Nasib Buruk

Ilustrasi: CNN Ind

Desa Cibiyut namanya, tak terlalu besar wilayahnya, luasnya hanya dua puluh lima jengkal kaki ibu raksasa. Hiduplah seorang gadis bernama Lugu, bukan tukang jamu, suka pakai baju sexy bergincu setiap hari, pamer paha sana-sini,  tak lupa dengan BH nya yang tebal, setebal kumpulan skripsi. Setiap hari Lugu suka bermain sosmed untuk meng-update gaya terbaru artis kebanggannya Cipi Capita Si Goyang Kipas. Hingga ibu tirinya dibuat jengkel oleh Lugu.

Lugu hidup bersama dengan ibu tirinya, sejak 3 tahun yang lalu, tak lama setelah bapaknya yang bernama Bijak memenangkan kampanye hitam dan menyandang status pejabat desa di kampung Cibiyut. Sejak itu bapaknya tak pernah pulang, kerjaannya ke warung remang-remang menghabiskan waktu dengan sebotol minuman dan gadis-gadis penjual selangkangan. Sebenarnya bapak si gadis Lugu tak tinggi pendidikannya, hanya lulusan SMA itu pun ijasah dengan tulisan paket C di dalamya, dari dulu dikenal sebagai berandal sekolahan, mencintai kebebasan, tak pernah taat pada aturan. Hanya karena kampanye hitam ia bernasib baik, pak Bijak memenangkannya karena warisan tanah wakaf dari mertuanya yang seharusnya digunakan untuk membangun masjid, malah dijual kepada lintah darat, hasilnya dibagikan warga desa dengan imbalan harus memilihnya dalam pemilu yang diadakan pada saat itu.

Tak selesai di situ, ibu Lugu yang pada saat itu sudah tua sakit-sakitan pula harus terus menerima siksaan batin oleh kelakuan suaminya, rasa-rasanya neraka lebih indah dari pada harus hidup tapi hanya duka lara yang diterimanya. Tak lama setelah itu ibu Lugu mati, entah karena apa sebab kematiannya tapi mulutnya mengeluarkan busa, tapi bukan busa yang di sebabkan karena gosok gigi dengan odol yang mengandung deterjen.

Pada tanggal 18 januari 2014 Lugu masih mengingat kejadian itu, pada pagi hari setelah ayam jago milik tetangga tak lama berbunyi, dinginnya embun pagi masih menusuk ke dalam pori-pori kulit, terdengar teriakan si gadis Lugu “Ibuuuuuuuuuuuuu!!” dengan suara khas melengkingnya mendatangkan puluhan orang yang langsung berkerumun depan rumahnya. Tangisnya langsung pecah dalam matanya yang kecoklatan membanjiri kedua belah pipinya yang berjerawat. “Ibuuu, kenapa kau meninggalkanku, bu?” Lugu terus saja mengajak ngobrol seonggok mayat ibunya yang sudah terbujur kaku dengan mata yang masih melek. Sungguh terlihat begitu menakutkan. Suasana seketika berubah menjadi haru pilu.

Bapak Lugu yang pada saat itu masih ngorok di kamar belakang, dengan masih mengenakan seragam dinasnya sontak dibuat kaget dengan suara Lugu yang begitu melengking, segera bapak Bijak lari, “Ada apa? Ada apa?”

“Ibu pak, ibu sudah tiada.”

“Berengsek, kau membangunkanku pagi-pagi buta hanya karena perempuan tak berguna itu”

Lugu yang pada saat itu masih menangis tersedu-sedu tak bisa menyahuti omongan bapaknya, dia tak mempunyai kekuatan jika harus beradu mulut dengan bapaknya. Pada hari itu ketika si gadis Lugu sedang meratapi nasib sebagai anak piatu yang kehilangan ibunya, bapaknya malah merayakannya sebagai hari kebebasan, tak harus mengurusi dan memberi makan perempuan yang dianggapnya sudah tak berguna, setidaknya jatah minuman di warung remang-remang jadi bertambah. Bisa memberi uang lebih kepada pelacur langganan yang selalu memuaskan nafsu birahinya.

