Menggapai Keindahan Melalui Pernikahan yang Berkeadilan

247
dok/lpmrhetor/alifia

lpmrhetor.com- “Keputusan apapun itu di dalam hidup harus menjadi wasilah untuk bisa bermanfaat seluas-luasnya sebagai pembuktian atas komitmen tauhid, termasuk dalam pernikahan,” ucap Nur Rofiah, Dosen Institut PTIQ Jakarta dalam acara bincang buku yang berjudul Justice and Beauty in Muslim Marriage: Towards Egalitarian Ethic and Laws

Acara ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan pada perhelatan Konferensi Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang dilaksanakan di Gedung Rektorat lantai 4 UIN Walisongo Semarang. Rabu, (23/11/2022). 

Menurut Nur Rofiah, pemahaman masyarakat yang masih bertumpu pada hukum klasik akan model pernikahan, masih bernuansa patriarkis. Pasalnya, tafsir surat An-Nisa:34 kerap kali disalahartikan. Ayat tersebut diasumsikan bahwa Allah memosisikan laki-laki (suami) sebagai makhluk yang lebih tinggi derajatnya daripada perempuan (istri). 

Sehingga, perempuan harus tunduk patuh kepada laki-laki. Padahal, seharusnya pernikahan adalah bentuk kemitraan antara laki-laki dan perempuan. Ia juga menyampaikan bahwa untuk memiliki nilai diri, perempuan harus punya prinsip keadilan. 

“Dalam Islam perempuan bisa mendapatkan warisan dan bisa memberi warisan. Kita harus berprinsip keadilan. Karena nilai diri kita ditentukan dari sikap adil kita. Menjadi mulia itu taqwa dan menjadi taqwa itu ialah harus adil,” ujar Nur Rofiah dalam pembicaraannya.

Buku Justice and Beauty in Islamic Marriage: Towards Egalitarian Ethic and Laws disusun berdasarkan hasil riset terkait kehidupan berkeluarga zaman modern. Seperti judulnya, isi dari buku tersebut itu membahas seputar pernikahan dalam Islam yang bertumpu pada prinsip keadilan adalah suatu bentuk keindahan. Adil yang dimaksud adalah antara suami dan istri tidak ada yang merasa tersakiti.

Acara bincang buku tentang pernikahan ini selaras dengan lima isu aktual yang telah dibicarakan oleh komunitas jaringan KUPI. Salah satu dari kelima isu aktual tersebut adalah perlindungan perempuan dari bahaya pemaksaan perkawinan

Menurut Rof’ah, salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga, KUPI  memberikan suatu tonggak sejarah gerakan perempuan Indonesia yang cukup penting. Keberadaan KUPI sebagai gerakan muslim ini memberikan implikasi yang sangat banyak, laiknya memberikan benih untuk ladang subur bagi gerakan perempuan di Indonesia. Termasuk di ranah perkawinan.

“Bagaimana ulama perempuan untuk berekspresi, merumuskan ide pikiran dari berbagai daerah bahkan berbagai dunia juga penting karena selama ini perempuan itu dianggap tidak punya suara. Maka dengan adanya konferensi ini, menunjukkan ini loh suara perempuan,” pungkasnya. []

Reporter: Alifia Maharani (Magang)

Editor: Hifzha Aulia Azka

You may also like

Dugaan Kecurangan Sistematis pada Pemilwa FDK 2022

Saat Pemilwa berlangsung, informan kami mengirimkan sebuah screenshot