Catatan Seorang Wartawan: Nyali yang Berceceran di Sepanjang Jalan Malioboro

Massa Aksi #JogjaMemanggil // doc. LPM Rhetor

Mengenang satu minggu sejak peristiwa aksi penolakan UU Omnibus Law di depan Gedung DPRD Kota Yogyakarta. Siang itu, kami sampai di jalan Malioboro pukul 12 kurang. Jalanan ramai, orang-orang memadati jalan, pedagang asongan bolak-balik menawarkan dagangannya. Orang-orang berjajar memandangi sekelompok lainnya, yang sedang pawai. Beberapa orang merekam dengan gawai mereka, anak-anak kecil cekikikan, sebagian orang yang lain hanya acuh dan asyik makan di kedai pinggir jalan. Barangkali terlampau lapar. Dan mungkin urusan perut memang harus jadi nomor satu.

Keramaian di Malioboro memang bukan hal yang luar biasa. Hampir setiap hari orang berbondong-bondong datang kemari. Namun, ini  bukan vakansi. Sebagian orang itu tidak datang dengan keriangan yang biasa. Ada amarah dalam diri mereka, yang meluap dan siap tumpah kapan saja.

Rombongan  di depan saya adalah demonstran yang menolak UU Omnibus Law. Undang-undang baru yang sudah berumur tiga hari sejak disahkannya 5 Oktober lalu. Mereka hampir memenuhi jalan di depan gedung DPRD kota Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka anggota serikat buruh, dan sebagian lagi mahasiswa. Tak tahu berapa jumlah persisnya, saya pikir lebih dari seratus.

Saya dan kawan-kawan saya, sebagai pers mahasiswa, mulai bertugas mendokumentasikan aksi yang sedang berjalan.

“Cuma segini, nih. Aku kira bakal sesak jalan ini,” tanya kawan saya.

“Lainnya masih long march. Mungkin nanti,” jawab kawan saya yang lain.

Teriakan massa aksi terdengar lantang. Bukan cuma aspirasi yang terdengar, pun sumpah serapah tak lupa terlontar.  Orator bergantian naik  ke mobil pick-up. Suara mereka kadang tenggelam oleh massa aksi yang lain, atau terdengar beriringan bersama riuh tepuk tangan orang-orang di sekitar.

Polisi-polisi muda membuat barikade di depan gerbang gedung DPRD. Mereka berdiri sambil memegang papan bertuliskan “JOGJA CINTA DAMAI”,”JOGJA BERHATI NYAMAN”, dan segala tulisan yang berupaya meredam amarah demonstran. Macam jimat yang ditempel di dinding-dinding rumah, sebagai penolak bala.

Salah satu orator menyebut-nyebut dua partai politik besar. Barangkali orang ini anggota partai, atau mungkin hanya simpatisannya saja. Saya tidak tahu. Ah! Politikus, memang pandai betul cari panggung.

Seseorang, mungkin koordinator aksi, terlihat bercakap-cakap dengan salah satu anggota polisi yang kelihatannya sudah cukup tua. Gerbang dibuka, dan massa aksi berduyun-duyun masuk sambil terus meneriakkan aspirasinya.

Wakil ketua DPRD Yogyakarta sudah berdiri dan bersiap menemui mereka. Setelah beberapa saat, wakil ketua DPRD naik ke atas pick-up ­milik rombongan massa aksi. Ia menyampaikan dukungannya terhadap aksi yang dilakukan para buruh dan mahasiswa, dengan syarat aksi dilakukan dengan damai.

“Jangan cuma didukung, cabut omnibus law!” teriak salah satu demonstran dengan kesal.

Setelah wakil ketua DPRD turun, rombongan berlanjut menuju gedung kepatihan untuk menemui gubernur, yang tak lain adalah Sultan Hamengku Buwono X. Saya dan kawan-kawan tidak mengikuti mereka. Kami menunggu rombongan massa aksi berikutnya yang sudah bergerak menuju gedung DPRD.

Setelah rombongan pergi dan hanya nampak punggungnya saja, kami duduk dan sedikit mengobrol  mengenai tugas liputan masing-masing. Sambil mengobrol, kami minum air. Salah satu kawan memilih menjumput rokok dan menghisapnya. Saya tak pernah bisa merokok dengan cuaca yang panas begini. Bikin tenggorokan makin kering saja.

Aktivitas di Malioboro sebenarnya masih sama. Toko-toko masih buka, pedagang masih berjualan, wisatawan juga masih lalu-lalang di jalanan. Hanya saja, jalan-jalan sudah mulai ditutup akibat adanya demonstrasi, yang mungkin bisa dikatakan cukup besar selama masa pandemi.

Usai dua batang rokok dihisap kawan saya, rombongan massa aksi yang lain mulai datang. Nampaknya yang datang masih sedikit, mungkin yang lain masih mengekor di belakang.

Benar saja, setelah rombongan barusan menutup jalan, rombongan yang lain datang. Kali ini lebih besar jumlahnya. Mobil pick-up berjalan cukup cepat, diiringi beberapa anak muda yang berlarian, mulai membelah rombongan yang sedang memadati jalan. Macam Musa dan laut merah.

“Anak STM, anak STM,” teriak salah satu anak muda yang berlari, seperti memperkenalkan diri. Rombongan yang baru datang, memberi tabik kepada rombongan sebelumnya.

Jalanan seketika penuh dan sesak. Entah berapa jumlahnya. Mungkin ratusan atau ribuan, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu rombongan memenuhi jalan dari gedung DPRD sampai ujung jalan Malioboro, mungkin di belakangnya masih panjang.

Kami mulai bekerja sebagaimana mestinya. Kami mengambil gambar sekenanya, melalui gawai kami masing-masing. Sayang sekali, tak ada yang membawa kamera bagus. Sangat sulit mendapatkan gambar yang berkualitas.

Sebagian dari kami mulai berpikir bagaimana mendapat narasumber dan data wawancara. Saya mencoba mencari kursi-kursi kosong agar dapat membantu saya dalam mengambil gambar, tapi semua kursi juga sesak dengan orang-orang yang berdiri penasaran.

Entah apa yang terjadi, suasana mulai memanas. Di sela-sela teriakkan massa, amarah mulai meletup. Lemparan-lemparan botol dan umpatan mulai meluncur ke arah gedung DPRD. Seketika itu saya jadi kalut. Saya tarik mundur kawan-kawan yang berada di dekat saya. Sebagian massa aksi juga sudah mulai menyerbu tembok gedung.

“Kalau situasi memburuk dan kita terpisah, nanti kita bertemu di parkiran tadi,” kata saya kepada kawan-kawan.

Salah satu orator memperingatkan massa aksi agar tidak terprovokasi. Massa aksi mulai tenang kembali.

“Semuanya duduk dan tenang!” kata orang di atas bak mobil itu.

Saya dan kawan-kawan mulai bekerja kembali. Dan saya melihat beberapa toko di sekitar mulai ditutup.

Demonstrasi mulai berjalan kondusif. Satu dua orator mulai bergantian menyampaikan orasi dan tuntutan-tuntutan ke arah gedung DPR.

Semuanya kelihatan aman, sampai massa aksi tiba-tiba mulai memanas lagi. Teriakan-teriakan massa aksi kembali terdengar. Tembok bagian kanan sudah sejak tadi dipanjat dan diduduki orang-orang.

Lemparan botol dimulai kembali. Seseorang yang mungkin koordinator aksi, mulai memperingatkan massa aksi agar tenang kembali. Namun, hal itu sia-sia belaka.

Salah satu petugas medis di belakang saya berteriak untuk ikut membantu menenangkan massa aksi. Suasana kelewat kacau. Saya menarik dua kawan saya untuk mundur sekitar 25 meter dari tengah-tengah kerumunan.

Suara letusan tembakan mulai sampai ke telinga orang-orang. Semuanya kalang kabut. Asap mulai terlihat di antara kerumunan. Itu gas air mata. Saya dan kedua kawan saya sudah berlari menjauh.

“Mana yang lain?” tanya kawan saya.

“Masih di depan,” jawab saya.

Di sela percakapan tersebut salah satu kawan yang bersama saya menghilang di tengah kerumunan. Kawan itu perempuan yang tubuhnya kecil. Saya betul-betul takut dan khawatir. Kaki dan tangan saya mulai gemetar. Saya meminta kawan yang bersama saya untuk menghubungi kawan yang tertinggal barusan.

Saya selalu berharap bertemu situasi sulit dan menegangkan semacam ini. Nyali sudah saya siapkan berlipat-lipat, sejak awal keberangkatan. Tapi apa guna nyali, kalau nyawa sudah lepas dari badan.

Nyali hanyalah nyali, ia tak bikin nyawa berlipat ganda. Maka, hanya keselamatan saya dan kawan-kawan, serta hasrat bertahan hidup yang terpikirkan saat itu.

Sebuah pesan Whatsapp masuk dari seorang jurnalis di grup pers mahasiswa.

“Mundur…Semuanya mundur… Jangan mati konyol,” begitu bunyi pesannya.

