MONYET

Beberapa jam berburu,matahari pun sudah meninggi. Tapi tak seekor hewan melintas di hadapan kami. Kijang,rusa,ayam hutan dan burung yang selalu berkeliaran di hutan itu,seolah-olah bersembunyi jauh dari kami.Hutan sepi.
Saya bertambah lemas,paman pula saya lihat mulai kecewa. Hari kian beranjak petang,paman menepuk-nepuk senapannya.
“kita balik sajalah,hari ini tak ada apa-apa. Mungkin esok ada hasil.”
Kami berjalan pulang,tapi selang dua tiga puluh langkahh,kami mendengar suara riuh rendah di balik pohon-pohon besar di hadapan kami. Saya mengamati suara itu,ternyata sekawanan monyet yang sedang makan buah-buah hutan. Kuperhatikan,paman begitu berminat memperhatikan hewan itu. Di bibirnya ada sebaris senyuman,senyuman yang saya faham benar maksudnya.
“adakah paman hendak menembak monyet-monyet itu?”
“Ya,Paman akan tembak ibunya,lepas itu paman akan ambil anaknya,nanti bisa dipelihara.” Begitu jawaban paman
Beberapa kali aku mendesak paman supaya membatalkan hasratnya itu,tapi gagal. Saya gagal mengendurkan niatnya. Tidak akn saya lupa kata-kata paman petang itu.
“daripada balik tangan kosong,mending saya tangkap monyet itu.”
Paman pun mengacukan senapannya ke arah kawanan monyet itu,dan…….
DAMMMMM…….!!!! Dentum senapan mengarah ke kawanan monyet tersebut.
Buyar dan kalang kabut monyet-monyet itu menyelamatkan diri. Hutan riuh dengan bunyi ranting patah serta jerit pekik hewan berkenaan.
BUUUPPP….!!! Ada suatu benda yang jatuh ke tanah. Saya terpandang seekor ibu monyet jatuh berdekatan kami. Saya dan paman langsung mendapatkannya. Dari perutnya bercucuran darah pekat. Anaknya yang tidak mengerti apa-apa terlepas dari pelukan,tercampak tidak jauh darii ibunya sambil menjerit-jerit. Si ibu merengus-rengus memanggil anaknya dengan lemah. Ia coba bangun dengan bersusah sambil tangannya mencapai akar-akar pohon untuk mendekati anaknya. Sebelah tangan lagi mendekap perut yang masih berdarah.
Ia berusaha melangkah tapi terjatuh semula. Dicoba lagi sambil berguling-guling ke arah anaknya. Si anak yang baru bisa berjalan jatuh bangun mendapatkan ibunya. Si anak itu langsung saja memeluk ibunya yang kesakitan. Masih terbayang jelas di ingatan saya bagaimana si ibu monyet tadi memegang tubuh dan menatap wajah anaknya puas,kemudian dicium berkali-kali. Dibawa si anak ke dada lalu disuakan susunya. Saya terdiam melihat si anak mengisap susu manakala ibunya mengerang-ngerang perlahan seakan memujuk sambil menahan sakit. Hati saya tersentuh,betappa si anaknyang baru melihat dunia tidak tahu bahwa ibu tempat dia bermanja akan pergi untukk selamanya. Say atidak mampu menyelami fikiran ibu monyet itu,tapi mungkin ia ingin memeluk anaknya buat kali terakhir,sepuanya karena selepas ini ibu akan pergi.
Ibu tidak akan dapat memelukmu lagi apabila kamu kedinginan,menyuap mulutmu bila kamu merengek kelaparan,juga melindungimu bila kau kepanassan. Mata si ibu monyet itu memandang ke arah kami. Seolah-olah enggan melepaskannya,biarlah ia mati bersama ankanya. Matanya digenangi air,masih tidak lepas memandang kami dengan pandangan sayu,mungkin ingin menyatakan betapa kejamnya manusia. Dosa apakah yang aku lakukan hingga aku ditebak? Salahkah aku bebas ke sana ke mari di bumi ciptaan Allah ini?
Tubuh monyet itu berlumuran darah,begitu juga dengan si anak yang masih di pelukannya. Beberapa detik kemudian,dengan tenaga yang masih tersisa,kami lihat si ibu mencium anaknya untuk kesekian kalinya. Perlahan-lahan tubuhnya terkulai di tanah, bisa penabur dari  moncong senapan paman tadi tidak dapat ditanggung lagi. Si anak menjerit-jerit memanggil ibunya supaya terbangun dan melarikan diri dari kami.
Di saat itu perasaan saya terlalu sesak,saya perhatikan paman,dia beberapa kali mengatupkan bibir mencoba menahan air matanya yang hendak tumpah ke pipi. Suasana sunyi kembali,si anak monyet itu kami rangkul dan kami bawa pulang,biarpun ia terus menjerit dan enggan berpisah dengan ibunya. Saya dapat merasakan betapa kejamnya kami karena membunuh satu nyawa yang tidak berdosa. Biarpun monyet itu hanya sekedar hewan ,tapi mereka punya perasaan,ada rasa kasih kepada anak,rasa sayang kepada ibu. Tapi kita manusia??Kemana akal waras kita??
Selang dua minggu kemudian,anak monyet tadi mengikut jejak ibunya. Paman memberitahu saya,anak monyet itu tidak mau makan dan terus menjerit-jerit saja. Mungkin ia rindukan ibunya. Apabila malam,keadannya bertambah parah,dan akhirnya mati.
Peristiwa ini agar kita mengertii bahwa hewan juga punya perasaan. Yang kejam adalah manusia,walaupun kita satu-satunya makhluk yang Allah anugrahkan akal fikiran, dan  peristiwa ini agar kita mengerti pula betapa agung dan sucinya kasih sayang ibu kepada anaknya.

oleh : Nur An Nisa Sholikhah

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali