Seperti Buah Musiman, Aksi Mahasiswa Momentuman

Buah merupakan sumber vitamin bagi tubuh, dari meningkatkan metabolisme tubuh hingga berguna sebagai pencegahan berbagai penyakit yang ada dalam tubuh. Bila dikonsumsi secara teratur, kandungan vitamin A-Z yang terkandung dalam berbagai jenis buah-buahan tentu banyak mendatangkan manfaat di dapat.

Namun ada beberapa buah yang tak mudah di dapat jika tidak tepat pada musimnya. Buah-buah musiman sepeti buah durian, jambu biji, apel manalagi, dan lain sebagainya, akan sulit dijumpai karena ada musim-musim tertentu dimana buah-buah tersebut akan berbuah.Padahal setiap harinya tubuh memerlukan vitamin-vitamin yang ada pada buah sebagai sumber antioxidant terbesar bagi tubuh manusia.  Lalu dengan apa dan bagaimana menyelesaikannya?

Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi akhir-akhir ini pada dunia kemahasiswaan, megenai aksi yang dilakukan mahasiswa dalam rangka memperingati hari bumi (22/4), hari buruh (1/5), dan hari pendidikan nasional (2/5). Adanya berbagai aksi tersebut di lakukan untuk menyuarakan berbagai permasalahan sosial hingga permasalahan kehidupan, aksi damai hingga aksi anarkis di lakukan sebagai cara menyampaikan rasa kepedulian dan rasa solidaritas kemanusiaan.

Dalam rangka memperingati hari bumi kemarin (22/4)  yang berlangsung di titik nol Km, sejumlah mahasiswa yang menamai dirinya sebagai “Muda-mudi membumi” menyampaikan berbagai kegelisahan dalam aksinya. mengenai pembangunan yang massif serta penggunaan sumber daya alam yang tak terkendali membuat kondisi alam dan lingkungan semakin terpuruk, hal itu di ungkapkan Odent Muhammad selaku Koordinator Lapangan aksi.

“Berkaitan dengan banyaknya hotel-hotel dan apartemen-apartemen yang ada di Yogyakarta ini terus membuat kita tau, bagaimana kondisi air di Yogykarta menjadi air yang tidak layak lagi” Ungkapnya. Pria berambut hitam itu mengungkapkan bahwa air di Yogyakarta sudah tidak layak pakai. Sedangkaan air merupakan sumber kehidupan manusia.

Ia menambahkan, “Harapan kita, pembangunan-pembangunan itu lebih mengutamakan bumi, sebagai tempat yang kita pijak ini, sebagai tempat punya dampak yang berkelanjutan di kehidupan kedepan.” Imbuhnya. Menurutnya Pembangunan seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek yang ada, lebih mengutamakan bumi sebagai tempat kehidupan, serta pembangunan harus dapat beguna bagi kehidupan kedepannya.

Ketika lpmthetor.com meminta keterangan mengenai follow-up muda-mudi membumi. Himawan Kurniadi selaku Koordinator Umum aksi menegaskan bahwa “Kita akan terus menerus mengkonsolidasikan kepada beberapa elemen untuk ikut bergabung dalam gerakan ini”  tegasnya. Artinya akan ada seruan lagi kepada berbagi elemen untuk dapat lebih peduli terhadap bumi yang semakin rusak ini.

Berbeda dengan Odent yang mengatakan “Kegiatan selanjutnya, ini hanya aksi bersama saja. Artnya setelah ini teman-teman akan kembali beraktivitas pada kegiatan masing-masing.” tuturnya.

Yang menjadi pertanyaan, mau dibawa kemanakah sebenarnya gerakan kepedulian bumi ini ?

Padahal ada banyak tuntutan  di nyatakan dalam press rilis aksi muda-mudi membumi, diantaranya:

  1. Hentikan segala bentuk perusakan lingkungan di berbagai tempat di Indonesia atas kepentingan bisnis dan koorperasi
  2. Hentikan kriminalisasi pejuang lingkungan
  3. Hentikan alih fungsi lahan oleh korporasi dan Negara
  4. Hapuskan UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang pengadaan Tanah, karena UU tersebut sering di salahgunakan oleh korporasi untuk keuntungan segelintir orang dengan dalih ‘kepentingan umum’. Dan bumi bukan milik orang kaya, pengusaha, apalagi penguasa, sebab bumi milik kita semua.

Berbeda dengan aksi hari bumi yang di langsungkan dengan damai dan berjalaan dengan baik. Aksi hari buruh (1/5) justru berjalan anarkis dan tidak sistematis.

Gabungan dari berbagai elemen mahasiwa , yang menamai dirinya sebagai GERAM (Gerakan Aksi Satu Mei), berkumpul di pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga, Jln. Laksda Adisucipto Yogyakarta. Masa aksi yang selurunya adalah mahasiswa sebelumnya berkumpul di MP (Multi pupose) UIN sunan kalijaga sejak siang hari. Keadaan yang tidak terkontrol membuat masa aksi merusak berbagai fasilitas-fasilitas umum yang ada di pertigaan jalan. Rambu lalu lintas, trotoar jalan, hingga pos polisi menjadi pelampiasan kemarahan para masa aksi yang menggunakan ciput  berninja hitam.

