Hama-Hama Lain yang Menjadi Masalah Desa

tempo.co

Desa merupakan wilayah terkecil dari suatu negara. Kebanyakan orang pun, mencirikan desa sebagai penghasil orang-orang yang tidak kompeten. Dan hal ini bisa kita lihat dari istilah “ndeso”, yang selama ini digunakan oleh sebagian besar orang untuk memberi label kepada orang yang ketinggalan zaman, buta teknologi dan masih lekat dengan pola hidup tradisional. Dalam beberapa hal, memang harus diakui bahwa desa menjadi sebuah tempat dimana manusia masih sangat bergantung dengan manusia lainya, tak terkecuali pada alam.

Kebanyakan masyarakat desa masih cenderung homogen atau memiliki pola kebiasaan hidup yang sama. Bahkan, perspektif orang-orang kota yang pola hidupnya terspesialisasi oleh keahlian-keahlian tertentu menyebutkan bahwa desa dicirikan dengan hal-hal terbelakang dan buta teknologi.

Pada sisi lain, term desa menjadi sesuatu yang terbelakang, salah satu contohnya adalah karena akses pendidikan yang masih sulit terjamah untuk sebagian besar masyarakat desa. Baik dari biaya, jarak tempuh dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan itu sendiri. Pasalnya, kehidupan di desa selalu lebih dekat dengan intervensi tetangga mengenai kehidupan masa depan, bahwa semua orang yang berada di desa pada akhirnya akan menjadi petani juga.

Selain itu, dari homogenitas yang terbentuk juga akan melahirkan persaingan antar individu. Mulai dari kemakmuran, kesuburan tanaman dan kekayaan. Sehingga, secara tidak langsung akan membentuk kelas-kelas sosial itu sendiri. Bahkan, menyebabkan kesenjangan sosial di desa semakin subur.

Maka, desa yang selama ini kita kenal sebagai pusat peradaban gotong royong, justru di sisi lain memiliki budaya kompetisi tersendiri dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, kompetisi tersebut masih sangat disayangkan karena dapat menimbulkan mandeknya transfer ilmu pengetahuan antarmasyarakat. Ketika ada masyarakat desa yang telah memiliki ilmu pengetahuan lebih daripada yang lain, mereka justru lebih memilih untuk menyimpan dan menggunakannya untuk kepentingan sendiri. Entah itu di bidang perkebunan, pertanian, maupun pengelolaan hasil panen lainnya.

Contohnya, bagi para petani yang tidak memiliki pengetahuan lebih tentang pendistribusian hasil panen, mereka hanya akan selalu bergantung kepada para tengkulak. Sehingga, ketika musim panen tiba mereka tidak dapat memperhitungkan keuntungan atau harga jual sendiri dan mengakibatkan banyak dari petani desa yang justru kehabisan modal.

Di sisi lain, kebanyakan para petani desa meyakini bahwa setiap musim tanam tiba mereka akan beramai-ramai untuk tetap menanam, meskipun hasil panen sebelumnya mengalami kerugian. Dengan begitu, para petani desa harus memutar otak untuk mencari pinjaman modal. Sebagian dari mereka memilih mengajukan pinjaman modal ke bank swasta dan koperasi simpan pinjam, dengan waktu pengembalian ketika musim panen tiba.

Dengan harga pertanian yang tidak menentu dan hasil pinjaman modal dari bank yang terus berbunga. Maka, hal itu akan semakin menjauhkan petani dari yang namanya kesejahteraan hidup. Tak ayal jika desa disebut menjadi tempat yang terbelakang dan sarang dari kemiskinan itu sendiri. Selanjutnya, jika dilihat dari pemenuhan kebutuhan atau tingkat konsumtif, masyarakat desa justru juga tergolong tinggi.

Contohnya, mayoritas dari mereka cenderung suka membeli sayur-mayur dari pedagang keliling, sedangkan sebagian besar dari mereka adalah petani sayur itu sendiri. Tentu bisa dikatakan menjadi sebuah keanehan, mungkin saja bagi mereka ini merupakan sesuatu yang wajar.

Jika digambarkan secara eksplisit, pola pendistribusian sayur pasca panen adalah seperti ini.

Bisa kita bayangkan, petani menjual seluruh hasil panennya ke pasar dengan harga yang cukup murah, dan akan membeli sayuran dari pedagang keliling yang harganya jauh lebih mahal. Padahal, jika mereka berani mengatur penanaman dengan rentang waktu tertentu untuk konsumsi harian, tentu akan lebih efisien dan ekonomis. Sayangnya, hal seperti inu belum terlihat di desa-desa yang mayoritas masyarakatnya adalah petani.

Pola penanaman yang seragam juga akan mempengaruhi harga pertanian di musim panen. Sebagaimana yang dikatakan para ekonom “jika pasokan tinggi dan permintaan rendah maka harga turun, tetapi jika permintaan tinggi dan penawaran rendah, harga-harga menjadi naik”. Maka dari itu, perlu adanya revolusi kegiatan bertani di desa.

Hal tersebut bisa dimulai dengan menggunakan sistem integrasi antara kandang dan lahan, seperti yang sudah diajarkan nenek moyang. Jika sistem pertanian integrasi ini diterapkan, tentu bisa menjadi langkah awal menuju kehidupan petani yang otonom dan sejahtera. Sebab, dengan berani mengolah dan memanfaatkan limbah kotoran dapur maupun kandang, maka akan sangat membantu  pertanian, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Di sisi lain, kehidupan yang dipenuhi religiusitas membuat mereka meletakkan prinsip hidup dengan bergantung penuh pada Tuhan. Seperti istilah “nerimo ing pandum” atau kabeh kersane pangeran”, tentu cukup berpengaruh terhadap aktivitas kehidupan mereka.

Sebagai contoh, sekitar empat tahun yang lalu, sebut saja Pak Kadrun, ia ditipu oleh pengepul tembakau sebanyak 54 keranjang dengan berat rata-rata 40 kg per keranjang. Kebetulan waktu itu harga tembakau berkisar diangka Rp. 50.000/kg. Jika ditaksir secara keseluruhan, maka total kerugian yang dialami Pak Kadrun akibat ditipu oleh pengepul tembakau sekitar senilai 108 juta.

Namun, setiap kali ada orang bertanya mengenai nasib yang dialami, Pak Kadrun selalu menjawab, “Tidak apa apa, ini sudah takdir Allah SWT. Anggap saja buat tabungan saya di akhirat nanti,”. Padahal setelah kejadian itu, Pak Kadrun harus banting tulang kesana kemari hingga akhirnya memutuskan meminjam uang di salah satu bank swasta untuk modal usahanya lagi. Sayangnya, nasib baik belum juga menghampiri Pak Kadrun, selama tiga tahun ia berusaha keras untuk bisa mengembalikan uang pinjaman ke bank.

Dan selama tiga tahun ini, hasil pertanian Pak Kadrun tidak selalu bisa diharapkan. Ia bahkan sudah menumbalkan beberapa ladang, tetapi hutang tak kunjung bisa lunas juga. Utangnya pun semakin berkembang. Namun, Pak Kadrun lagi-lagi mengatakan, “Ketika saya mau ditagih, kalau tidak ada uang ya gimana lagi, sebagai manusia kan kita hanya bisa berusaha. Selebihnya Allah SWT yang menentukan. Dan yang penting saya masih memiliki niat untuk mengembalikkan pinjaman itu. Meskipun, sekarang ladang saya tinggal sedikit karena banyak yang saya jual”, begitu katanya.

Begitulah sedikit gambaran tentang kehidupan sosial di desa dengan segala problematikanya. Meskipun ada persaingan di antara para petani, tetapi kita tidak boleh menutup mata bahwa di desa juga masih memiliki solidaritas yang erat. Tulisan ini hanyalah refleksi dari penulis sendiri. Melalui kehidupan yang terjadi di pelosok desa, dari sebuah kabupaten di Wonosobo. Maka dari itu, saya harap para pembaca tiidak menjadikan ini sebagai acuan dasar dalam memahami desa, alias kalian cari saja pemahaman sendiri tentang desa dengan versi kalian sendiri.

Usman Alfarizi, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga.

Editor: Kusharditya Albi

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,