Dia adalah ibu tiri Lugu sekarang, Dewi Ayu namanya. Seperti namanya, dia juga bak dewi khayangan di mata laki laki hidung belang, pelacur kebanggan desa Cibiyut. Palacur paling cantik di antara pelacur yang ada di setiap warung remang-remang di sepanjang jalan Pahlawan. Dewi Ayu sebagai pelacur berkelas hanya mau melayani pejabat-pejabat saja, entah pejabat desa atau penajabat jengkol sekalipun. Laki-laki yang hanya bekerja sebagai buruh hanya bisa gigit jari. Kecemburuan antara kaum buruh dari para pejabat memunculkan sebuah konflik birahi namanya. Tak sampai di situ, sebagai kelas buruh tak mau kalah begitu saja, setiap malam mereka selalu berkumpul untuk mengintip dari lubang angin perkelahian dari dua makhluk yang sedang beradu nafsu di atas kasur, yang pemenangnya selalu saja Dewi Ayu. siapapun laki-lakinya, bagaimanapun asal-usulnya, entah sebesar buto ijo sekali pun pasti KO jika itu urusan nafsu di atas kasur dengan pelacur cantik Dewi Ayu.

Setiap malam pak Bijak selalu menyewa Dewi Ayu sebagai pemuas nafsu birahi nya, setelah istrinya yang sudah tua dan sakit sakitan yang hanya terbujur di atas kasur tak lebih dari seonggok daging yang bernafas.  Dewi Ayu senang saja di sewa pak Bijak meski semalam dua malam atau empat malam full sekalipun.  Karena pak Bijak selalu memberikan upah lebih untuknya, belum lagi pujian-pujian yang selalu aja didenguskan pak Bijak tepat di samping kuping Dewi Ayu ketika bercinta, tentang matanya yang indah sampai buah dadanya yang sebesar pepaya, sampai pada suatu malam pak Bijak berkata,

“Dewi, kau begitu sempurna sebagai perempuan, bolehkah aku mengawinimu?”

“Bukankah setiap malam kita kawin?”

“Bukan itu yang aku maksud. Aku ingin memilikimu seutuhnya, menikmati tubuhmu yang begitu indah sendiri saja, tanpa ada satu pun orang yang dapat menikmati setiap jengkal tubuhmu, memuaskan nafsu birahinya kepadamu, dewiku. Maukah kau kawin denganku?”

“Apa keuntungan untukku jika aku menjadi istrimu? Aku tak mau menjadi wanita yang mengekor pada suami.”

“Kau tak perlu mengangkang setiap malam membiarkan anumu yang begitu indah di rogoh oleh lelaki hidung belang dengan imbalan beberapa lembar uang saja. Namamu juga akan harum dengan menyandang status ibu kepala desa. Kau akan dihargai sebagai wanita”

“Biarkan aku memikirkannya.”

Di suatau malam yang panjang setelah perdebatan singkat tapi begitu melelahkan, karena Dewi Ayu terus saja memikirkan rayuan maut pak Bijak di atas kasur kala itu. Dewi Ayu terus membayangkan hidup sebagai manusia normal, sebagai wanita normal, menunggu suami pulang kerja di rumah dengan mempunyai keluarga kecil yang bahagia, tak perlu meminum pil KB sebelum bercinta. Dengan hidup yang berkecukupan tanpa harus mengangkang di setiap malam. Pikiran itu terus saja memutar-mutar di kepala Dewi Ayu seperti biang lala yang ada di pasar malam.

Setelah berfikir panjang semalaman, keesokan hari nya Dewi Ayu menghampiri pak Bijak di kantornya.

“Aku menerima lamaranmu, Sayang.”

“Benarkah itu Dewiku?”

Tanpa mendengarkan dulu jawaban dari Dewi Ayu, pak Bijak langsung mencium bibir Dewi Ayu tak peduli lipstik Dewi Ayu yang masih menempel akan menyisakan rasa aneh pada bibirnya. Mereka saling berciuman dan berpelukan, pelukan yang begitu hangat seperti sepasang remaja yang lama tak bertemu dan menuntaskan dendam rindu. Hari itu pak Bijak begitu bahagia, bagaimana tidak uangnya akan utuh dalam dompetnya, tetapi tetap bisa memuaskan nafsu birahinya setiap malam dengan wanita tercantik idaman laki laki dari berbagai kelas di desa Cibiyut.

Pesta pernikahan diadakan begitu sakral  pada tanggal 2 Febuari 2014 pada tanggal itu pula di jadikan peringatan bagi laki-laki desa Cibiyut sebagai hari patah hati nasional, dan benar mereka memperingatinya setiap tahun, dengan tidak akan menyetubuhi perempuan manapun pada tanggal itu, termasuk pada istri sendiri sekalipun.

Pesta pernikahan di hadiri oleh 1.500 undangan sebagaian pejabat-pejabat dari desa tetangga dan sisanya hanya warga biasa.

