Dunia islam sejatinya sudah berkontribusi dalam memperkaya dunia intelektual sebelum filsafat diadopsi dalam kemasan Islam. bisa kita lihat dari kitab suci Al-Qur’an yang diciptakan dengan susuan kata yang baik, sastra terbaik pada zamannya. Selain dalam kepercayaan hal ini tentu menjadi objek kajian dalam dunia sastra arab. Kemudian pergantian zaman silih berganti, dunia pendidikan dalam Islam tentu juga mengalami perkembangan, baik dalam bidang Aqidah, Fiqh, Hadist, Tafsir, teknologi dan sjuga Filsafat. Kali ini kita akan terfokus pada pembahasan filsafat.
Fisafat islam merupakan suatu rentetan ilmu pengetahuan dalam Khazalah Islam yang asalnya tak lain tak bukan dari Yunani. Kita tahu bahwa memang Yunanilah yang pertama kali memperkenalkan filsafat. Dicatatkan dalam berbagai referensi, Islam mulai mempelajari Filsafat yunani pada masa pemerintahan bani abasiyah yang pada akhirnya karya-karya dari yunani diterjemahkan dalam bahasa arab secara gila-gilaan.
Meski filsafat Islam sudah menjadi salah satu disiplin ilmu, Namun tak jarang ada yang menganggap bahwa filsafat Islam itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah alih bahasa dari yunani ke bahasa arab. Ada juga yang berpendapat bahwa penerjemahan besar-besaran itu seakan-seakan menunjukkan bahwa Islam tidak kreatif dan inovatif dalam menyumbang ilmu pengetahuan.
Salah seorang orientalis yang bernama G.T Tennemann berpendapat bahwa flsafat Islam tidak dianggap sebagai karya orang Islam karena beberapa hal. Antara lank arena Kitab sucir Al-Qur’an yang menjadi pemodan mutlak umat muslim dapat menghalang-halangi kebebasan berfikir. belum lain filsafai Islam sendiri ditolak oleh beberapa orang islam yang fanatic dan yang terakhir sangat terpaku kepada Aristoteles.
Dengan alasan tersebut membuat G.T Tennemann menyimpulkan bahwa karya kaum muslimin hanyalah sekedar ulasan terhadap filsafat yunani terkhusus pemikirannya Aristoteles yan diterapkan ke dalam ajaran-ajaran Islam.
Walaupun demikian, saya sendiri berpendapat bahwa filsafat Islam merupakan karya orisinil dari Islam.. Meski banyak menerjemahkan teks dari yunani, filsafat Islam tentu mengikutsertakan kitab sucinya yaitu Al-Qur’an dan ditambah dengan perkataan nabinya (Hadist) yang menjadi sumber pemikiran rasional dan filosofis. Kehadiran Al-Qur’an bukan menjadi penghambat dalam kebebasan berfikir sebab Al-Qur’an sendirilah yang sering menyerukan Afala tatafakkarun ( Apakah engkau tidak berfikir).
Sementara Fanatisme beberapa kalangan Islam adalah bentuk pemahaman mereka tentang Al-Qur’an secara harfiah. Orang-orang tekstual ini tentu akan kesulitan menyambungkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dengan problematikan zaman yang nantinya akan terganti. Sehingga pemikiran mereka memang tidak cocok dengan filsafat. Jadi bukanlah suatu validasi bahwa filsafat Islam itu tidak ada hanya ditolak oleh golongan yang berbeda pandangan. Justru filsafat islam hadir untuk menegahi hal-hal demikian
Argument lain tentang bantahan bahwa Islam tidak menjiplak adalah bukanlah suatu kepastian bahwa belajar dari orang lain berarti mengikuti semua hal tentang orang lain itu. dalam hal ini Islam memang menerjemahkan karya yunani tapi itu tidak berarti Filsafat Islam sepenuhnya mengikuti yunani. Kita semua bisa saja mengambil argument orang lain, namun tak serta merta dituduh menjiplak ketika kita menambahkan argument kita sendiri. Menurut saya hal tersebut malah menjadi sesuatu yang baru.
Bisa kita lihat dari tiga rantai filsuf besar yunani. Yaitu Socrates yang menjadi gurunya Plato dan kemudian Plato memiliki murid bernama Aristoteles. Jarang kita mendengar bahwa Plato sebenarnya hanya menjiplak dari Socrates dan Aristoteles hanya mengikuti filsafatnya Plato. Hal ini di karenakan mereka juga menampilkan teori dan filsafatnya sendiri. Sehingga nama-nama tadi tercatat sebagai filsuf yang membawa warna baru dalam dunia filsafat. Seharusnya filsafat Islam juga dipandang demikian.
Selain itu, gagasan dan pemikiran hasil produksi filsafat Islam itu merupakan refleksi atau respon dari lingkungan sekitar para tokoh. Filsafat yunani dan filsafat arab lahir di tempat yang berbeda. Di zaman yang berbeda dan tentu dengan kondisi sosial yang berbeda. Tentu sangat tidak cocok menyamakan filsafat yunani dan Islam padahal terdapat perbedaan yang sangat signifikan.
Sebenarnya, jauh sebelum penerjemaahan di masa dinasti abbasiyah, logika dalam dunia Islam itu sudah hadir lebih dulu. Dibuktikan dari berbagai aliran kalam seperti Mu’tazilah dan Qadariyah. Yang mana dua aliran ini memiliki kesamaan yang sama-sama mengedepankan akal. Sehingga pemikiran masyarakat pada zaman itu berkembang lebih rasional. Hanya saja belum di ulas begitu dalam dan dikemas menjadi ilmu Filsafat.
Al-kindi merupakan tokoh Islam pertama yang dianggap pertama kali memperkenalkan filsafat islam dalam karyanya al-Falsafah al-Ula yang berisi tentang objek bahasan dan kedudukan filsafat serta ketidaksenangannya pada orang-orang yang anti filsafat. Dalam filsafatnya Al-Kindi menjelaskan tentang penciptaan alam semesta, keabadian jiwa dan pengetahuan tentang Tuhan. Karena terbilang baru dalam Islam, pendapat yang dibawa Al-Kindi tidak terlalu bergema ditambah lagi masih dominanya ulama-ulama fiqh pada masanya.
Namun, perjalanan filsafat Islam tetap terus berlanjut, hingga masa Al-Ghazali ada beberapa filsuf yang takut befilsafat, sebab Al-Ghazali melontarkan kritikan keras kepada filsafat lewat bukunya Tahafut Al-Falasifah yang nantinya dibantah oleh Ibnu Rusyd dengan menuliskan buku tandingan berjudul Tahafut-At-Tahafut. Namun meskipun mengkritik filsafat Al-Ghazali tetaplah seorang filsuf muslim dengan berbagai gagasan hebatnya.
Berikut merupakan bantahan-bantahan yang saya kemukakan lewat pandangan saya sendiri dan ditambah dengan berbagai referensi. Bahwa filsafat Islam patut untuk diakui sebagai salah satu anak kandung dari Islam yang proses perjalananya tak hanya sebatas meniru. Meskipun hingga kini filsafat Islam masih bermasalah mengenai eksistensi, hal tersebut juga dikarenakan masih tersisanya sikap permusuhan dari beberapa orang barat. Dan fanatisme kelompok tektualis yang berasal dari Islam sendiri.
Sumber : Khudori Soleh, 2014, “Mencermati Sejarah Perkembangan Filsafat Islam”, Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki, Malang, Vol. 10, No. 1, Mei 2014
Basir Syam, 2017, “Pandangan Orientalis Tentang Eksistensi Filsafat Islam”, Jurnal Aqidah-Ta Vol. III No. 1 Thn. 2017