#GejayanMemanggil: Rektor Menghadang, Mahasiswa Bergerak

sumber: detik.com

lpmrhetor.com – Senin (23/09/2019), Jalan Gejayan dan Pertigaan Colomobo menjadi arena bagi para mahasiswa untuk berkumpul dalam aksi yang bertajuk #GejayanMemanggil. Aksi ini merupakan buntut dari beberapa regulasi-regulasi yang dibuat oleh DPR karena dinilai melemahkan dan mematikan demokrasi di Indonesia.

Rico Todai, Koordinator Umum (KORDUM) dari perkumpulan mahasiswa yang menamakan diri sebagai Aliansi Rakyat Bergerak menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk respon mahasiswa terhadap regulasi-regulasi yang dibuat oleh negara, baik dari pihak eksekutif maupun legislatif.

“Regulasi-regulasi itu tidak memihak kepada kepentingan rakyat diantaranya RUU KUHP, UU KPK yang disahkan, dan kemudian UU Pertanahan dan juga hari ini kami mendorong adanya pengesahan segera UU PKS yang kami anggap itu urgent, karena kekerasan seksual itu terjadi dimana-mana terhadap kaum perempuan,” tutur Rico saat menyampaikan soal isu yang diangkat.

Rico juga menambahkan bahwa aksi ini merupakan akibat adanya tindak kriminalisasi yang dilancarkan kepada kawan-kawan aktivis. Terlebih-lebih kepada aktivis yang membela soal isu Papua dan isu lingkungan.

Menurutnya, pemerintah seharusnya membuka ruang demokrasi seluas-luasnya. Hal ini dinilai mampu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan meminimalisir bahkan mencegah adanya UU yang dianggap tidak memihak terhadap kepentingan rakyat. Selain itu ia juga berpedapat seharusnya dilawan dengan pendapat, bukan dengan sikap represifitas, atau kriminalisasi yang bahkan hingga dipenjarakan.

“Karena sejatinya kami menganggap pendapat hanya boleh dilawan dengan pendapat. Ketika pendapat dilawan dengan penjara dan kriminalisasi itu adalah bentuk dari sikap otoriter negara. Nah, kemudian ketika ruang demokrasi di Indonesia dibuka seluas-luasnya, itu akan memungkinkan partisipasi rakyat, semua lapisan rakyat Indonesia utnuk menentukan arah kebijakan negara ini seperti apa,” katanya.

Rico juga menanggapi pertanyaan terkait rektor di beberapa universitas yang justru mencoba melarang mahasiswanya untuk turun aksi dalam menyuarakan keresahannya terhadap negera ini.

Surat instruksi tersebut dikeluarkan oleh rektor dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Kristen Duta Wacana, STMIK Amikom, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, dan Universitas Atma Jaya. Secara terang-terangan kedelapan universitas tersebut menolak aksi #GejayanMemanggil dan memerintahkan agar perkuliahan serta kegiatan akademik lainnya tetap berjalan seperti biasa. Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa dari pihak universitas lepas tangan terhadap mahasiswa yang terlibat dalam aksi gerakan #GejayanMemanggil.

“Ini juga bentuk kekecewaan kami, terutama mahasiswa. Pendidikan kita hari ini, juga sistem pendidikannya, diduga mungkin ada yang tidak beres. Kemudian ilmu pengetahuan yang selama ini kita dapat coba dibungkam melalui aktor-aktor pengajar dan aktor-aktor intelektual itu sendiri,” pungkas Rico. []

Reporter: Darmawan Julianto

Editor: Isti Yuliana

You may also like

Di Antara Penguasa dan Pengusaha

Semua pihak wajib menaati perjanjian yang telah disepakati.