Seandainya Kuliah Online Selamanya

Sevima.com

Ini adalah sebuah pengakuan dari saya. Bapak ibu dosen yang terhomat, selama setengah semester kuliah online, bisa dikatakan saya tidak benar-benar kuliah. Materi yang bapak dan ibu unggah di Youtube, hanya saya tonton saja. Kadang dengan serius dan kadang tanpa niat. Namun, saya rasa keduanya sama saja. Seperti anak kecil yang bermain perosotan, materi itu mampir sebentar di otak saya, lalu meluncur entah kemana. Bagaimana tidak, bapak dan ibu dosen yang mendadak jadi youtuber itu terlihat sedikit aneh di layar handphone saya.

Salah satu dosen muda yang memiliki suara selembut sutra, hanya menampilkan power point di videonya. Hal itu sudah seperti lagu nina bobok yang segera mengantarkan saya ke alam mimpi. Apalagi hanya materi berupa ppt atau pdf yang dikirim ke grup WA,  semuanya lenyap tertimbun jawaban teman-teman yang cuma sekedar, “baik, pak”, “baik, bu”, “siap pak”, “siap,bu”. Semuanya kelihatan latah.

Sekalipun kuliah dilakukan via zoom atau google meet, saya hanya bisa bisa membagi fokus sekitar 60% untuk kuliah saya. Sisanya, fokus saya terbagi oleh hal yang lain. Yang merepotkan dari bapak dan ibu dosen adalah memaksa untuk menyalakan kamera atau mic saya. Aduh, merepotkan sekali harus pakai kerudung dulu, cari tempat yang terang, dan belum lagi kalau ada suara-suara yang tidak diharapkan, entah suara ayam atau pun anak tetangga. Tapi, anehnya saya tidak pernah telat absen demi mengejar 75% syarat lulus.

Mungkin saya salah, tapi jangan hanya menyalahkan saya. Atmosfer belajar di rumah dengan belajar di kampus itu berbeda. Selama di kampus ketika kuliah offline, saya bisa melarikan diri dari urusan rumah dan hanya fokus pada perkuliahan saya. Mungkin sesekali hanya repot pada urusan organisasi. Namun, kalau di rumah, beban itu seolah bertambah. Tugas kuliah, tanggung jawab organisasi, kewajiban nyapu rumah, cuci piring, cuci baju, menggumpal menjadi satu di lipatan otak yang kecil ini.

Tidak jarang saya lupa jadwal kuliah karena kebablasan mengerjakan pekerjaan rumah. Beruntungnya, masih ada teman baik yang bersedia mengingatkan. Ketika kuliah offline, kita bisa saling berinteraksi dengan dosen dan teman-teman. Selama kuliah online, saya hanya menatap layar handphone atau laptop setiap saat,  yang rasanya mulai membuat mata saya semakin memburam.

Saya mungkin belum menemukan teorinya, tapi saya rasa kita semua bisa merasakan, bahwa berinteraksi langsung itu lebih baik dan lebih menyenangkan daripada menatap layar. Ketika kuliah offline, saya bisa bertemu teman-teman saya, lalu berbincang panjang dengan mereka tanpa tahu waktu. Tapi karena kuliah online, kita semua terhalang jarak berkilo-kilo jauhnya. Kami hanya berbincang melalui chat yang kadang bisa salah penafsiran, saya mengetik sambil tertawa, dan orang lain bisa saja membacanya sambil marah-marah. Tidak asyik sama sekali. Mentok-mentok ketemu centang dua biru. apabila sudah tidak dibalas, saya tidak tahu mereka masih hidup atau tidak.

Selain permasalahan di atas, ini juga tentang metode belajar bapak/ibu dosen yang terhormat. Cara mengajar bapak/ibu dosen itu membosankan. Tidak ada bedanya online ataupun offline. Tapi setidaknya, ketika kami bertatap muka pasti ada saja yang dapat dijadikan bahan tertawa. Entah menertawakan LCD proyektor yang susah dinyalakan, menertawakan teman-teman yang tidur di kelas, menertawakan teman-teman yang tiba-tiba nyelonong masuk kelas di tengah presentasi, menertawakan matahari yang menyengat yang membuat kita serasa dipanggang di dalam kelas, dan masih banyak lagi.

Saya yakin bapak dan ibu dosen juga kesulitan dengan kuliah online ini. Buktinya, bapak dan ibu masih kebingungan bagaimana cara membagi materi lewat  zoom. Bapak dan ibu masih belum bisa membedakan cara komunikasi langsung dan secara online, bahkan sampai berteriak ketika mengabsen. Padahal di laptop kami, suara bapak/ibu itu putus-putus.

