Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

Gerakan Mahasiswa mengalami degradasi ? pertanyaan inilah yang timbul ketika kita menelisik gerakan mahasiswa hari ini. Aksi jalanan menjadi hal yang tak jarang dilihat. 
PMII Rayon Aufklarung Fakultas Sains dan Teknologi menggelar bedah buku : Bangkitlah Gerakan Mahasiswa (Ahad, 11 Mei 2014) di Convention Hall. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Agus Prasetyo dari GP Ansor Jogja dan Eko Prasetyo Sebagai penulis buku sekaligus direktur SMI (Social Movement Institute).
 Agus Prasetyo, “Gerakan Mahasiswa hari ini mulai luntur berbeda sekali suasana serta kondisi dulu, disana –sini masih banyak terlihat muda-mudi berorasi mereka seperti menikmati sesuatu yang sama sekali tidak nikmat”. Ungkapnya. 
Eko Prasetyo, “Buku ini merupakan rekaman panjang  ketika saya kuliah dari tahun 1990 sampai 1997. Dan selama 15 belas tahun terakhir ketemu mahasiswa seperti minum obat 3x sehari”. Ungkapnya dengan gaya humornya.
Dalam buku ini pertama penulis mengawali dengan pertanyaan mendasar kepada para mahasiswa, Siapa Dirimu? Ada kebanggaan tersendiri ketika mulai OSPEK (OPAK) dengan menyandang label “Mahasiswa”. “Ketika mulai kuliah beragam mimpi-mimpi heroik perubahan dan berbondong mengikuti organisasi tertentu”. Tambahnya. Identitas mahasiswa mulai luntur, “heroisme hanya ketika di OSPEK dan di Kaderisasi dengan uforia masa lalu dari para seniornya namun hal tersebut hilang ketika berada diruang kuliah, mahasiswa dibelenggu oleh peraturan yang kadang tidak masuk akal. Dan Siapa menjadi Pertanyaan”. 
Pertanyaan kedua penulis melanjutkan dengan kalimat “Lihatlah sekelilingmu”. Kampus menyulap dan meninabobokan kesadaran. “Kepatuhan menjadi Norma, Taat menjadi Agama, Indeks Prestasi menjadi keimanan”. Lihatlah kampus ini, di mana orang miskin tinggal? Gedung megah, Mesjid mewah, serta dikelilingi dengan tempat megah dan mewah (KFC, Amplas Mall, dll). 
Akhir sesi penulis memberikan jawaban atas pertanyaan dari salah seorang peserta tentang budaya riset/ penelitian dikalangan mahasiswa, “Dunia intelektual kita dibatasi, karena setiap ada judul skripsi yang bombastiscenderung tidak dihargai dengan berbagai alasan”.  Diakhir, Seperti biasa penulis dengan gaya provokasinya, “riset tidak akan hidup jika budaya gerakan tidak ada”. (Mr.R)

You may also like

Aliansi Mahasiswa Jogja Gelar Aksi Tolak IMF-Bank Dunia

lpmrhetor.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi