Pangdem Riwayatmu Kini Terancam

Penggusuran Pangdem.

Oleh: Hadi Mulyono

Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) adalah kampus panas. Panas karena mahasiswanya sering melakukan aksi demo, meski sekarang tengah sedikit vakum karena liburan. Panas ruang kelasnya bukan karena debat argumentasi antar mahasiswa, tetapi karena minimnya AC. Situasi yang berimbas pada tidak kondusifnya otak untuk diajak berpikir. Kondisi yang cukup dibilang membara pula di area lingkungan sekitar sebab minimnya ruang terbuka yang hijau.

Poin terakhir di atas merupakan masalah krusial saat ini. Dari sekian banyak persoalan yang membuat kampus panas trsebut, nampaknya akan semakin lengkap menyusul segera berdirinya gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Gedung yang ditargetkan selesai dalam lima bulan tersebut akan dibangun berdekatan dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Tepatnya adalah di area panggung demokrasi (Pangdem) dan parkiran FDK saat ini. Artinya, FEBI yang semula berada di Hotel UIN SUKA akan angkat kaki dan beralih di kampus pusat sehingga dapat dibayangkan akan seperti apa sesaknya kampus pusat nantinya.

Gedung tersebut nantinya akan menggusur Pangdem dan parkiran FDK saat ini. Pro-kontra jelas mengiringi pembangunan tersebut di samping juga memunculkan beberapa pertanyaan. Mengapa harus di Pangdem? Kemana lahan parkir akan dipindahkan? Apakah dibongkarnya Pangdem menjadi langkah untuk membungkam suara mahasiswa?

Pangdem atau panggung demokrasi saat ini dinilai tak sesuai dengan namanya. Yang mana di tempat tersebut kini lebih banyak dijumpai mahasiswa pemburu WiFi, mahasiswa pacaran, atau juga jomblo-jomblo kesepian yang berkeliaran. Paling mentok Pangdem dijadikan panggung party atau ceremonial beberapa acara yang sebetulnya bisa menyewa panggung bongkar pasang seperti yang biasanya digunakan di depan poliklinik. Apabila melihat namanya, panggung tersebut harusnya difungsikan untuk ruang-ruang diskusi, ruang kelas alternatif atau bahkan memobilisasi massa lewat orasi dan sebagainya. Ketika fungsi tersebut tak lagi berjalan, Pangdem bisa saja dibongkar jika memang keadaan saat ini penuh dengan kemubaziran.

Lahan-lahan kosong seperti di belakang Student Center (SC) dan area gedung olahraga (GOR) UIN SUKA sebenarnnya bisa menjadi tempat ideal untuk FEBI. Bisa dilihat area di belakang SC saat ini masih terdapat tanah dan gedung laboratorium Sains yang terbengkalai. Kemungkinan sekarang justru dijadikan tempat nongkrong makhluk dari dunia lain. Begitu pula di area GOR yang hingga saat ini masih terdapat lahan cukup luas jika hanya untuk membangun satu gedung baru.

Apabila memang pangdem dan parkiran dibongkar, berarti mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi harus bermigrasi ke tempat lain dalam menaruh kendaraan mereka. Misalkan parkiran dipindah ke area GOR, artinya akan membawa beberapa kerugian. Pertama, jelas soal jarak parkiran dengan fakultas yang jauh. Kedua yang paling vital adalah masalah keamanan. Di tempat parkir saat ini saja, laporan kehilangan barang masih terus terjadi. Padahal parkiran saat ini ramai dengan lalu lalang mahasiswa, apalagi jika di area GOR yang sepi. Setidaknya untuk keamanan mungkin nantinya bisa diterapkan penggunaan tiket, tidak hanya untuk tamu undangan pernikahan seperti yang selama ini sudah diterapkan.

Dampak lain dari pengalihfungsian Pangdem adalah semakin minimnya ruang terbuka untuk bercengkrama antarmahasiswa. Selama ini ruang favorit yang tersedia masih di kantin fakultas meski banyak yang mengatakanan kantin saat ini mahal. Kemungkinan sayap timur gedung Multi Purpose (MP)-lah yang menjadi alternatif mahasiswa nanti.

Pembangunan tersebut sepertinya luput dari pengawalan mahasiswa. Bahkan muncul intrik dari beberapa pegawai kampus yang menanyakan kemana para aktivis. Sejauh ini, nampaknya aksi penolakan masih sebatas update status lewat media sosial belaka. Perlu adanya pengawalan terkait dana, kualitas bangunan, serta dampak-dampak lingkungan dan sosial di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan