Puisi-puisi Kusharditya Albi

lpm rhetorLukisan berjudul "Chinese Food-Fight" karya Elisa Vegliente/ sumber: ebsqart.com

Toilet

Terima kasih untuk Tuhan

yang telah sudi membayar dua ribu rupiah

Untuk kucuran air dosaku yang tumpah

di kamar kecil rumah-Mu

Hanya malu sanggup kubayar padaMu

panggil aku lain waktu

 

-Masjid Alun-Alun Magelang, 2017-

 

Kencan Nestapa

Kini nyawaku habis

Di ujung hitungan kalkulator

Ini waktu masih pagi

Menunggu malam adalah perjalanan kapal

yang panjang

ini kali pertama

Mata begitu waras

Bahwa setan adalah perwujudan

Perempuan cantik, sendok, dan garpu

Dalam piring yang tidak cantik

Demi Tuhan aku selesai

Izrail terkekeh dalam wujud daging rendang.

 

-Magelang, 2018-

 

Sajak Wangi

–buat Ibuku.

 

Basuh air menyangga mata pukul lima

Menyuap diri dengan derita-derita

Menjenguk diri lewat daster lusuh

dan butir-butir Rinso

Tenang saja

pinggiran neraka tak selicin sabun colek.

Dan surga pasti tercium lebih jelas

dari bau kaus kakiku

untukmu sungai firdaus lebih wangi

daripada Molto biru kesukaanmu

Maaf aku bangun jam sembilan

 

-Yogyakarta, 2020-

 

Albi, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

 

You may also like

Puisi Ridho: Tanah Ibu Pertiwi untuk Siapa?

Tanah Ibu Pertiwi untuk Siapa? Pagi ini rakyat