Diketahui Gerakan Aksi Satu Mei di koordinatori oleh Odent Muhammad, orang yang sama pada gerakaran aliansi muda-mudi membumi pada aksi Hari Bumi(22/4) lalu. Aksi brutal tersebut membuat geram warga yang menonton aksi tersebut “isone ngerusak tok!”. Pastinya mereka tak sadar bahwa fasilitas umum yang di rusak merupakan hasil prakarya buruh yang sedang di perjuangkan hak nya.

Sepertinya Odent lupa dengan tuntutannya ketika mengkoornatori aksi hari bumi waktu itu terdapat kutipan yang menyerukan  “Hentikan segala bentuk perusakan lingkungan di berbagai tempat di Indonesia”.

Aapakah mereka akan mendapatkan kerugian? Mereka mungkin akan mendapatkan kemancetan dalam sehari, aku teringat pada kata-kata Wiji Tukul luangkan waktumu sehari saja untuk dapat kita berbicarakan permasalahan rakyat. Apakah kemudian dia akan susah, yaa, tapi ingat ada hari-hari tiap detik tiap menit kita bicarakan, bila undang –undang itu sudah di lepas…” ungkap Odent kepada lpmrhetor.com.

Lain halnya dengan aksi dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, Rabu (2/5). Masa aksi dari berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam GNP (Gerakaran Nasional Pendidikan).

Gerakan ini tidak pernah absen melakukan aksi solidaritas dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional dalam kurun waktu empat tahun terakhir. “Iya kita sudah berjalanan empat tahunan, kita ini memperingati dengan aliansi gerakan nasional pendidikan dan harapan besar kita adalah ini yang menjadi tonggak kepeloporan mahasiswa dalam persatuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana persoalan-persoalan pendidikan.” Ungkap Mikki Ezakta selaku Koordinator Umum GNP.

Mikki pun menambahkan “Kita akan membuat suatu programatik secara bersama dalam menjawab polemic-polemik yang ada di pendidikan” sambungnya.

Berbagai cara yang di lakukan oleh GNP  tak pernah dapat dukungan dari pemerintah dan tidak pernah jelas keberlanjutan dari berbagai tuntutan yang di ajukan. Seperti yang di ungkapkan oleh ketua LMND, salah satu organisasi yang tergabung dalam aliansi aksi tersebut “Nah kita sering melakukan aksi-aksi bahkan bukan cuma pas hari ini, tapi juga di beberapa kasusu pun kita pernah turun. Tapi kebnyakan apa yang kita suarakan itu malah tidak di respon baik bahkan terlantar begitu saja kasusnya tidak berujung ada apa yang kita mau apa yang kita tuntut begitu.” Ungkapnya.

Berdasarkan BPAU (Buku Pedoman Akademik Universitas) UIN Sunan kalijaga, bagian rumusan sikap point 6 menjelaskan bahwa setiap lulusan program pedidikan tinggi harus dapat memiliki sikap “Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan”. Dalam kutipan BPAU tersebut mahasiswa di tuntut agar mempunyai kepekaan sosial terhadap masyarakat dan lingkungannya.

Berbagai tuntutan kampus yang mau tak mau harus di terima mahasiswa. Begitu pula terkait dengan absen wajib 75%, Sahlan salah satu dosen prodi Komunikasi Penyaran Islam UIN Sunan Kalijaga yang dulunya mantan aktivis menegaskan “Penerapan presensi itu untuk mengurangi, kalau saya berpendapat begitu, maksudnya itu mahasiswa sudah masuk pada perangkat positivism, yaitu di cekokoki harus masuk terus tapi tidak berani untuk membuat kebijakan yang akan terus mengekang mahasiswanya”. Cetusnya.

Kebijakan absen 75% yang memaksa mahasiswanya untuk belajar di dalam kelas padahal pembelajaran yang ada belum menjamin akan pemahaman dari mahasiswa itu sendiri. Belum lagi kehadiran 75%  sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujiam akhir semester (UAS) tentunya bukan lagi suatu hal yang baru di dengar. Ketika perkuliahan yang wajib absen 75% tatap muka, berarti dalam pertemuan 14 kali mahasiswa di wajibkan mengikuti perkuliahan 11 kali. Jika lebih dari 3 kali pertemuan tidak dilaksanakan maka alamat mahasiswa tidak dapat mengikuti UAS, dan terancam tidak lulus mata kuliah.

Padahal dalam https://pkbi-diy.info terdapat banyak hari penting nasional dan internasional terdapat banyak sekali hari-hari penting, yang harus di suarakan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan menyadarkan masyarakat.

Lantas bagaimana cara mahasiswa menyuarakan itu semua dan harus turun jalan jika hanya di beri kesempatan tiga kali untuk tidak mengikuti pertemuan kelas dalam satu semester?

 

 

Reporter : Halida Fitri dan Itsna Rahma Nurdiani

Editor : Dyah Retn Utami

You may also like

Membedah Visi Misi Calon Perwakilan Mahasiswa Lewat Kampanye Monologis

lpmrhetor.com – Kampanye Monologis untuk pemilihan ketua DEMA