Persiapan Aksi Peringatan IWD 2019 di Yogyakarta

Poster-Poster tuntutan saat IWD 2019 (8/3/19). Dok. Rhetor/Alfan.

lpmrhetor.comGuna menyambut peringatan International Women’s Day 2019 (IWD), Aliansi Panitia Bersama International Women’s Day (IWD) 2019 Jogja mengadakan agenda membuat poster tuntutan bersama. Agenda ini dilaksanakan di selasar gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada Kamis (7/3/19).

Kegiatan ini merupakan persiapan akhir menjelang aksi IWD yang digelar sehari setelahnya. Pembuatan poster tuntutan bersama ini dilakukan dalam rangka mewadahi dan membantu para relawan untuk saling bertukar pikiran dalam merepresentasikan kegelisahannya lewat sebuah tulisan yang nantinya akan menjadi banner tuntutan.

Adapun tuntutan-tuntutan yang akan disuarakan pada aksi tersebut antara lain, “Segera Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,” “Hancurkan Kapitalisme,” dan “Lawan Patriarki dan Seksisme.” Tuntutan ini merupakan hasil dari konsolidasi terbuka yang telah dilakukan pada 3 dan 5 Maret 2019.

Selain agenda tersebut, pihak panitia bersama juga telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka menyambut IWD 2019. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Irfan Pradana, panitia IWD.

“Kepentingannya adalah menyebarkan gagasan, menghimpun sembari menyebarkan gagasan. Tapi, yang paling penting adalah menyebarkan gagasan,” katanya.

Soal massa, pada IWD tahun ini, Yogyakarta telah mengumpulkan setidaknya puluhan elemen dengan 140 individu volunteer yang siap terjun langsung saat pelaksanaan aksi. Panitia sendiri membuka pendaftaran secara terbuka dengan beberapa syarat, di antaranya, bersikap demokratis, tidak seksis, dan tidak fasis.

“Memang dibatasi. Semua orang boleh terlibat asalkan dia demokratis, tidak seksis, dan tidak fasis. Itu syaratnya untuk bergabung di aksi besok,” kata Irfan lagi.

Walau begitu, menurut Irfan, tersampaikannya pesan mengenai problem-problem berbasis gender lebih dikedepankan ketimbang jumlah peserta yang berpartisipasi.

“Seberapapun besar massanya, kalaupun ketika nanti pesannya tidak sampai, banyak masyarakat yang masih bertanya-tanya, berarti ada yang salah,” tutup Irfan.[]

Reporter: Khusnul Khotimah

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Persoalan Kompleks Disabilitas, Masihkah Kita Tutup Mata?

lpmrhetor.com – Apa yang lebih membuat kita bersyukur