Disertasi Kontroversial Berakhir Direvisi

Selasa (03/09), Konferensi Pers di Aula Pascasarjana, UIN Sunankalijaga / doc. Rhetor.

lpmrhetor.com – Penulis disertasi yang berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrour Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital”, Abdul Aziz meminta maaf atas tulisannya yang berujung kontroversial. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan akan merevisi disertasinya dan mengganti judul menjadi “Problematika Konsep Milk al-Yamin Dalam Pemikiran Muhammad Syahrour”.

“Saya menyatakan akan merevisi disertasi tersebut berdasarkan atas kritik dan masukan dari para promotor dan penguji pada ujian terbuka, termasuk mengubah judul,” ungkap Aziz dalam konferensi pers di Aula Pascasarjana, UIN Sunan Kalijaga, Selasa (03/09).

Aziz pun berjanji akan terus mengikuti prosedur sesuai arahan dari pihak kampus. “Saya tentu masih mengikuti prosedur-prosedur yang ada di kampus ini, konsultasi dengan promotor. […] Dari awal sudah bongkar pasang terkait hal ini dengan promotor, tentu setelah ini masih tarik ulur,” jelasnya.

Kenapa perlu direvisi?

Pasca berita diloloskannya disertasi kontroversial milik Abdul Aziz memenuhi ruang publik, UIN Sunan Kalijaga membuat klarifikasi dengan mengadakan konferensi pers pada Jum’at (30/08).

Konferensi pers pertama dihadiri oleh Yudian Wahyudi selaku ketua sidang dan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Khoirudin dan Sahiron selaku promotor, serta empat penguji, yakni Agus Moh Najib, Samsul Hadi, Euis Nurlailawati, dan Alimatul Qibtiyah.

Yudian pun sempat memberikan pernyataan tentang bahayanya konsep Muhammad Syahrour bila diterapkan di Indonesia. Menurutnya, konsep tersebut bisa menjadi legitimasi seks di luar pernikahan yang sah, bahkan meruntuhkan negara.

“Itu sangat berbahaya kalau dilegalkan, sebetulnya itu meruntuhkan negara dari dalam,” terangnya.

Secara akademik, Aziz memang telah melakukan penelitian secara kritis dan sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Konsep Syahrour pun telah dikaji olehnya. Tidak hanya sekedar eksplanatori, tetapi juga analisis kritik, baik dari segi linguistik maupun dari sisi pendekatan gender. Ia bahkan mendapat nilai sangat memuaskan dari akumulasi disertasi dengan nilai kuliahnya.

Meskipun demikian, kritik tetap datang dari para penguji dan tim promotor.

Khoirudin mengatakan bahwa dalam disertasi Abdul Aziz telah mengkritik konsep Syahrour dengan menyebutkan adanya bias-bias subyektivitas. Bias yang dimaksud, Syahrour ingin mengubah hukum zina pada sentimen pribadi (politik), bukan atas pembuktian. Sayangnya, dalam abstrak Aziz tidak menulis kritik tersebut.

Ia justru menyebut konsep Syahrour ini sebagai teori baru dan dapat dijadikan justifikasi keabsahan hubungan seksual non-marital. Kalimat yang tidak sinkron juga menjadi bagian dari keberatan tim penguji promosi. Akhirnya, tim meminta Aziz untuk menyempurnakan abstrak sesuai dengan isi disertasi.

Selaku promotor, Sahiron juga berpendapat serupa. Konsep Syahruor ini mempunyai banyak problematika yang cukup pelik. Wawasan tradisi, kultur, dan sistem hukum keluarga di negara lain turut mempengaruhi subyektivitas Syahruor.

Subyektivitas yang nampak berlebihan tersebut, kemudian memaksa agar ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan pandangannya. Banyak makna historis dan pesan utama ayat-ayat tentang Milk al-Yamin yang tidak ditangkap oleh Syahrour, sehingga penafsirannya menjadi problematis.

