidaknya mendapatkan dana subsidi dari pemerintah seharusnya tidak mematok UKT yang tinggi bagi mahasiswanya.


“UKT tertinggi yo jangan lima juta, saya dapet UKT tertinggi, apalagi UIN Sunan Kalijaga udah negeri dan sudah ada subsidi dari pemerintah, seharusnya ukt tertinggi yo jangan segitu lah, bukan hanya saya kok yang keberatan,” tambahnya.

Di sisi lain ada juga pihak yang keberatan terkait aksi tersebut. Salah satu mahasiswa berpendapat bahwa apapun motif pelaku, corat-coret atau vandalisme bukanlah cara yang benar untuk menyuarakan aspirasi.


“Banyak yang bilang mungkin dia sudah resah atau karena ingin menyampaikan, ataupun tidak mendapatkan fasilitas tertentu, kita kan tidak tahu. Terlepas dari motivasinya apa caranya tetep salah. Sekarang juga sudah dihapus, kan,” papar mahasiswa FEBI yang tidak ingin disebutkan namanya.


Setelah dikonfirmasi oleh pihak keamanan, sampai saat ini pelaku belum diketahui, karena tidak adanya CCTV di sekitar tempat kejadian. Pada hari kejadian, coretan yang terpampang di gedung FEBI dan FDK langsung di cat kembali oleh petugas.[]


Reporter: Lutfiana Rizki S. & Dian Pratiwi

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Pentas Teater SABA: Perkawinan Sejarah dan Kesenian yang Melahirkan Kritik

lpmrhetor.com – “Apakah setelah kelir ditutup, penonton akan