Kehamilan Tidak Diinginkan pada Remaja

sumber: teenpregnancy.com

lpmrhetor.com – Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukan setidaknya ada 23.9% remaja usia 15-24 tahun yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan sebanyak 2.6% usia dibawah 15 tahun. Selama satu tahun terakhir, Dinas Kesehatan DIY juga telah mencatat 611 kasus KTD.

Riset lain menunjukkan 1 dari 20 remaja pernah melakukan hubungan seksual, 1 dari 19 diantaranya melakukan hubungan seksual karena dipaksa, 94% remaja telah terpapar pornografi, dan 3 dari 5 remaja tidak mengetahui resiko kehamilan, walaupun telah melakukan satu kali hubungan seksual.

Hasil riset tersebut disampaikan oleh dr. Prahesti dalam acara diskusi “Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja” yang diselenggarakan oleh UNALA di CGV Hartono Mall, Rabu (28/08).

Prahesti juga menjelaskan bahwa saat ini permasalahan remaja sudah semakin kompleks, terutama dalam kasus kesehatan reproduksi.

“Jumlah remaja yang hamil ini yang menjadi PR [pekerjaan rumah-red] kita dan ini juga merupakan sebuah fenomena gunung es,” ujarnya.

Riset dari Dinas Kesehatan tentang  Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) di sekolah pun tak kalah mencengangkan.

Pada anak SMP dan SMA, sebanyak 61.24% mengaku tidak pernah diajarkan tentang apa yang harus dilakukan ketika seseorang mencoba memaksa untuk melakukan hubungan seksual, 20.38% menjawab pernah diajarkan, dan 18.38% tidak tahu tentang ada atau tidaknya materi tersebut.

SRH Officer UNALA, Putri Khatulistiwa pun menyayangkan ketidakmaksimalan informasi kepada remaja. Menurutnya, akses informasi pada remaja yang memadai bisa menekan resiko kesehatan reproduksi.

“Kalau remaja punya akses informasi di awal, dia akan tahu, kalau melakukan hubungan seksual itu dia bisa hamil dan mendapat resiko kesehatan lainnya,” jelasnya.

Ketidaktahuan berbuah masalah.

Informasi dan pengetahuan tentang seks yang kurang merata menimbulkan banyak masalah, dan kerugian yang sangat terlihat adalah sulitnya perempuan untuk tetap bersekolah.

Kasus KTD  pada pelajar dinilai sebagai kasus amoral, sehingga tidak sedikit institusi modern (sekolah) yang melakukan “penertiban” dengan memberlakukan sistem drop out bagi pelajar yang diketahui hamil atau menghamili.

Dari segi pendidikan, laki-laki lebih beruntung daripada perempuan. Ia masih bisa melanjutkan sekolahnya, meski harus pindah dari institusi sebelumnya.

“Nggak boleh sekolah lagi, karena jejak seksualitas ada pada perempuan, perutnya akan segera membesar yang dianggap akan menjadi contoh yang nggak baik buat teman-temannya, sedangkan laki-laki masih bisa ke sekolah,” tutur Putri.

Tak hanya persoalan pendidikan, perempuan yang mengalami KTD, terlebih korban pemerkosaan akan kehilangan harapan, dan masa depannya. Ia mendapatkan stigma, kekerasan psikis, seksual, dan ekonomi dalam satu waktu yang sama.

Putri menambahkan bahwa masyarakat selalu terjebak pada situasi lebih menyelamatkan nama baik daripada menyelamatkan masa depan, tanpa memikirkan psikologi dan mental perempuan.

“Korban pemerkosaan dinikahkan dengan pemerkosa demi nama baik, terbayang nggak? Dia akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Perlu dipertanyakan, nama baik itu atas nama baik keluarga atau nama baik siapa?” imbuhnya.

Penulis sekaligus aktivis gender, Kalis Mardiasih mengungkapkan bahwa pernikahan bukan akhir dari KTD, karena berbagai masalah baru akan muncul bahkan setelah menikah. Tidak adanya kesiapan ekonomi, sosial, maupun mental dapat berpotensi menimbulkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ikatan pernikahan tentu sangat berbeda dengan pacaran, karena pernikahan juga akan berkaitan dengan sistem sosial masyarakat.

Oleh karenanya, Kalis menekankan bahwa remaja seharusnya berfikir ulang sebelum bertindak, terlebih bagi laki-laki. Seharusnya ia tidak hanya memandang perempuan sebagai objek seksualitas atau pemuas dari rasa penasaran saja. Tubuh sekaligus organ reproduksi yang dimiliki perempuan memiliki esensi dan nilai penting bagi kemanusiaan.

“Tubuh perempuan itu bukan sekedar barang mati yang menjadi objek seksualitas yang memenuhi naluri naluri atau pikiran-pikiran misoginis. Jadi, pikirkan sekali lagi. Apalagi kalau untuk melakukan kekerasan itu udah haram banget,”

Kalis juga menambahkan tentang pentingnya menanamkan pemikiran bahwa remaja, baik perempuan maupun laki-laki adalah individu yang merdeka.

“Posisi kalian tetap sebagai individu yang merdeka, yang punya tanggungjawab, yang punya cita-cita, yang harus dikomunikasikan dan bisa tetap maju bareng-bareng,” pungkasnya. []

Reporter: Dewi Sinta N.

Editor: Isti Yuliana

You may also like

Surat Pernyataan Keputusan Bersama Bukan Akhir dari Perjuangan

lpmrhetor.com – Selasa (30/06/2020), puluhan mahasiswa melakukan aksi