Perempuan dalam Kekangan Budaya Patriarki

lpm rhetorrctiplus.com
K enapa perempuan yang mengeksistensikan dirinya di media sosial disebut menyebarkan fitnah? Bagaimana dengan foto ustaz-ustaz yang terpampang gagah di media sosial, dan dikagumi oleh banyak perempuan karena katampanannya dan terpikat oleh penampilannya? Pernahkah menanyakan ini kepada diri sendiri sebelum nge-judge perempuan adalah sumber fitnah?

Pernyataan aneh “perempuan adalah sumber fitnah” sering saya dapatkan dalam ceramah ataupun talkshow yang semua penceramahnya adalah laki-laki. Jika perempuan yang eksis di media sosial diklaim mendapatkan dosa jariah, bagaimana dengan foto dai-dai yang disimpan oleh jamaah perempuan dan mengaguminya setiap hari? Tidak pernah ada satu ceramah pun yang mengatakan para dai  itu berpotensi memiliki dosa jariah. Bukan begitu?

Selain pernyataaan aneh di atas, ada lagi pernyataan ngawur yang seolah-olah ingin menaikkan derajat perempuan berkerudung. Padahal, justru meminggirkan peran perempuan. Seperti yang tertulis dalam selebaran yang dibagikan panitia saat saya mengikuti acara talkshow bertema “Wajah Perempuan dalam Organisasi”.

Perempuan kerap kali diibaratkan sebagai barang. Seperti, perempuan yang memakai jilbab itu mulia bagaikan permen lolipop yang terbungkus sehingga tidak dikerubuti lalat. Ustaz lain berkata, perempuan mulia itu seperti pisang goreng yang dijual di etalase toko mahal, bukan seperti pisang goreng pinggir jalan. Atau perempuan mulia tidak seperti buah di pinggir jalan yang bebas dipegang-pegang siapa saja.

Ungkapan itu melupakan satu hal, yaitu perempuan adalah manusia, bukan barang, ia bisa menimbang baik dan buruk, memiliki akal untuk memilih, tidak bisa dipegang seenaknya, dan yang pasti tidak bisa dikerubungi lalat begitu saja.

Kalis (2019: 38) menyebutkan, jika jilbab adalah konsekuensi penghambaan muslimah, mulai dari suara, gerak-gerik tubuh, dan segala aktifitas yang ia perbuat, maka perempuan akan percaya bahwa tafsir agama tak mengizinkan ia menjadi pemimpin yang nilainya setara dengan laki-laki, dan bukanlah penentu keputusan. Pernyataan “perempuan tidak boleh bersuara keras” bukanlah tafsir agama. Kita sering mencampurkan antara budaya dan ajaran. Pernyataan di atas merupakan budaya yang dilanggengkan masyarakat dan sudah mendarah daging, sehingga diyakini bahwa budaya adalah ajaran Islam yang harus dilakukan.

Terlalu remeh menyetarakan kesalehan dengan selembar kain tipis di kepala. Pelajaran kebaikan seperti keikhlasan, tawakal, qanaah, dan pelajaran kebaikan lainnya, lebih cenderung melibatkan pergulatan batin yang berlipat kali lebih rumit dari sekadar kain (Kalis, 2019: 12).

Perempuan, dengan segala konstruksi sosial yang terbentuk di masyarakat, mulai dari pemisahan kerja antara laki-laki dan perempuan hingga pengekangan terhadap perempuan yang tidak boleh keluar rumah. Seruan goblok lelaki misoginis agar perempuan menetap di   rumah, seperti “kodrat perempuan di rumah”, “tempat terbaik bagi perempuan adalah rumah”, atau “karir perempuan itu di rumah”. Seruan-seruan inilah yang membuat perempuan kehilangan perannya.

Meski alasan “demi keamanan perempuan”, faktanya perempuan masih belum aman di rumahnya sendiri. Menurut Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2019, ada sebanyak 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama 2018. Diantaranya, pacar sebagai pelaku sebanyak 2073 kasus. Sedangkan, suami sebagai pelaku, tetap berada di peringkat teratas, yaitu sebanyak 5114 kasus (Dea, 2019: 30).

Namun demikian, tetap saja masih ada perempuan yang membela suami mereka seolah menunjukan kepatuhan kepada suami dan menjaga reputasi rumah tangga. Padahal, sikap tersebut semakin melanggengkan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Faktanya, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) semakin melambung. Dea (2019: 29)  juga mengungkapkan kasus perempuan yang sedang hamil tua dibunuh oleh suaminya, selain itu perempuan difabel juga diperkosa oleh ayahnya dan dua saudara laki-lakinya selama betahun-tahun.

Bukan hanya korban KDRT yang melonjak, poligami pun ikut disertakan dengan alasan menyempurnakan akidah. Ayat Al-Quran (Q.S. An-Nisa’: 3) yang memperbolehkan menikahi perempuan lebih dari satu, dijadikan rujukan oleh akhi-akhi fillah dengan tidak melanjutkan bunyi ayat selanjutnya yaitu “jika takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja”. Alasan apa yang dijadikan landasan untuk mengikuti sunah Rasul? Jangan ditafsirkan ayat di atas sebagai perintah. Tak semuanya isi dalam Al-Qur’an adalah perintah.

Kenapa Rasul mempunyai sembilan istri? Allah memberikan keistimewaan kepada Rasul untuk menikahi banyak perempuan karena alasan dakwah dan memerdekakan budak. Rasul tidak memiliki budak. Rasulullah saw. berpoligami pada sepuluh tahun terakhir periode dakwahnya ketika banyak terjadi peperangan.

Pilihan nabi untuk menikahi janda-janda pada fase itu menerangkan fase sosial yang khas, suami-suami mereka mati di dalam perang, dan nabi mengambil pilihan untuk menikahi mereka karena alasan dakwah. Islam datang menerangkan konsep pembatasan jumlah serta konsep keadilan yang diakhiri dengan syariat larangan bilamana laki-laki tak mampu berbuat adil (Kalis, 2019: 60).

Lalu, bagaimana dengan akhi-akhi yang kebelet ingin menikahi empat perempuan? Masih adakah perbudakan di atas muka bumi ini? Atau jangan-jangan, dengan menikahi empat perempuan membuat laki-laki lebih maskulin? Atau lebih parah lagi, terpengaruh dengan kampanye poligami sekelompok pedagang ramuan penis kuat?

Selamat merdeka untuk perempuan! Semoga kau tak terkekang untuk selamanya!

 

Muhammad Nizarullah, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Kilas Balik Perjuangan Perempuan di Masa Kolonial

S ejarah panjang perjuangan kemerdekaan  Indonesia tidak lepas