Mendengar Kisah Wildy tentang Musim Panen dan Nasib Limbah Jagung

sumber: instagram @karotes1

Biarlah hitam , menjadi hitam jangan harapkan menjadi putih...

Biarlah rembulan, diatas sana, jangan harapkan turun kesini...

Begitulah kira-kira, salah satu potongan lirik yang dinyanyikan Tantowi Yahya, yang waktu itu masih sering muncul di radio bus antarkota. Tentu sebelum beliau menjabat sebagai anggota DPR RI. Maksud dari lirik itu, kurang lebih, ya, ikuti saja apa yang sudah seharusnya terjadi sesuai alurnya. Kayanya, sih, begitu.

Namun, bagi teman saya, Wildy, hal kayak begitu enggak berlaku. Mungkin dia tidak tahu dan tidak pernah mendengar lirik lagu ciptaan Rinto Harahap itu. Dan mungkin yang lebih buruk lagi, dia tidak tahu siapa itu Tantowi Yahya, penyanyi country kesayangan kita.

Mengapa saya berkata demikian?

Maka, izinkan saya sedikit bercerita. Ini kisah tentang Wildy dan terobosannya yang “ajaib”, mungkin menurut saya.

Dalam suatu sore di sebuah lopo (warung kopi) di  tepi jalan waktu itu, saya terlibat dalam obrolan yang cukup hangat dengan, Wildy, seorang pemuda desa pada umumnya. Karena memang menurut saya, tidak ada bedanya ia dengan pemuda desa yang lainnya.

Wildy berasal dari keluarga petani. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Jambi. Tepatnya di Universitas Jambi (UNJA). Saya tidak tahu bagaimana proses kuliahnya. Hal yang menurut saya cukup mengejutkan, Wildy ternyata sedang mengikuti program magang di kampusnya, yang berarti ia adalah mahasiswa semester tujuh. Secara tidak langsung, ia mengingatkan saya bahwa saya sudah semester sembilan. MABA alias mahasiswa basi. Innalillahi…

Dengan tidak disangka-sangka, virus corona yang digadang-gadang tidak akan masuk ke Indonesia, ternyata beranak pinak dengan subur di negeri ini. Waktu itu orang-orang begitu percaya pada ucapan menteri perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang berkata, “Tapi (ini) guyonan sama Pak Presiden ya, Insya Allah ya, virus corona tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal,” kira-kira begitu.

Semua orang yang mengira bakal aman-aman saja, tentunya menjadi kaget bukan kepalang. Tak terkecuali Wildy. Ia yang sejak awal berencana magang di kota Bandung, digagalkan oleh keputusan kampus yang melarang mahasiswanya untuk magang di luar daerah masing-masing. Karena tak ingin program magangnya terganggu, Wildy kemudian mencari alternatif program magang melalui internet atau meminta informasi dari kawan-kawannya. Ia akhirnya beruntung ketika mencari informasi melalui internet. Wildy akhirnya mendapatkan program magang di salah satu pabrik kopi, yang berjarak 8 kilometer dari rumahnya. Ternyata, ketika sampai pada alamat yang tertera, tidak ada apa pun di sana. Yang ada hanya rumah-rumah di perdesaan, seperti pada umumnya. Zonk!

Waktu terus berjalan dan tuntutan magang yang kian mendesak. Wildy yang saat itu masih belum menemukan tempat magang, sedang beristirahat sejenak. Tiba-tiba, ia didatangi oleh seorang kakek tua bersandal swallow putih, dan kemudian ikut duduk disampingnya. Kakek itu memberi nasihat agar ia membuat kertas dari jagung.

Wildy yang sedang memanen jagung, memikirkan nasib jagung-jagung setiap musim panen. Petani hanya selalu cukup dengan biji jagungnya saja. Hanya bijinya. Sedangkan bongkol, kulit, dan batang jagung sangat jarang dimanfaatkan, yang kemudian menjadi sampah. Jika sedang sedikit rajin, maka akan dibakar saja. Akibatnya, akan terjadi penumpukan sampah, yang nanrinya bisa mengganggu proses penanaman selanjutnya. Dan jika tanaman jagung sebelumnya sudah terkena hama, maka akan berimbas pada tanaman selanjutnya, yaitu tanaman muda.

Sedangkan jika hanya dibakar oleh petani, akan mengakibatkan hilangnya cadangan karbon dioksida, yang akan menghilangkan kemampuan tanah untuk menyerap air, serta menurunkan kesuburan tanah. Lebih buruknya lagi, tanah tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk bertani.

Nah, kemudian muncul ide dari kepala Wildy, untuk memanfaatkan sumber daya yang melimpah dan tak terpakai di daerahnya tersebut. Setelah mencari tahu dari berbagai sumber, ia akhirnya tahu bahwa kulit jagung memiliki serat selulosa, yang merupakan komponen pembuat kertas. Setelah munculnya ide tersebut, ia akhirnyameyakinkan diri untuk membuat kertas dari limbah kulit jagung.

