Seperti Dendam Maaf Harus Dibalas Tuntas

ilustrasi
Oleh : Suhairi Ahmad*

Tepat di penghujung hari pada bulan Ramadhan, suasana menyambut hari raya Idulfitri mulai terlihat. Dimulai dari takjil yang cukup berbeda. Takjil di hari terakhir dengan bungkus kotakan nasi. Biasanya takjil hanya disediakan dengan piring. Setidaknya ini fenomena yang terjadi di masjid samping kantor walikota Yogyakarta itu.

Malam hari raya, aku bersama seseorang yang kebetulan juga tidak pulang sengaja keliling selepas Isya. Tujuan utamanya ialah cari pangkas rambut. Minimal walaupun kami berdua tidak pulang kampung dan membeli baju baru, setidaknya penampilan rambut membuat kepala kami terlihat berbeda. Kami menyusuri area Papringan, Gowok hingga daerah Gedongkuning—namun tak satu kali pun kami menemukan pangkas rambut. Sepertinya para pemilik pangkas terlibat menjadi massa aksi di setiap kompleksnya dan berubah menjadi jamaah takbir keliling.

Suasana riuh malam hari raya diwarnai beraneka ragam perayaan takbiran takbiran. Bayangkan saja tiap kampung, tiap kompleks, bahkan tiap masjid melakukan takbir kelilingnya masing-masing. Ada yang menggunakan cara mainstreem—dengan mobil pick-up dan beduk. Ada pula yang memakai drum band serta beraneka ragam hiasan yang telah disiapkan. Seperti kota lain, Jogja di malam hari raya turut meramaikan ritual keagamaan ini.

Tradisi takbir keliling ini pun—secara tidak langsung—menjadi suatu hal yang tak boleh ditinggalkan. Perayaan hari raya rasanya belum sah jika takbir keliling ditiadakan. Sampai beberapa hari sebelum hari raya lalu, salah satu ormas Islam di Jakarta memaksa dan ngotot untuk tetap mengadakan takbir keliling.

Selain perayaan yang bersifat komunal, perayaan hari raya bagi yang berkecukupan dilaksanakan di setiap rumah. Masing-masing rumah sudah pasti menyiapkan hidangan yang cukup menggugah lidah, meja-meja bertaplak cantik dan susunan piring-piringnya terlihat sarat dengan hidangan berkolesterol tinggi. Mulai dari opor ayam, rendang, hingga berbagai jenis sate. Tentu, bagi kalian yang sedang darah tinggi disarankan tidak mengonsumsinya dan bersiap-siap untuk ngiler karena terpaksa harus melewatkan momen penting dan gratis ini.

Di samping perayaan yang bersifat dhohir seperti yang disebutkan diatas, biasanya sebagian orang tak lupa membeli seperangkat baju dengan penampilan baru. Walaupun tidak membeli baju, setidaknya mereka potong rambut dengan gaya baru.

Kesempatan hari yang fitri itu digunakan oleh sebagian besar orang sebagai kesempatan untuk bermaaf-maafan satu sama lain. Kepada orang tua yang telah melahirkan, merawat kita sampai detik ini. Kepada para guru yang telah mengajarkan huruf kepada kita—dari yang tidak tahu menjadi tahu. Juga kepada para kerabat, sahabat, dan kawan-kawan yang berada dalam proses perjalanan hidupya masing-masing. Perjalanan yang memberikan makna tersendiri bagi setiap orang.

Namun bagiku, ada hal yang seringkali kita lewatkan dalam kesempatan sekali setahun itu. Kita belum sempat meminta maaf kepada diri kita sendiri. Kepada raga, jiwa, serta pikiran kita. Seringkali diri kita berbuat zalim kepada diri kita sendiri. Raga kita seringkali dimakani dengan berbagai zat kimia yang tercampur dalam makanan hingga lambat laun merusak raga. Jiwa kita seringkali jarang diberi asupan dan pikiran kita seringkali belum jernih memandang persoalan karena minimnya bacaan. Maka sudah sepantasnya kita memohon maat kepada diri kita sendiri, sebab seringkali lalai dan kurang memerhatikan kebutuhan dasar jiwa dan raga kita masing-masing.

Momen maaf-memaafkan dalam Idulfitri ini tidak hanya dalam pemaknaan secara harfiah. Pemaknaan kita terhadap hari raya Idulfitri ini sekaligus sebagai hari kemenangan. Walaupun sejatinya kita belum sepenuhnya dalam kemenangan yang sedang diimpikan. Sebuah kemenangan di mana tak ada lagi dendam atas ketidakadilan yang dilakukan baik individu maupun komunal. Terlebih dendam atas kebijakan yang telah dilakukan oleh para elit pemerintahan. Tidak. Ini belum sepenuhnya mencapai kemenangan, kita masih berproses untuk mencapai kemenangan. Musuh sejatinya manusia—selain diri sendiri, ialah sekotak misteri di balik huruf-huruf yang bersekutu menjadi kata ketidakadilan.

