Photo Story: Sejarah Telah Mencatat #GejayanMemanggil

Massa yang berangkat dari titik Pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga memasuki Jalan Gejayan, Senin (23/9/19) dok.Rhetor/Fajril Haq

lpmrhetor.com Sejarah akan selalu terulang. 8 Mei 1998, Gejayan meninggalkan ceritanya dalam menggulingkan rezim Orde Baru. 23 September 2019, Gejayan kembali menjadi saksi bahwa rezim Jokowi patut dikritisi. Hashtag Gejayan Memanggil (#gejayanmemanggil) berhasil mengobarkan gelora darah muda seluruh mahasiswa-mahasiswa dan elemen masyarakat Yogyakarta untuk bercumbu dengan demokrasi di ranjang Gejayan.

Bisa dipastikan lebih dari 2000 jiwa memenuhi panggilan #gejayanmemanggil hingga cukup untuk memblokade jalan setidaknya lebih dari satu kilometer. Bagaimanakah situasi Gejayan ketika dicumbui oleh ribuan mahasiwa dan elemen masyarakat Yogyakarta yang haus karena hati nurani?

Lpmrhetor berhasil mengabadikan momen-momen yang terjadi selama peristiwa berlangsung.

Ini Baru Permulaan

Longmarch berjalan pukul 12.00 dari titik pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga dan bermuara di pertigaan Gejayan-Colombo menyatu dengan massa dari Bundaran UGM dan gerbang utama Universitas Sanata Dharma. Sebelum keberangakatan massa aksi diperkenankan menjalankan solat dzuhur terlebih dahulu.

Mendeklarasikan Diri sebagai Massa Organik

Tidak peduli dengan nyengatnya terik pada Senin (23/9) siang itu, seluruh barisan aksi terus menerus menyanyikan lagu perjuangan dan menggemakan revolusi. Suasana sekitar seperti dibawa kembali ke masa Reformasi 98. Menamai diri sebagai Aliansi Rakyat Bergerak karena mereka yakin seruan aksi damai ini berangkat dari hati nurani, bukan karena kepentingan politik atau yang lain. Aktivis, pelajar, mahasiswa, buruh, petani, pegawai negeri sipil, semua diperkenankan bergabung.

Aksi Treatrikal

Lautan manusia terbentuk di pertigaan Gejayan-Colombo sekitar pukul 13.00. Massa aksi mengkondisikan diri sebelum dimulainya aksi treatrikal dan orasi. Kegiatan aksi damai dibuka dengan suara sirine tiga kali dan aba-aba kepada massa untuk telentang dijalan sebagai simbolik demokrasi sedang mati suri.

Matinya Demokrasi!

Mengheningkan Cipta. Mulai.

Dengarkan Suara Kami

Tuntutan yang dibawa massa adalah mendesak penundaan terhadap pembahasan ulang pasal-pasal bersalah dalam RKUHP, mendesak pemerintah dan DPR merevisi UU KPK dan menolak segala upaya pelemahan KPK, mendesak pengesahan RUU PSK, menuntut negara untuk mengusut dan mengadili para elite penguasa yang menyebabkan kerusakan lingkungan di beberapa wilayah Indonsia, menolak pasal-pasal yang tidak berpihak pada pekerja di RUU Ketenagakerjaan, menolak pasal-pasal yang tidak senapas dengan Reforma Agraria pada RUU Pertanahan, mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis dari berbagai sektor.

Sisi Lain #GejayanMemanggil

Pukul 17.00 aksi diakhiri dengan pembacaan sikap diiringi lagu darah juang dan kepalan tangan ke udara. Secara kasat mata jalannya aksi damai terlihat begitu riuh dan memadati jalanan, bahkan mungkin para pengendara ada yang merasa jengkel karena macet. Namun dibalik hiruk-pikuk massa aksi damai, masih ada orang-orang yang bisa merasa rileks mendengarkan gemuruh hati nurani[]

 

 

Fotografer: Fajril Haq, Halida Fitri, Fiqih Rahmawati, Ina Nurhayati, Khusnul Khotimah

Editor: Ina Nurhayati

You may also like

Di Antara Penguasa dan Pengusaha

Semua pihak wajib menaati perjanjian yang telah disepakati.