Namun, sesulit apapun bapak/ibu dosen menjalani kuliah online ini, tetap saja mahasiswa yang lebih kesulitan. Jelas! Bapak dan ibu dosen jangan mendebat. Saat bapak dan ibu dosen menemui kesulitan dalam  menyampaikan materi, anda tinggal menyuruh kami membaca jurnal atau menyuruh kami mengerjakan tugas. Berbeda dengan kami, sudah kesulitan, eh, malah dikasih tugas yang brat-berat. Terimakasih bapak dan ibu atas bebannya.

Masih seputar pembelajaran. Ketika kuliah offline, tugas presentasi termasuk tugas yang lumayan menakutkan. Kami harus mempersiapkan materi dan menyampaikannyai dengan baik. Karena jika tidak, bisa habis dibantai pertanyaan teman-teman yang pintar-pintar itu. Ada semacam aura persaingan yang mengudara di ruang kelas dan memaksa kami untuk berpikir lebih keras. Tapi ketika online, presentasi dan pertanyaan itu sudah seperti formalitas saja. Bahkan tak jarang  presentator perlu mengirim chat di grup angkatan, “Jangan ada yang tanya ya biar cepet selesai”.

Kemudian platform belajar. Saya pernah menonton video salah satu youtuber yang tinggal di Jerman. Katanya, di Jerman sudah disiapkan satu platform khusus pada masing-masing kampus, sehingga penyampaian materi, diskusi, tugas semuanya dilakukan dg platform yang sama. Tapi kalau di Jogja, jangankan satu platform untuk satu kampus, setiap dosen saja platformnya berbeda. Misalnya, dosen A menggunakan youtube, dosen B menggunakan zoom, dan dosen C menggunakan google meet.  Sialnya, kami mahasiswa harus menyiapkan berbagai platform itu dalam handphone atau laptop kami yang seperti nama makanan, Low-Tech (baca: lotek)

Di Kampus saya yang tercinta memang sudah punya e-learning sebagai platform pembelajaran online, tapi apa gunanya kalau tidak bisa memfasilitasi berbagai jenis pembelajaran. Selama ini permasalahan kuliah online yang dibahas hanya seputar kuota dan sinyal saja. Mas menteri dan pejabat kampus membusung dada karena telah menyalurkan kuota gratis (yang sebenarnya tidak gratis juga karena kita tetap bayar ukt penuh). Padahal penyaluran kuota itu pun masih sering tersendat. Saya masih harus merogoh kocek untuk membeli kuota, sembari menunggu subsidi itu datang.

Kalau saya bertemu Jin-nya Aladin, saya hanya akan meminta satu permintaan, “Hilangkan corona dari muka bumi. Saya mau kuliah offline”. Jin Aladin pasti bisa memenuhi keinginan saya itu dengan cepat. Lebih cepat dari menteri kesehatan dan satgas covid-19 andalan Jokowi itu. Sayang sekali tidak ada jin Aladin di sini. Yang ada hanya celana jin dan mungkinpemerintah yang sibuk dengan urusannya sendiri.

Lalu bagaimana jika covid-19 tidak juga selesai dan kuliah online benar-benar selamanya? Saya tidak bisa pergi ke kampus dan memakai fasilitasnya lagi. Gedung-gedung yang terlanjur dicat ulang itu, lama kelamaan akan luntur catnya. Sarang laba-laba memenuhi setiap sudut ruangan, lantai berdebu, dan kursi semakin berkarat karena tidak pernah dipakai lagi. Kayu-kayu akan semakin lapuk, dan tempat parkir akan semakin kotor dipenuhi guguran daun ketapang.

Dan sapaan ibu kantin yang ramah, teman-teman angkatan yang bermacam modelnya, juga pujaan hati yang sering saya kagumi diam-diam itu, tidak akan bisa saya temui lagi. Persetan dengan sosial media yang ada, internet tidak bisa menggantikan ikatan emosi ketika berinteraksi langsung.

Di kemudian hari saya diwisuda di depan layar laptop tanpa perlu mandi, dan ayah saya tidak bisa melihat anaknya pakai toga. Generasi selanjutnya akan semakin individualis dan kehilangan kepekaan sosialnya. Barangkali keinginan untuk kuliah akan hilang, karena kalah menarik dengan buka usaha online. Para orang tua akan lebih tertarik menyuruh anaknya bekerja dan mendownload aplikasi belajar online yang lebih murah, daripada harus membayar kuliah mahal yang tidak jelas untuk apa. Dan bagaimana pula nasib teman-teman broken home yang butuh banyak alasan untuk tidak di rumah. Atau nasib teman-teman difabel yang tidak bisa mengakses bantuan relawan, apakah keluarga mereka pasti bisa membantu?

Baru-baru ini, menteri pendidikan kita mengumumkan bahwa kuliah tatap muka mulai bisa dilaksanakan pada awal tahun 2021. Namun, orang-orang masih bergelimpangan karena virus corona. Entah bagaimana nanti, saya tidak tahu. Habis sudah logika saya kalau harus membayangkan seandainya kuliah online selamanya.

Halimatus Sakdiyah, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Editor: Kusharditya Albi

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,