Sekelumit Peristiwa dalam Aksi #JogjaMemanggil

Aksi #JogjaMemanggil, Kamis (08/10/2020) // doc. LPM Rhetor

lpmrhetor.com – Disahkannya RUU Omnibus Law menimbulkan berbagai reaksi. Mahasiswa, massa buruh, dan aktivis dari berbagai organisasi masyarakat sipil menggelar demonstransi setidaknya di 18 provinsi. Demonstransi penolakan pengesahan RUU Omnibus Law dilakukan secara serentak sejak Rabu, 7 Oktober lalu.

Di Yogyakarta, setidaknya ada 3 titik yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya demonstransi: Bundaran UGM, Pertigaan UIN, dan sepanjang jalan Malioboro hingga ke titik Nol Kilometer.

Massa aksi sudah berkumpul di bundaran UGM sejak pukul sembilan pagi. Massa pun bergerak menuju Gedung DPRD Kota Jogja sekitar pukul 11:15 WIB, Kamis (08/10/2020).

Awalnya, demonstransi berjalan dengan damai. Massa aksi silih berganti melakukan orasi. Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, suasana mulai memanas dan massa aksi mencoba masuk ke area Gedung DPRD. Kericuhan pun pecah saat polisi menembakkan gas air mata ke arah massa aksi.

Tidak hanya gas air mata, beberapa kali suara tembakan juga terdengar. Hal itu membuat massa aksi semakin berhamburan. Hingga 16:45 WIB, aparat kepolisian masih saja menembak dengan gas air mata ke segala sisi.

Demonstrasi membantu pedagang dan padamkan api

Tembakan gas air mata tidak hanya mengenai massa aksi, tetapi juga berdampak kepada pedagang di sekitar Jalan Malioboro. Beberapa pedagang pun mulai membereskan lapak dagangan mereka yang dibantu oleh beberapa massa aksi.

“Di tembakan [gas air mata-red] tiga kali disini, saya sudah nggak kuat, lagi pas tutup [dagangan-red] ini tadi. Diselamatkan, dibawa masuk sama temen-temen mahasiswa, terimakasih,” ungkap salah satu pedagang yang terekam dalam video postingan akun twitter @rgantas.

Dalam postingan di akun yang sama, tidak sedikit dari pedagang yang merasa kesal akibat tembakan gas air mata mengenai barang dagangan hingga rusak.

Kericuhan lain juga terjadi di Resto Legian Jalan Malioboro. Jago merah melalap habis seluruh perabotan di lantai dua resto tersebut. Diduga, api dipicu oleh lemparan Molotov dari seseorang yang tidak dikenal.

Beberapa warga dan massa aksi mencoba memadamkan api, dibantu dengan pompa air yang disalurkan dari Hotal Novo.

Salah satu massa aksi yang ikut memadamkan api, Ojo, sangat menyayangkan tindakan polisi kala itu. Saat para demonstran sibuk memadamkan api, beberapa polisi malah sibuk menembakkan gas air mata.

“Pas lagi bantu ini, tadi ada polisi lagi, polisi nembakin gas air mata. Pas di atas kepala saya tadi itu,” ungkap Ojo.

Beberapa menit kemudian, petugas pemadam kebakaran akhirnya tiba di lokasi kejadian. Tak berselang lama, api pun berhasil dipadamkan secara keseluruhan.

Kerusuhan yang terjadi juga cukup disayangkan oleh warga, salah satunya Dono. Ia mengungkapkan bahwa kerusuhan tersebut dikhawatirkan berdampak pada ekonomi warga mengingat malioboro merupakan jantung pariwisata kota Yogyakarta. Kendati demikian, Dono yakin mahasiswa datang dengan niat yang baik.

“Saya nggak tau itu entah mahasiswa atau oknum. Dan itu, [kalau-red] ada penyusup saya nggak tau. Tapi saya yakin, kalau mahasiswa itu bagus, mengaspirasikan segala macam undang-undang yang kurang disetujui,” kata Dono.

Banyak Korban Berjatuhan

Tembakan gas air mata membuat demonstran berjatuhan, gejala sesak nafas merupakan hal yang paling banyak dialami. Paramedis berlarian dari Hotel Grand Inna ke lokasi depan gedung DPRD. Entah berapa kali tim medis bolak-balik menjemput para korban yang berasal dari massa aksi.

“Minggir, minggir. Beri jalan woi” teriak beberapa relawan yang menggotong para korban.

Tepat di depan Hotel Grand Inna beberapa orang massa aksi sudah tidak kuat lagi berdiri, karena terlalu banyak menghisap gas air mata.

Di bagian selatan gedung DPRD, lebih tepatnya jalan sebelah utara Mall Malioboro salah seorang massa aksi diangkat oleh beberapa polisi dan warga. Kondisinya dalam keadaan kepala bocor, tangan dalam keadaan sudah diperban, dan dimasukkan ke dalam mobil ambulan.

Menurut laporan dari aliasnsi ARB, hingga pukul 20.37 WIB, ada lebih dari 44 pasien yang dirawat, dan 5 dalam kondisi kritis. Dan menurut keterangan Nando, salah seorang Persma yang mendatangi lokasi perawatan, korban masih terus bertambah.

Proses yang Alot dengan Polisi

Beberapa massa aksi diamankan oleh polisi, mahasiswa kemudian menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta untuk melakukan pendampingan hukum terhadap mahasiswa dan pelajar yang ditahan oleh kepolisian.

Julian, salah seorang anggota LBH,  berangkat ke Polres untuk mendampingi massa aksi yang ditahan. Selain itu, beberapa orang tua juga hadir menemui anaknya. Namun, baik pendamping maupun orang tua belum diperbolehkan untuk menemui mereka.

Pihak kepolisian hanya mengkonfirmasi nama-nama yang sudah diketahui keberadaannya. Alasan yang dilayangkan polisi adalah karena masih ada prosedur yang belum selesai, seperti rapid test dan lainnya.

Hingga jumat, 9 Oktober ada sebanyak 51 massa aksi yang dikonfirmasi ditahan di Polresta Yogyakarta. Sebanyak 11 nama lainnya tidak ada di Polresta Yogyakarta dan keberadaannya masih belum dipastikan. Data ini didapat dari laporan Aliansi Rakyat Bergerak.

“Kami belum bisa mendata semua tahanan karena mereka belum bisa didampingi oleh kuasa hukum,” kata tim ARB.

Sultan menanggapi

Di hari yang sama, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyanggupi permintaan demonstran untuk menyurati Presiden Joko Widodo perihal penyampaian aspirasi penolakan Omnibus Law.

“Mereka menyampaikan aspirasinya supaya saya bisa memfasilitasi untuk mengirim surat kepada presiden. Aspirasi dari warga masyarakat khususnya buruh, saya sanggupi dengan surat yang akan ditandatangani gubernur sebagai respon dari aspirasi mereka,” kata Sultan dilansir dari tirto.id.

Sultan juga menganggapi aksi demontrasi di Gedung DPRD yang berakhir ricuh. Menurutnya aksi tersebut telah by design atau direncanakan oleh kelompok yang sengaja menunggangi Aliansi Rakyat Bergerak.

“Maka saya yakin, kejadian ricuh itu by design, sama sekali bukan kepentingan buruh dan mahasiswa,” ungkapnya.[]

Reporter: Darmawan Julianto

Editor: Isti Yuliana

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,