Menjadi Penyair di Era Digital

Doc: Instagram

lpmrhetor.com – Menulis puisi menjadi sesuatu yang instan di era digital ini. Sebab, orang berlomba-lomba untuk mempublikasikan tulisan mereka ke media sosial. Hal ini disampaikan Theoresia Rumthe sebagai salah satu narasumber dalam sebuah diskusi dengan judul “Berpuisi di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Patjar Merah, di Jl.Gedong Kuning, Kota Gede, Yogyakarta, pada Kamis (7/3).

“Yang membedakan menulis puisi sekarang dan dulu adalah faktor buru-buru. Kalau saya perhatikan, sekarang kita menjadi orang-orang yang tidak sabaran untuk mengendapkan semua proses menulis.”

Menurut Theoresia yang membedakan penulis puisi pada zaman dulu dan sekarang adalah penggunaan proses pengendapan ide. Yang kemudian ide itu ditulis. Setelah tulisan itu selesai. Penulis harus melakukan pembacaan ulang sebelum mempublikasikan karya mereka.

“Ada pengendapan bisa yang dilakukan. Dan itu saya pikir salah satu yang terjadi yang membedakan kita dengan zaman dulu dan zaman digital, dan mungkin yang perlu ditangani adalah proses sebelum memposting segala sesuatu adalah pengendapan. Bagaimana belajar untuk tidak terburu-buru, dan membaca karya kita berulang-ulang,” ujar penulis yang akrab dipanggil Theo.

Menurutnya, menulis puisi digital hanya untuk menunjukkan eksistensi di media sosial. Orang terlalu terburu-buru tanpa menikmati proses. Dan terlalu cepat mengharapkan atensi di media sosial.

“Terlalu ngebet gitu untuk dapat likes, untuk dapat love, untuk dapat repost. Itu bikin kita jadi dimanipulasi oleh karya kita sendiri. Menurut saya yang paling penting adalah penulis bertanggung jawab mengecek ulang karya-karyanya,” pungkasnya.

Berbeda dengan Adimas Immanuel yang juga menjadi narasumber, ia menganggap bahwa zaman digital ini sebuah kemajuan. Menurutnya penulis zaman dulu hanya memiliki media cetak sebagai sarana publikasi karya mereka. Sedangkan penulis pada zaman sekarang mempunyai banyak media untuk mempublikasikan karya mereka.

“Dulu kenapa orang harus menulis ke media cetak karena mereka tidak punya kanal distribusi selain media cetak tersebut. Sementara temen-temen yang lahir di tahun 2000 ke sini punya privilege itu, punya kemandirian. Anda punya pikiran anda, punya sesuatu yang ingin dituliskan anda bisa langsung mengirim ke instagram, twitter. Justru itu sebuah kemajuan,” papar Adimas[]

Reporter: Khusharditya Albi

Editor: Ina Nurhayati

You may also like

Aksi Vandalisme, Potret Persoalan UKT yang Belum Usai

lpmrhetor.com – Jumat (15/03). Aksi vandalisme kembali terjadi.