‘Sekolah’ di Luar Sekolah

Fopperham, lembaga yang berupaya mengisi ruang kosong yang belum terjamah pemerintah dalam pemenuhan hak pendidikan untuk anak-anak jalanan.”

Aku adalah insan yang saat ini sedang menyandang status sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan, agen pengontrol dalam masyarakat karena dianggap sebagai orang terdidik. Namun bukan itu yang akan ku goreskan, tapi bagaimana memaknai pendidikan itu sendiri. Menilik Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Seyogyanya pendidikan dapat dinikmati oleh semua kalangan. Bukan hanya kalangan berduit, tapi juga kalangan melarat. Di Yogyakarta tempatku bernaung, kota berjuluk kota pelajar ini, semestinya lebih dekat dengan yang namanya pendidikan. Sejalan dengan itu, menyambut Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, sebagai salah satu anggota lembaga Pers Mahasiswa, aku berhasrat untuk ikut menyemarakan moment tersebut dengan menggaungkan perihal hak anak-anak yang masih belum tersentuh pendidikan.

Ceritaku berawal ketika matahari masih bersinar terik meskipun waktu telah menunjukan pukul 15.45 WIB. Jumat sore itu (27/4)  bersama dengan sepeda motor titipan orang tua yang diamanahkan kepadaku, aku menyusuri jalanan Yogyakarta yang semakin macet karena jam pulang kerja. Memulai start dari Pondok Pesantren Al-Munawwir-Krapyak (karena aku nyantri disana), berjalan menuju ke arah jalan Magelang. Hingar-bingarnya kota mengiringi lajuku. Setiap pemberhentian lampu merah, pandanganku mengamati perempatan jalan yang seolah menjadi panggung pertunjukan bagi “orang-orang jalanan”. Ada pengamen cilik dengan kicrik-kicriknya, pengamen bermodalkan tutup botol sprit yang disulap menjadi alat musik hingga pengamen angklung yang bisa menciptakan harmonisasi musik nan apik.

30 menit perjalanan yang ku tempuh mengantarkanku sampai di pertigaan Kricak. Di sana seorang temanku telah menunggu. Ku lihat ia tak sendiri, ia bersama beberapa orang yang tak ku kenal. Setelah memarkir motor di depan kedai burger, aku menyalami mereka satu persatu. Tujuanku menemuinya ialah untuk ikut kegiatan sebuah lembaga yang bergerak di bidang isu pendidikan dan hak asasi manusia. Adalah Fopperham (Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia) organisasi yang memiliki visi pendidik dan pejuang hak asasi manusia dalam penyelesaian pelanggaran HAM dan melayani serta memperkuat kelompok-kelompok korban pelanggaran HAM. Saat ini direktur Fopperham digawangi oleh M.Noor Romadlon atau yang akrab disapa Andon dan Astri Wulandari sebagai koordinator divisi pendidikan serta beberapa anak muda yang menjadi relawan.

Di sekitar daerah Borobudur Plaza tepatnya di pertigaan Kricak merupakan salah satu dari tiga titik dimana Fopperham memulai pendekatan dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dari pertemuan itulah aku mendapat informasi mengenai kegiatan yang dilakukan. Bahkan aku mengamati sendiri ketika itu ada seorang ibu-ibu pengemis yang mereka sapa untuk diajak berdialog.

“Mereka biasanya keluarnya sore-sore kayak gini sampai malem”, ujar Astri yang kembali setelah dari sebrang jalan bertemu ibu pengemis.

Selang beberapa lama kemudian, di seberang jalan yang lain muncul anak kecil yang jempalitan di zebra cross saat rambu lalu lintas sedang berwarna merah, tentunya setelah atraksi yang dilakukannya ia berharap mendapat imbalan rupiah dari para pengguna jalan. Namun, ketika akan ditemui sang anak malah lari ketakutan sehingga gagal untuk diajak berdialog.

Matahari mulai kembali keperaduannya, hingga sinarnya harus diganti dengan sinar bola lampu disetiap pinggir jalan. Kami memutuskan berpindah tempat untuk mengobrol. Disebuah rumah makan bernuansa modern dengan corak warna merah dan putih, tak jauh dari tempat awal kami bertemu. Kami memesan makan untuk mengisi perut dan aku mencoba menggali informasi disana. Aku penasaran mengapa Fopperham mengangkat isu pendidikan untuk anak jalanan? Bukankah hal itu sudah menjadi tugas dari pemerintah?

Andon menjelaskan “Pemenuhan hak terhadap anak yang hidup di jalanan itu kan sudah dilakukan beberapa pihak, yang berwenang tentunya adalah pemerintah. Pemerintah, melalui beberapa programnya memberikan bantuan, baik berupa material, seperti santunan atau tabungan untuk anak yang di jalan, itu yang pertama. Yang kedua, pemenuhan hak untuk anak jalanan yang hidup di panti yang dimiliki oleh pemerintah. Melalui panti itu juga sudah relatif banyak hak-hak yang dipenuhi termasuk hak pendidikan, mereka bisa belajar dan ikut kejar paket sesuai jenjang usianya. Panti juga berfungsi sebagai orang tua asuh untuk tempat bernaung mereka.

Yang ketiga, pemerintah melalui Kementrian Sosial, lewatnya Dinas Sosial Kota dan Dinas Sosial Provinsi. Dinas Sosial Provinsi untuk mencegah atau mengurangi anak yang hidup di jalanan itu penanganannya model pendekatan “kekuasaan” setempat. Ketika mendapati anak-anak di jalanan, maka nantinya akan diadakan CC  (Case Conference). CC yang difasilitasi Dinas Sosial itu akan memanggil orang tua anak yang hidup di jalanan, pekerja sosial (PSM) setempat, lurah setempat, RT dan RW setempat di mana si anak jalanan tersebut tinggal. Kemudian mencari solusinya bersama-sama, masalahnya apa, apa penyebabnya mereka turun di jalanan intinya pendekatan kekuasaan. Singkatnya, dalam pertemuan itu lah pemerintah dan tokoh masyarakat setempat diajak bicara secara instant untuk mencari solusinya.

Selanjutnya, Dinas Sosial  Kota juga memiliki pendekatan sapaan anak jalanan. Mereka ke “lapangan” kayak gini ke perempatan di mana tempat-tempat mereka nongkrong, kemudian disapa konsepnya untuk nggriseni. Nggriseni itu membuat tidak betah anak di jalanan, sedapat mungkin/seminimal mungkin di jalanan.” Kalau ada anak yang menjadi penduduk Kota Yogyakarta, mereka akan mendapatkan pelatihan ketrampilan. Seperti pelatihan ketrampilan potong rambut, sablon, dan stel roda-tambal ban. Pelatihan ini diharapkan menjadi bekal untuk anak supaya dapat mentas dari jalanan”.

Aku masih terus menyimak apa yang disampaikan Andon. Beliau menambahkan “Saya bersama teman saya, melihat ada ruang yang belum diisi dengan pola-pola pendekatan itu, seperti pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak yang tidak mau di panti? Mereka yang tidak didata oleh Dinas Sosial. Misalnya anak yang orangtuanya ber-KTP di luar Kota Yogya atau DIY? Balita, sekitar usia sebelum Sekolah Dasar (SD) yang hidup di jalanan bersama orang tuanya? Mereka inilah yang kadang-kadang masih luput dari pelayanan pemenuhan haknya yang disediakan pemerintah. Kami ingin mengisi ruang itu, dengan apa? Dengan membantu pendidikan di tempat mereka mangkal, di tempat mereka yang biasa kumpul, di tempat mereka ngamen, di tempat yang mereka biasa mengemis dan lain sebagainya”.

Ada dua tempat yang akan diupayakan Fopperham dalam pemenuhan hak pendidikan untuk anak yang hidup di jalanan. Saat ini kegiatan yang sudah terlaksana bertempat di perempatan Ringroad Terminal Giwangan dengan jumlah lima anak dampingan di bawah usia lima tahun. Biasanya kegiatan belajar bersama dilakukan setiap sabtu pukul 14.00 s/d 17.00, seperti belajar memasang puzzle, mewarnai dll. Kegiatan ini telah berjalan sekitar enam bulan yang lalu. Sedangkan yang kedua akan mulai dirintis di bawah Jembatan Pingit.

Kondisi lapangan selalu mengalami dimanika sosial, seperti yang disampaikan Astri bahwa dalam kurun waktu enam bulan terakhir, mulai ada pergerakan yang terjadi, bahkan dari orang tua anak yang menjadi dampingan “Paling enggak orang tua mereka (anak-anak) itu menjadi paham apa yang boleh dilakukan dan tidak. Misalkan anak yang melihat orang tunya merokok, secara otomatis anaknya menjadi ikut-ikutan. Setiap mendapat putung rokok, karena setiap hari mereka melihat orang tuanya seperti itu, mereka ikut-ikutan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kami mulai memahamkan kepada orang tua anak-anak ini. Berlahan-lahan mereka mengerti dan menjauh ketika sedang merokok. Belum lagi masalah makanan dan asupan gizi untuk anak-anak. Masak anak belum genap dua tahun setiap hari sudah diberi minum es. Ini kan tidak baik untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Meskipun menurut banyak orang itu simple, tapi mereka para orang tua perlu dipahamkan mengenai hal-hal tersebut. Mengingat beberapa orang tua dari mereka masih berusia sangat muda”. Terangnya kepada kami.

Kepedulian mereka terhadap pemenuhan hak pendidikan kepada anak-anak jalanan bukan tanpa alasan, menurut Andon ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi mengupayakan kesejahteraan untuk keluarga, maka anaklah yang harus didorong untuk memutus rantai kemiskinan tersebut melalui pendidikan.

 

Reporter: Irfan Asyhari

Editor: Dyah Retno Utami

You may also like

Kampanye Monologis FSH: Parpol Kritik Kinerja KPUM

KPUM dan Parpol saling menyalahkan. Tapi seperti biasa,