Penguji disertasi, Euis juga menyayangkan adanya pengunaan bahasa atau redaksi yang cukup membingungkan. Hal tersebut dilatar belakangi oleh kealpaan Aziz dalam menyematkan phrase “dalam prespektif Syahruor atau dalam kacamata Syahruor” pada disertasi maupun di ajang promosi, sehingga terbaca dan terdengar bahwa penulis mempunyai pandangan yang sama dengan Syahruor terkait konsep Milk al-Yamin berhubungan seksual di luar nikah itu sah dalam syariat Islam.

Tak luput Euis mengkritik konsep Syahruor. Menurutnya, interpretasi Syahruor terhadap istilah Milk al-Yamin dalam batas tertentu justru bertolak belakang dengan teori limit atau batas hukum, di mana ia juga terkesan abai terhadap posisi ‘urf (tradisi) dan penetapan hukum yang tidak memenuhi standar kelayakan maslahah. Keinginannya memberi perlindungan terhadap perempuan, justru bertabrakan dengan konsepnya yang merendahkan perempuan.

Alimatul Qibtiyah menambahi bahwa hubungan seksual non-marital akan melahirkan banyak problematika. Permasalahan perbudakan adalah hal yang serius, karena menjadikan perempuan tidak diakui kemanusiaannya, tidak mendapatkan akses ekonomi, menjadi obyek seksual, dan tidak punya otonomi terhadap tubuhnya sendiri.

“Karena itu tidak sepatutnya, justru dicari bentuk perbudakan baru dengan konsep pernikahan non-marital yang hanya berorientasi pada pemenuhan hubungan seksual, dan mengabaikan hak-hak perempuan dan anak,” tegasnya.

Kesimpulan Akhir Disertasi?

Mau tak mau, kritik dan saran yang fundamental dari penguji dan promotor pun mengharuskan Abdul Aziz merevisi disertasinya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Direktur Pascasarjana, Noorhaidi Hasan pada konferensi pers ke-dua (03/09).

Sejak awal pengajuan judul disertasi, Noorhaidi sudah berharap agar Abdul Aziz bisa melihat Syahrour dengan kacamata analisis kritis. Sehingga dapat menunjukkannya dalam konteks akademik dan memberikan sumbangan terhadap perdebatan teoritis kesarjanaan mengenai tafsir yang berkembang di dunia muslim, termasuk kemunculan pemikiran-pemikiran yang kontroversial saat ini.

“Itu sebenarnya proposalnya begitu, ya kita loloskan karena kita beri kesempatan untuk mengkritisi pemikirannya [Syahrour-red],” kata Noorhaidi.

Meskipun mengalami revisi, baik Abdul Aziz maupun Noorhaidi menegaskan bahwa kesimpulan disertasi hanya berkutat pada persoalan akademik yang akan menjawab “what, how, and why” dalam pokok permasalahan tersebut, dan tidak akan menjustifikasi nilainya.

“Kesimpulannya nanti akan fokus melihat pemikiran Muhammad Syahruor itu apa, bagaimana pemikirannya, bagaimana berkembang, dan kenapa Syahruor bisa berpikir begitu. Itu kesimpulan disertasinya,” tegas Noorhaidi.

Noorhaidi pun memberi kebebasan pada Abdul Aziz, jika suatu saat nanti ia ingin mengadopsi ataupun menjadi pemikir seperti Syahrour.

“Kalau Pak Aziz sudah selesai urusan revisi dan dapat ijazah, Silahkan saja kalau mau berfikir seperti Syahrour, itu kebebasan dia [Aziz-red]. Tetapi tidak ada hubungan dengan kami,” pungkasnya.[]

Reporter: Isti Yuliana, Khusharditya Albi

Editor: Ina Nurhayati

You may also like

Surat Pernyataan Keputusan Bersama Bukan Akhir dari Perjuangan

lpmrhetor.com – Selasa (30/06/2020), puluhan mahasiswa melakukan aksi