Ketidakadilan menjadi latar atas segala ketertindasan. Rumah digusur, tanah dirampas, orang yang tak punya kuasa harus kalah atas para pemilik kekuasaan. Ketidakadilan menciptakan jurang yang sangat dalam antara mereka yang tak punya apa-apa dengan mereka yang berlimpah harta.

Kemenangan di hari yang fitri ini menjadi titik balik dalam sebuah proses pembebasan. Pembebasan atas ketertindasan, atas ketidakadilan, dan atas sebuah kemenangan yang sejati.

Sebuah Catatan Refleksi

            Selain pemaknaan secara transenden kepada Pencipta, hari raya merupakan relasi yang imanen terhadap segala yang ada di muka bumi. Di sepanjang tanah yang membentang dan samudera yang membelah ceruk-ceruk tebing, dalam jajaran rasi bintang di alam semesta ini kita tak hanya memiliki hubungan yang saling terkait hanya antar manusia. Ia juga memiliki salingketerkaitan dengan seluruh properti Tuhan yang ada di alam semesta ini. Hutan, gunung, binatang, air, tanah, tumbuhan dan banyak lagi jenis makhluk hidup di dunia ini. Semua itu merupakan sebuah ekosistem yang rapi—alur hidup paling sistematik di mana kelak membentuk rantai makanan satu sama lain. Jika rantai makanan itu ada yang terputus, maka ia bisa menjadi sebuah ancaman yang cepat atau lambat membuahkan bencana bagi manusia.

Islam mengajarkan trilogi hubungan manusia yang semuanya berjalan secara integral. Hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Meski begitu, kita sering lupa. Terlalu fokus pada dua hal pertama sehingga kita lupa pada hal ketiga yang seyogianya tak boleh ditinggalkan—hubungan manusia kepada alam.

Di dataran Kalimantan, orang utan kehilangan hutan sebagai habitatnya. Orang utan ditembak tanpa belas kasihan tepat di tengah pemukiman warga. Ia tak lagi menemukan hutan yang menjadi habitat aslinya, seluruh pohon rindang dan tanah basah yang subur sudah berganti menjadi lahan kelapa sawit. Hutan Kalimantan tak lagi dikenal dengan hutan tropis melainkan berganti nama menjadi hutan sawit. Selain persoalan hilangnya kehijauan hutan raya, kita tak boleh lupa lubang bekas tambang batu bara yang sudah menumbalkan kurang lebih 20 anak di Samarinda. Sama halnya seperti sawit, tambang batu bara merupakan ancaman nyata di Tanah Kalimantan.

Jawa tak kalah mengkhawatirkan sebab di berbagai daerah mengalami pertentangan soal agraria. Bukan hanya berhadapan dengan korporat, melainkan hari ini rakyat harus mau menyingsingkan lengan dan berpijak tepat di muka pemerintah. Para pengatur tak beraturan yang kemudian menjadi kepanjangan tangan dari pemilik modal. Tanah rakyat dirampas dengan dalih perbaikan ekonomi. Masyarakat yang damai bertani dipaksa harus meninggalkan ladangnya karena tanah itu hendak dialih fungsikan menjadi pabrik, bandara, pertambangan dan lahan perhotelan. Tentu ini bukan untuk menguntungkan rakyat, melainkan untuk melayani nafsu para korporat. Dataran Kendeng di Rembang, Yogyakarta dengan hotelnya, Urut Sewu-Kebumen, Lumajang dan banyak lagi yang boleh lepas dari perhatian.

Di Sumatera, gajahnya habis-habisan diburu untuk diambil gadingnya. Pertentangan tanah adat yang hendak direklamasi di Bali. Dan banyak lagi di berbagai pelosok negeri yang mengalam persoalan sangat serius.

Manusia-manusia Indonesia harus segera mawas diri. Alam sudah mulai menua dan ekosistem sudah carut marut. Ketiga hubungan integral itu tak boleh terputus satu sama lain. Karena jika terputus, maka tunggulah masa kehancuran itu akan tiba. Persoalan keyakinan harus tetap dijaga beserta hubungan kita kepada manusia. Namun kita tak boleh lupa alam merupakan bagian di dalamnya.

Meminjam judul novel Eka Kurniawan yang sedikit digubah menjadi “Seperti Dendam, Maaf Harus Dibayar Tuntas”, menjadikan maaf bukan hanya soal kala tangan berjabat lalu kita saling berpelukan. Kata maaf di hari yang fitri ini merupakan maaf yang sejatinya menjadikan kita sebagai seorang manusia yang kafah. Manusia yang setia menjadi khalifah penjaga bumi. Menjalin persaudaraan kepada seluruh manusia tanpa membeda-bedakan. Sekaligus menjadi pelestari semesta yang sudah tak lagi muda.

Maaf merupakan bentuk kesadaran atas apa yang telah kita lakukan kepada siapa pun. Kepada diri, kepada orang lain, kepada Tuhan serta kepada alam. Maaf tak hanya soal ucapan, melainkan harus termanifestasikan dalam perbuatan.

 

Yogyakarta, 03 Syawal 1437/ 08 Juli 2016, 03.51 am

 

*si Maniak buku dan seorang pengelana yang belum sudi meninggalkan Yogyakarta.

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan