DEMA: Katanya Ada Tapi Tidak Terasa

www.bing.com/images

Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sampai saat ini (21/12) masih berlangsung. Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) telah menyelenggarakan kampanye dialogis di teatrikal fakultas masing-masing pada Jumat (18/12). Salah satunya di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Kampanye dialogis juga diselenggarakan secara terbuka via aplikasi zoom.

Sehingga, publik dapat menggunakan kolom chat untuk menanyakan visi-misi dari para pasangan calon. Ketika sesi tanya jawab berlangsung, salah satu akun dengan nama Imrina Sarasvati mengungkapkan bahwa selama berkuliah dan menjadi mahasiswa biasa ia tidak merasakan dampak adanya DEMA sebagai lembaga eksekutif kampus.

“Saya termasuk mahasiswa biasa saja, tidak ikut UKM apa-apa, tidak ikut organisasi ekstra apa-apa. Selama saya kuliah kok saya tidak merasakan dampak dari adanya DEMA, ya, atau mungkin hanya perasaan saja,” tulisnya di kolom chat.

Namun sangat disayangkan, pertanyaan Imrina tersebut tidak dipilih oleh panitia untuk ditanyakan langsung kepada paslon Dema FITK. Padahal, pernyataan Imrina banyak mendapatkan komentar yang senada dari para  mahasiswa.

“Sekarang ini aku merasa kok cepat banget udah pemilwa? Emang DEMA kemarin ngapain aja, udah melakukan apa aja, udah hasilin apa aja gitu, janji-janji mereka udah terpenuhi atau belum, ya,” jelas Jusniati Sari, mahasiswa sekaligus pegiat organisasi ekstra di FITK kepada lpmrhetor.com

Bukan hanya Jusniati, sebut saja Dahlia, dan Melati mahasiswa FITK yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut juga angkat suara terkait kontribusi dema selama ini.

“Kita sebagai mahasiswa FITK, jika ditanya apa kontribusi DEMA kepada mahasiswa? Aku yakin, delapan puluh persen warga FITK tidak merasakan dampak dari DEMA sendiri,” jelas Dahlia.

Melati yang merupakan teman Dahlia juga bertanya-tanya terkait adanya pemilwa yang menggunakan sistem partai. Selain itu, ia juga menunjukan ketidaktertarikannya dengan pemilwa tahun ini.

“Buat apa ada pemilihan? Sampai semester lima ini pun aku belum merasakannya. Aku sampai bingung, apa fungsi dari partai-partai dan DEMA itu? Disuruh milih aja rasanya agak males,” kata Melati.

Masih senada dengan pernyataan mahasiswa sebelumnya, Dahlia yang lagi-lagi tidak ingin disebutkan namanya juga menanyakan cara kerja dan manfaat lembaga eksekutif tersebut. Terutama bagi mahasiswa yang tidak aktif di organisasi internal maupun eksternal.

“Iya, aku juga merasa DEMA nggak ada manfaatnya. Dalam artian nggak memberi dampak ke mahasiswa, terutama mahasiswa non organisasi dan aku sendiri kurang tau apa tugasnya. Dewan mahasiswa yang bertujuan untuk (…) saya tidak tau [emotikon tertawa],” jelasnya via chat whatsapp.

Upaya DEMA untuk Mahasiswa

Karena cukup banyak mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yang masih kebingungan bahkan tidak tahu akan tugas dan fungsi DEMA, setidaknya terdapat tiga tupoksi yang bisa dijadikan  jawaban.

Fungsi dan Tujuan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah sebagai berikut:

  1. Mewakili mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga dalam kegiatan eksternal untu berkoordinasi atau berkomunikasi dengan organisai mahasiswa di fakultas lain dan atau Perguruan Tinggi lain.
  2. Menampung serta memperjuangkan hak dan aspirasi mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta baik dalam bidang akademik maupun kesejahteraan mahasiswa.
  3. Menyusun dan melaksanakan program kegiatan dengan menggunakan anggaran yang telah ditetapkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam periode 1 (satu) tahun anggaran.

Ditengah pesta demokrasi kampus dan kebingungan mahasiswa terhadap kinerja DEMA selaku lembaga eksekutif mahasiswa. Diaz Gandara Rustam, wakil ketua DEMA FITK 2019/2020, mencoba memberikan klarifikasi untuk jawaban. Ia juga mengungkapkan bagaimana pelaksanaan program kerja selama satu tahun ini.

Menurut Diaz, adanya pandemi Covid-19 berdampak pada keberadaan DEMA sehingga membuat program kerja dilakukan secara online dan hal tersebut membuat kinerja DEMA tidak terlihat. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa bentuk adanya kerja DEMA bisa dibuktikan melalui terselenggaranya acara PBAK di tahun ajaran baru.

“Sebenarnya saya tidak mau memasukkan Corona menjadi alasan, tapi itu tidak bisa dipungkiri karena kegiatan yang dilakukan oleh DEMA sendiri di masa bakti kami itu semua dilakukan online, tidak ada yang offline. Bahkan untuk agenda terbesarpun seperti halnya PBAK itu kan langsung di bawah koridor dema tapi untungnya itu berjalan baik, bahkan menjadi role model di universitas, nah itu bisa dibuktikan juga. Saya tidak menafikan program kerja DEMA tidak kelihatan karena itu online. Mungkin aksibilitasnya saja yang kurang,” papar Diaz.

Diaz juga menjelaskan bahwa menurutnya antusiasme mahasiswa terhadap program kerja yang dilakukan DEMA sangat rendah. Bahkan yang mengikuti hanya dari kalangan mereka saja.

“Kami tetap menjalankan program kerja kami, namun dalam tanda petik itu semua dilaksanakan dengan media online. Tidak bisa kami lakukan dengan secara offline. Mungkin beberapa mahasiswa ada yang giat untuk melihat dan hal itu saya apresiasi. Namun secara realita sosial, yang saya rasakan antusiasme dari mahasiswa itu sangat-sangat minim, bahkan susah sekali. Kemarin kami mengadakan karya tulis ilmiah nasional ternyata itu dari mahasiswa FITK sendiri nggak ada yang ikut, kami mengadakan webinar, jujur saja yang masuk itu hanya teman-teman dari kalangan kami,” pungkasnya.

DEMA Baru, Terobosan Baru?

Sementara itu, dua dari tiga pasangan calon DEMA FTIK pada pemilwa tahun ini juga turut menanggapi pertanyaan mahasiswa. M. Lubab Rofiul Ula sebagai Calon Ketua DEMA yang di usung oleh Partai Rakyat Merdeka (PRM) memberikan tanggapan yang hampir sama dengan Diaz [wakil ketua DEMA sebelumnya].

“Itu dipengaruhi banyak faktor, ya. Salah satunya kita dihadapkan dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini, belum lagi peralihan dari media offline ke online, sehingga mungkin tidak heran muncul masalah seperti yang dirasakan oleh mahasiswa tersebut,” jelasnya saat diwawancarai via panggilan suara.

Menindaklanjuti persoalan tersebut, Lubab menjanjikan akan melakukan upaya agar tidak terulang kembali melalui kerja sama dengan lembaga di bawahnya.

“Untuk langkah ke depan, karena secara hierarki DEMA menaungi organisasi di bawahnya seperti HMJ atau HMPS maka kita akan melibatkan mereka. Karena agar peran kita terasa ada maka harus libatkan semua. Lingkungan di kampus adalah tanggung jawab kita semua, seluruh elemen mahasiswa,” tegas Lubab.

Sementara di kubu calon lain, Arvaddin Hamasy bersama wakilnya Hamdika Ainun Rais dari Partai Aliansi Demokrat (PAD), lebih mengutamakan sosialisasi sebagai upaya menghadirkan DEMA di tengah-tengah mahasiswa. Menyebarkan poster lucu menjadi recana mereka untuk menarik perhatian mahasiswa.

“Langkah pertama setelah jadi, kita langsung mengenalkan DEMA ke semua mahasiswa. Apalagi dalam skala pandemi seperti ini  pasti akan kita gencarkan. Kita akan sebarkan poster-poster, yang mana poster-poster tersebut bukan poster yang formal, bukan poster yang menjenuhkan, tapi poster-poster yang menarik dan yang lucu-lucu. Itu kita harapkan (supaya) mahasiswa mau membaca poster itu dulu. Sehingga, ketika mereka melihat itu minimal mereka tau tentang DEMA,” terang Arvaddin.

Dari pencalonan nya sebagai wakil DEMA, Hamdika mengungkapkan bahwa ia ingin mengubah mindset kebanyakan orang yang menganggap bahwa DEMA adalah sekumpulan orang tertentu saja. Menurutnya, yang paling penting adalah mengenalkan, jika sudah mengenal mungkin kami dapat memberi pancingan-pancingan yang lainnya.

Selain menyatakan keresahannya perihal kinerja DEMA, sebagian mahasiswa juga mengungkapkan harapannya untuk DEMA terpilih. Seperti yang diungkapkan Jusniati, ia berharap ada terobosan baru dari kinerja DEMA.

“Menurut aku mungkin kurang sosialisasi aja, makanya teman-teman mahasiswa yang lain juga ngerasain DEMA itu kurang merangkul. Setelah melakukan webinar terus udah, melakukan talkshow terus udah. Mungkin mereka harus lakuin terobosan-terobosan yang bisa lebih merangkul gitu,” ungkap Jusniati.

Berbeda dengan Jusniati, Dahlia lebih berharap bahwa pemilihan DEMA atau pemilwa bukan sekadar pesta demokrasi tetapi benar-benar dipilih untuk memberi dampak baik bagi mahasiswa.

“Ya, aku maunya DEMA bukan hanya sekedar memenuhi pesta demokrasi atau [cuma] perebutan jabatan aja, tapi benar-benar memberi dampak untuk mahasiswa, seperti namanya “Dewan Mahasiswa,” tegas Dahlia []

Reporter: Dian Pratiwi

Editor: Lutfiana Rizqi S

You may also like

Pameran Poster sebagai Bentuk Kritik Kejanggalan TWK KPK

lpm rhetor – Bertepatan dengan hari lahir Pancasila,