Seiring berjalannya waktu, ia mengajukan izin pembuatan kertas dari limbah jagung sebagai program magang mandiri ke kampus. Dan pada akhirnya, ia diterima. Maka dimulailah perjalanannya.

Dalam proses pembuatan kertas, Wildy tentu tak langsung berhasil, berbagai kegagalan sering terjadi. Misalnya dalam melewati proses press yang seharusnya membutuhkan alat produksi — dilakukan dengan alat seadanya. Lalu proses pengeringan juga masih bergantung pada kondisi cuaca. Kemudian usahanya dalam mengenalkan hasil produk kepada masyarakat.

Wildy juga menjabarkan proses pembuatan kertas jagung kepada saya. Mulai dari bentuk awalnya, sampai menjadi kertas. Ia menceritakan bagaimana ia menyiapkan kulit jagung, mencuci dan memotong, memasak dengan soda api, lalu membersihkannya dengan air mengalir untuk menghilangkan lignin. Proses penghancuran kulit jagung dilakukan dengan menggunakan blender dan tambahan lem kayu dan garam, sebagai perekat dan pengawet. Setelah itu ia mencampurkannya ke dalam ember yang sudah ditambahkan air. Terakhir ia melakukan proses pencetakan menggunakan screen, dan mengeringkannya di bawah sinar matahari.

Tentu saja, saya sendiri tertarik dengan terobosannya ini. Toh, di daerah saya sangat jarang ada yang memanfaatkan limbah jagung. Jangankan memanfaatkan limbah jagung, pengolahan hasil jagung dalam bentuk pabrik saja tidak ada. Sejauh yang saya tahu, penjualan hasil panen jagung di daerah ini, selalu keluar daerah, setidaknya ke ibu kota provinsi, Padang.

Ketika Wildy mengatakan bahwa kertas jagungnya memiliki kelebihan, tentu juga pasti ada kekurangan. Kelebihan kertas jagung ini, terletak pafa permukaannya yang berserat dan warnanya yang khas, sehingga menambah kesan elegan. Dan yang paling penting, kertas ini ramah lingkungan. Sedangkan kekurangannya terletak pada warna yang sedikit kurang merata, jika memakai pewarna kayu.

Dalam pemanfaatannya  sebagai media lukis, kertas ini bisa digunakansebagai kertas cetak, origami dan lain sebagainya. Setidaknya begitulah Wildy menambahkan penjelasannya.

Ketika saya bertanya apa harapannya dengan semua ini, Wildy menjawab bak mahasiswa-mahasiswa yang memiliki idealisme tinggi.

“Harapan saya, kedepannya akan lahir usaha yang kreatif dan inovatif, serta dapat menjadikan kertas kulit jagung sebagai produk utama dan dapat memunculkan pasar baru, yang nantinya akan punya efek langsung pada peningkatkan ekonomi masyarakat. Mungkin nanti juga bisa memunculkan usaha-usaha rumahan yang ramah lingkungan”, begitu katanya.

Sebagai seorang teman yang baik seperti teman baik pada umumnya, tentu saya sangat mengapresiasi keinginan dan niatnya, yang menurut saya termasuk dalam kategori mulia. Bukan seperti keinginan dan niat yang disampaikan oleh makhluk hidup menjelang pemilu atau pilkada. Tak ada sedikit pun kemuliaannya.

Hingga saat ini, saya tetap mengikuti update perkembangan usaha yang Wildy rintis melalui akun media sosialnya yang bernama @karotes1, baik di facebook, instagram, atau pun di youtube. Oh iya, Karotes dalam bahasa Tapanuli artinya adalah kertas. Dalam unggahannya akhir-akhir ini, saya mengetahui bahwa Wildy mulai mengenalkan penggunaan kertas jagung kepada masyarakat .

Kurang lebih harapan saya tak jauh beda dengan Wildy. Wildy yang saya kenal adalah mahasiswa yang sukses dengan jalannya sendiri. Mengapa begitu? Bagi saya, mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang bisa bermanfaat bagi tempat asalnya, dan Wildy sudah memulai itu. Sebagus apa kampusnya, seberapa besar prestasinya, semahal apa uang kuliahnya, tak seberapa hebat menurut saya, jika ia tidak bermanfaat bagi tempat asalnya. Paling tidak bagi keluarga dan tetangga sekitarnya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan obrolan saya dengan Wildy Brimando, 22 tahun, teman saya, yang hanya seorang pemuda desa pada umumnya.

Fajril Haq, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

You may also like

Marco Kartodikromo, Satria Sejati yang Sebenarnya

“Saya berani bilang, selama kalian rakyat Hindia, tidak