Saya tidak tahu seberapa kacau keadaan di depan. Karena saya dan kawan saya sudah menjauh. Tapi suara teriakan dan tembakan gas air mata masih terdengar. Yang terlintas di kepala saya waktu itu, hanya peristiwa mengerikan macam tragedi Simpang Kraft, atau peristiwa-peristiwa ’98.

Saya terus menanyakan kabar kawan-kawan yang terpisah. Meminta mereka segera mundur dan berkumpul. Tidak ada jawaban.

Tak lama setelahnya, saya melihat kawan saya yang tertinggal barusan. Syukurlah, kata saya.

“Aku dapat gambar bagus tadi. Pas orang-orang sedang lari,” katanya sambil cengengesan.

Kawan-kawan lain yang masih terpisah, satu per satu sudah mulai menghubungi. Tanda bahwa mereka baik-baik saja. Satu orang masih terjebak di gedung DPRD. Dua orang kawan menuju tempat parkir. Saya dan dua kawan lainnya berjalan perlahan menuju tempat kami berkumpul.

Di sepanjang jalan, orang-orang berlarian. Ada yang menangis dan menelpon untuk meminta bantuan. Matanya sudah merah karena terkena gas air mata. Orang lain di sudut pertokoan, sedang menelpon kawannya dan mengatakan bahwa dirinya aman. Pedagang-pedagang mengemasi barangnya, beberapa massa aksi ikut membantu.

Kami berjalan melewati gang perumahan yang sempit. Akses jalan terdekat menuju tempat parkir sudah kacau. Kami terpaksa berjalan memutar. Akhirnya, lima dari enam orang berhasil berkumpul. Seorang kawan matanya merah akibat gas air mata. Seorang lagi masih belum bisa berkumpul, masih terjebak di dalam gedung DPRD. Satu kawan berinisiatif membeli pasta gigi. Tak ada persiapan macam ini sejak awal. Setelah itu, kami berlima berjalan kembali menuju gedung DPRD, dengan berjalan memutar.

Tempat parkir Abu Bakar Ali, keadaan sudah kacau balau. Sebuah pos polisi diberi gambar alat kelamin, kondisinya hancur. Seonggok ban terbakar di tepian. Corat-coret bernada protes dapat ditemukan di tembok-tembok sisi jalan.

Sekitar lima puluh meter dari gedung DPRD, salah satu halaman gedung hotel menjadi pusat paramedis bekerja. Demonstran yang tumbang, diangkut oleh kawan mereka maupun oleh petugas medis, untuk mendapat pertolongan di halaman gedung hotel.

“Minggir, minggir!” berkali-kali suara itu terdengar. Massa aksi selalu memberi akses bagi jalannya petugas medis. Mobil ambulan dan motor petugas medis menjemput demonstran dari gedung DPRD.

Akhirnya, kawan saya berhasil berkumpul semua, setelah salah satu kawan yang terjebak tadi berhasil menyusul. Beberapa saat kemudian, suasana mulai meredam, kami berpisah lagi dengan niat untuk mengumpulkan data.

Tanpa disangka, massa aksi mulai tidak kondusif kembali, salah satu dari kawan kami gantian terjebak di dalam gedung DPRD.

Saya mencoba menyusul, tapi dalam jarak dua puluhan meter dari gedung DPRD. Mata saya pedih dan dada saya sesak, tembakan gas terus diluncurkan tanpa henti. Banyak massa aksi yang mundur. Saya dan kawan-kawan lain pun memilih mundur dan berniat kembali ke tempat parkir kendaraan kami.

Dari kejauhan, api sudah melahap sebagian atap rumah makan di ujung jalan. Rumah makan itu satu baris dengan rumah tempat kami memarkir motor. Mobil pemadam mulai berdatangan. Massa aksi yang ada di tempat, ikut memadamkan api yang terus berkobar. Entah apa penyebabnya, orang-orang tidak menjawab dengan pasti.

Polisi terus menembakkan gas air mata. Menurut keterangan seorang demonstran, polisi menembakkan gas air mata di sekitar bangunan yang terbakar, di mana hal tersebut membuat proses pemadaman menjadi sulit.

Kami mendapat kabar bahwa sebagian besar jalan utama sudah diblokade polisi. Polisi juga sudah menutup jalan tempat kami berada. Sebaiknya kami mundur dan mulai mencari narasumber untuk memulai wawancara. Warga mulai keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka berkumpul di gang-gang. Gerbang masuk ke arah rumah penduduk sudah ditutup.

Saya berdiri di pinggir sebuah pertigaan. Di sekeliling saya juga berdiri warga sekitar. Kami semua memandangi sekelompok orang yang datang. Itu adalah rombongan polisi, dengan persenjataan dan mobil-mobil pengangkut. Mereka berbaris rapi. Warga menyambutnya dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Polisi-polisi itu membalas dengan acungan jempol ke arah warga. Saya tak sempat memotret dan merekam. Baterai telepon genggam saya sudah habis.

Saya menghampiri kawan-kawan yang sedang duduk beristiharat. Ada salah satu anggota pers mahasiswa dari kampus lain waktu itu. Kami berbincang sedikit.

Sejurus kemudian, terdengar teriakan warga. Mereka mengumpat. Entah apa yang jadi sasaran umpatan mereka. Orang-orang yang nampaknya seperti demonstran, nampak lari menjauh.

Dua orang anggota pers mahasiswa lain datang. Mereka lari bersama demonstran yang menjauhi kerumunan warga. Muncul kepanikan dari wajah mereka berdua.

“Ada mahasiswa yang dipukuli warga,” kata salah satunya.

“Tadi juga ada demonstran perempuan yang kena pelecehan, sayang kami gak on cam,” lanjutnya.

“Gimana ceritanya?” tanya saya.

“Kurang tahu, suasana mendadak kacau begitu. Mas, tahu pipa besi? Nah, pakai itu mukulnya,” balasnya.

“Untung kami pakai baju pers. Kalau enggak, udah disikat karena dikira mahasiswa,” lanjutnya lagi.

Saya dan kawan-kawan mencoba mendekat, tapi seorang warga menyarankan agar menjauh saja. Salah satu angota pers mahasiswa lain, mengajak saya untuk mencoba mewawancarai warga.

“Tidak ada wawancara-wawancara. Bikin rusuh saja,” salah seorang warga marah ketika kami minta kesediaannya.

Bapak itu berpakaian rapi, serta mengenakan rompi berlambang garuda. Kami terus mencari warga yang bersedia untuk diwawancarai. Hingga bertemu seorang bapak, yang ternyata anggota seksi keamanan setempat.

Beliau mengutarakan kemarahannya terhadap kekacauan yang terjadi. Kekacauan adalah kekacauan, tak peduli itu demi kebaikan atau bukan. Begitu kira-kira yang ia utarakan. Saya pikir tidak seharusnya kita melihat sesuatu secara hitam-putih. Tapi saya menghargai pendapat bapak tersebut.

Seorang kawan mengabarkan, bahwa kita harus pergi sebelum petang. Menurut kabar yang beredar, akan ada sweeping yang dilakukan oleh ormas dan polisi. Kawan kami yang terjebak di gedung DPRD, masih belum ada kabarnya. Jalan menuju tempat parkir kendaraan kami, juga tak memungkinkan untuk dilewati. Saya mengingat kesaksian anggota pers mahasiswa lain, mengenai pemukulan dan pelecehan yang terjadi. Dua kawan saya perempuan. Mata saya berkeliling memandang baliho dan bendera berlogo banteng, yang sangat banyak jumlahnya. Perasaan saya tidak enak. Ada baiknya kami segera pergi. Urusan badan lebih penting daripada kendaraan. Warga tidak akan peduli kami pers mahasiswa atau bukan. Asal ada kata “mahasiswa” sepertinya kami bakal disikat juga.

Kami berjalan menjauhi Malioboro dan permukiman sekitar. Di sepanjang jalan, beberapa warga menatap sinis pada kami. Ada seorang warga yang memanggil kawan saya. Dan memberi ancaman pada kami.

“Kamu mahasiswa enggak usah bikin rusuh. Saya hajar nanti,” begitu katanya.

Setelah menjauh, kami memberi kabar pada kawan-kawan yang tidak ikut bertugas meliput, bahwa kami sudah aman. Kawan yang terjebak di gedung DPRD juga sudah berhasil keluar. Kami mendapat kabar dari anggota pers mahasiswa lain. Untunglah kalau begitu.

Banyak hal-hal yang kami sesali saat itu. Terutama soal nyali yang berceceran, soal keberanian yang tak kunjung datang. Harusnya kami dapat berbuat sesuatu di situ. Hanya sedikit yang kami dapat untuk bahan tulisan dan berita. Sisanya cuma pengalaman, yang mungkin bisa jadi bahan romantisasi pada anak dan cucu kelak. Tapi apa gunanya.

*Kusharditya Albi, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

You may also like

Photo Story: Pameran Poster “Stop Pelemahan KPK”

lpm rhetor – Selasa, 01 Juni 2021 sebagai