Merefleksikan Pendidikan Melalui Jajak Literasi “Pendidikan Kaum Tertindas”

Sumber: wordpress.com

Berbagai permasalahan pendidikan masih saja melanda Indonesia saat ini. Misalnya saja perihal pembentukan jati diri seseorang, tentang pendidikan yang mengajarkan kita untuk berpikir kritis. Bukti dari ketiadaan pikiran kritis dapat dilihat dari semakin sedikitnya orang-orang terpelajar di sekitar kita yang mampu berpikir melampaui struktur-struktur yang ada.  Pendidikan lebih diarahkan untuk domestifikasi, pembodohan, dan penyesuaian sosial dengan keadaan penindasan.

Hal tersebut seperti yang dikatakan Eko Prasetyo, penerjemah buku ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah!’ dalam kegiatan jajak literasi yang bertajuk “BIBLIOGRAPHY: Buku Dulu Baru Kamu” di Perpustakaan Fak. Teknik UGM, Rabu (2/5).

Eko mengajak peserta yang hadir untuk kembali melihat realita pendidikan di Indonesia saat ini dan merefleksikannya terhadap salah satu karya fenomenal Paulo Freire yang berjudul “Pedagogy of The Oppressed” dan diterjemahkan menjadi “Pendidikan Kaum Tertindas” oleh Eko Prasetyo.

Dalam diskusi tersebut Eko juga menjelaskan bahwa pendidikan saat ini cenderung memunculkan hegemoni pendidikan, artinya guru atau pendidik dianggap satu-satunya sumber belajar, sumber kebenaran. Celakanya hal tersebut menjadikan beberapa pendidik merasa memiliki status yang lebih tinggi di atas peserta didiknya sehingga menggiring nalar berpikir menjadi seorang penindas. Siswa dinilai pandai apabila telah mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan sang guru, yang mana nyatanya sang guru hanya berfokus pada hal-hal eksakta. Banyak pendidikan saat ini yang tidak memberikan kebebasan kepada peserta didik. Kebebasan di sini yang dimaksud adalah memberikan anak kepercayaan diri bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih dari apa yang diketahuinya, sehingga antara pendidik-peserta didik seharusnya saling belajar.

Problematika lainnya adalah relasi antara kapitalisme dan pendidikan. Salah satunya dilihat dari praktik spesifikasi ilmu pengetahuan. Adanya spesifikasi tersebut memunculkan sosok-sosok ahli dalam suatu bidang keilmuan tertentu. Hal tersebut sebenarnya memerlukan suatu proses akumulasi. Yang mana dari masing-masing ahli saling bersatu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, membangun peradaban, menciptakan masyarakat yang lebih baik. Namun ketika hal tersebut mendapat pengaruh dari praktik kapitalisme, yang ada hanyalah kemunculan ahli-ahli yang merasa dirinya lebih mendominasi,  bidang yang ditekuninyalah yang paling unggul dibanding yang lain. Hal tersebut kemudian berujung pada pemaknaan pendidikan hanya sebatas sebagai alat untuk mendapat pekerjaan, status atau kedudukan, dan kekuasaan. Ilmu menjadi sesuatu yang elitis.

Makna utama pendidikan sebagai proses belajar yang sepanjang hayat mulai mengalami pergeseran.

“[Pendidikan] melainkan hanya suatu proses yang bersifat formalistik,” ujar Eko.

 “Proses belajar itu sepanjang hayat. Belajar adalah proses mengubah diri kita. Semakin diri kita belajar, semakin diri kita berubah.” Hal ini dimaksudkan bahwa buah dari belajar sesungguhnya menjadikan kita sosok manusia yang lebih baik.

Seperti pendapat Flaire, pendidikan adalah proses aksi-refleksi yang terus berulang. Kemampuan melakukan refleksi inilah yang saat ini semakin jarang ditemukan dalam proses belajar, sehingga menjadikan pikiran semakin tumpul, tidak mampu berpikir kritis dan dialektik. Dalam proses selajutnya hal tersebut dapat melemahkan pikiran dalam membaca fenomena-fenomena dibalik setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita setiap harinya.

Perkembangan zaman menjadikan banyak dari kita tidak menyadari akan berbagai persoalan pendidikan yang ada. Hal-hal yang sebenarnya perlu untuk dikritisi, menjadi suatu yang terkesan lumrah dan berujung pada pembenaran. Praktik pendidikan semakin jauh dari tujuannya, “Memanusiakan manusia”.

Di penghujung acara, Eko melakukan ajakan kepada semua pihak untuk membaca (lagi) buku karya Paulo Freire tersebut. Mengembalikan kita menjadi manusia yang seutuhnya, yang senantiasa mampu memiliki imajinasi, mimpi, cita-cita, dan harapan. Ia menekankan “… masih ada kebenaran yang pantas untuk diperjuangkan, pendidikan kebebasan yang patut dihadirkan.

Hidup dalam zaman di mana pendidikan sangat carut-marut lantas memunculkan pesimisme. Dapatkah pendidikan di Indonesia bangkit dari segala keterpurukan yang ada? Meminjam ungkapan Freire dalam bukunya yang berjudul “Pedagogi Harapan, Mari kita tetap mempertahankan harapan, kendati realitas yang kejam ini memaksa kita untuk tidak berharap.[]

Reporter: Siti Nur Laili

Editor: Fiqih Rahmawati

 

You may also like

Menuntut UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

UGM dituntut menangani kasus Agni secara serius dan