Oleh: Ihda Nurul Sholehah
Karena setiap gundah harus bermuara
Dan rindu harus terbayar bagai hutang
Maka
Kusampaikan gundah juga rinduku
Pada alam yang makin hari makin garang
Gundahku melihat adik kecil di sudut rumah—asyik melihat Utaran
Gundahku melihat artis-artis saling memaki, katanya itu hiburan
Gundahku melihat berita, isinya melulu tentang Pokemon
yang marak meski dilarang
Gundahku jika ke pasar, tawar-menawar,
tetap saja harga makanan tak bisa terbayar
Gundahku melihat sawah kuning coklat kering, panen gagal
Gundahku melihat desa hijau, hijau yang dulu sekarang jadi abu-abu macam aspal
Gundahku banyak yang putus sekolah karena SPP mahal
Gundahku melihat pelajar tak suka ke perpustakaan, sukanya malah pacaran
Gundahku melihat Instagram penuh barang mewah, tapi banyak juga yang masih makan sampah
Gundah, gundahku berbalut kerinduan
Kerinduan pada alam kaya Indonesia, rinduku Indonesia hanya milik kita,
kapan?
Kerinduan pada teladan para pahlawan, rinduku pada negarawan tanpa saling tikai,
kapan?
Kerinduan pada keadilan, rinduku pada perlakuan sama di dalam gedung pengadilan,
kapan?
Kerinduan pada guru, guru-guru seperti dulu, kurindu pendidikan moral di nomorsatukan,
kapan?
Kerinduan pada kedamaian, kurindu tiap suku, ras dan agama saling berangkulan,
kapan?
Kerinduan akan kemakmuran yang kau elukan, kurindu engkau yang kupilih ternyata tak ingkar janji,
kapan?
Kurindu alam kaya Nusantara, pemimpin—pemerintah adil, rakyat sejahtera, segenap tumpah darah Indonesia makmur sentosa,
kapan?
Argopuro, 24 Juli 2016
10:09 WIB