Setelah kematian ibunya, Lugu jarang berbicara, karena memang tak ada teman bicara, ia tak punya saudara, ayahnya sering pulang malam berangkat pagi. Kalaupun hari libur ayahnya hanya menghabiskannya untuk tidur dan tidur, bangun jika cacing-cacing dalam perutnya menuntut asupan makan, dan melanjutkan tidur lagi dan lagi. Dan bangun lagi ketika perutnya selesai memperoses isi perutnya menjadi tai-tai yang tak sabar ingin keluar.

Lugu sering menghabiskan waktunya di dunia maya dari pada dunia nyata. Lugu menjadikan media sosial sebagai teman sepinya, Dia hampir mempunyai semua jejaring media sosial dari facebook, twitter, instagram, hingga biggo live sekalipun. Ia mempunyai artis sebagai kiblat hidupnya, yaitu Cipi Capita dengan Goyang Kipas yang menjadi kebanggan artis ini, beruntung mempunyai buah dada sebesar buah semangka, dengan kulit putih dan mulus, dengan suara yang lirih terdengar begitu manja di telinga ketika mendengarnya.

Perlahan ia mulai mengikuti cara bicara hingga gaya bajunya. Ia juga terinspirasi untuk mempunyai buah dada sebesar semangka, dengan segala cara ia lakukan mengolesi segala minyak di buah dada nya yang sebesar jeruk nipis, minyak yang ia dapatkan dari online shop sebagai cara instan untuk mendapatkan buah dada yang diinginkannya. Alhasil, tak ada satupun minyak yang berhasil membuat buah dada menjadi besar seperti yang ia harapkan, tak ingin putus asa dan berhenti di situ saja ia membeli BH setebal kumpulan skripsi untuk membuat buah dadanya terlihat lebih besar.

Dengan mempunyai buah dada yang terlihat besar kepercayaan dirinya mulai tumbuh kembali. Ia selalu berjalan di depan kaca memastikan lenggokan pinggulnya terlihat indah ketika berjalan, melatih suaranya agar terdengar lirih dan manja jika sedang berbicara entah dengan tukang sayur sekalipun.

Semenjak itu Lugu menjadi sosok yang berbeda, banyak laki-laki yang menginginkannya untuk menjadi kekasihnya dan tidur dengannya. Tapi Lugu tak memperdulikan itu semua yang ia tau hanya BH yang tebal dan gincu yang merah. Untuk mempercantik dirinya. Dengan cara apapun ia akan melakukan segala hal agar mirip Cipi Capita artis kebanggannya itu.

Setiap hari Lugu lewat pangkalan ojek Cibiyut, tak lupa pula dengan gaya lenggak-lenggoknya bokongnya yang suka di pantul-pantulkan, hingga terpantul ke mata tukang ojek, Sholeh namanya, laki-laki mata keranjang hobi ngintipan sampai bintitan, si otak selangkangan. Tak disangka hari itu awal dari kehancuran Lugu.

Sepanjang akhir tahun 2014 desa Cibiyut di guyur hujan, membuat Lugu kehabisan celana dalam, mau tak mau pergi ke pasar Giyangan, berjalan sendirian tak membuatnya takut hingga sampai ke ojek Cibiyut. Mas Sholeh tukang ojek Cibiyut langsung menawarkan jasanya

“Neng cantik mau kemana?”

“Pasar Giyangan, mas Sholeh mau nganterin?” dengan suara lirih dan manja membuat Sholeh makin semangat mengantarkan Lugu.

“Jelas mau, lelaki mana yang tak mau mengantarkan perempuan secantik eneng,” dengan mata jelalatan tak melepaskan pandangannya ke arah buah dada Lugu yang besar.

Dalam perjalanan menuju pasar Giyangan Sholeh selalu saja mencari kesempatan, sesekali Sholeh mengerem mendadak sontak Lugu kaget dan secara tak sadar buah dada Lugu menempel pada punggung Sholeh. Tak sampai di situ saja Sholeh ingin sekali memuaskan nafsu birahinya,seperti kucing minta kawin. mumpung ada kesempatan, yang tak akan datang dua kali Sholeh belokan setirnya pada gang kecil yang sepi.

“Loh, kok lewat sini mas?”

“Ini namanya jalan pintas, neng.”

“Jalan nya sepi sekali mas, Lugu takut.”

“Tak banyak orang yang tau jalan ini, tak perlu takut cantik, mas Sholeh ada di sini.”

Hingga pada akhirnya mereka berdua sampai di suatu tempat rupanya rumah lama, bau pesing dan bau tai, seram dan menakutkan, rumput-rumput sudah panjang terlihat tak terurus, tak ada satupun orang waras yang mau mendekati rumah itu, kecuali laki-laki spesies Sholeh yang tak tahan lagi dengan birahinya. Tanpa basa basi dan tak sempat Lugu mengungkapkan pertanyaan atas kebingungannya Sholeh langsung menyeret Lugu masuk kedalam rumah, hingga motornya terbanting ke samping. Lugu merasa kesakitan ketika tangannya yang di tarik dengan paksa,

“Mas Sholeh, apa yang kamu lakukan?”

“Diamlah sayang, kau akan ku bawa ke surga.”

“Maksudnya apa mas?”

Dan pada saat itu Lugu dibanting di sudut ruangan oleh Sholeh dengan kasarnya, dengan segera Sholeh sudah membuka resleting celananya dan mengeluarkan isi di dalamnya, sontak Lugu pun menjerit.

“Berengsek!! Apa yang kamu lakukan mas?” dengan cepat Lugu menutup matanya, ketakutan pada saat itu membuat badannya bergetar dan menggigil.

“Diamlah kau, nurut saja kau kepadaku sayang!”

Dengan cepat Sholeh langsung menanggalkan baju yang di gunakan Lugu pada saat itu. membuka rok dan melepas celana dalam Lugu. Habislah Lugu sebagai gadis perawan, Sholeh mulai membuka BH yang digunakan Lugu dan baru menyadari, dan berkata

“Berengsek, kau penipu! Buah dada mu hanya sebesar jeruk nipis!”

Mendengar itu hati Lugu menjadi semakin hancur, ia menangis dalam balutan nafsu Sholeh. Sholeh semakin geram melihat kenyataan yang ada, tak mau tau semua sudah setengah jalan, sayang jika tak di tuntaskan. Hancurlah Lugu di lahap habis si Sholeh.

Setelah Sholeh menuntaskan nafsu birahinya, dia pulang meninggalkan Lugu begitu saja. Lugu menangis tersedu-sedu sejadi-jadinya, dia mengais satu persatu pakaiannya di lantai yang telah dilemparkan Sholeh tadi, ia mulai mengenakan celana dalamnya kembali membenarkan posisi roknya, dan memakai kembali bajunya. Dan meninggalkan begitu saja BHnya di lantai.

Sepanjang perjalanan pulang Lugu tak berhentinya menangis, membenci segala yang ada di tubuhnya. Dia merasa sangat kotor dan ingin segera mandi.

Setelah sampai rumah ibu tirinya yang sedang mengecat kuku di depan teras bingung melihat Lugu pulang dalam keadaan menangis, tapi seperti angin lalu. Dewi Ayu tak peduli, yang ia pedulikan hanya cat kuku yang harus segera selesai untuk dapat segera menghadiri arisan ibu-ibu desa Cibiyut.

Sesampainya di rumah Lugu langsung menuju kamar mandi, tanpa menanggalkan pakaiannya ia mengambil gayung yang berada di pojok kamar mandi, dan mengguyur seluruh tubuhnya, menangis dan menggosok seluruh tubuhnya. “Ibu aku membutuhkanmu,” dengan suara yang begitu pelan ia mengungkapkan.

Setelah kejadian itu, Lugu kembali menjadi gadis pendiam. Sering menangis sendiri dan dia hidup dalam dunia nya sendri, yaitu kesunyian.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Lugu merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhnya. Dia merasa mual dan ia baru merasakan bahwa ia telat datang bulan, melihat Lugu sering mual mual Dewi Ayu melaporkan pada suaminya. Tanpa tanggung-tanggung pak Bijak langsung membawa Lugu ke klinik desa Cibiyut. Dan benar, kejadian yang menjijikkan itu membuahkan hasil, pak Bijak marah besar Lugu hanya bisa menangis dan terus menangis. Membuatnya setengah gila, rasa-rasanya ingin mati saja. Di tambah lagi ibu tirinya, Dewi Ayu, selalu membujuk suaminya agar mengusir anaknya saja, dianggap hanya membuat malu keluarga.

Tanpa berfikir panjang pak Bijak langsung mengusir Lugu dari rumahnya. Lugu tak tau harus kemana. Ia sekarang menjadi gelandangan yang hidup dan tidur di jalanan, dengan membawa hasil dari kebringasan nafsu bejat Sholeh dalam perutnya, ia makan dengan mengais tempat sampah, dan seperti itu setiap harinya.

Sholeh yang sebenarnya tak mempunyai pendidikan tinggi, tapi ia pintar sekali bersandiwara dan tak mau tahu apa-apa. Lepas dari hukum adat warga. Masih berkeliaran kesana-sini mencari mangsa.

 

Selasa, 10 April 2018 (00:18 WIB)

Itsna Rahmah Nurdiani

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali