Kemarin, Hari Ini, dan Esok

www.artandmarket.net

Tahun 2020 hanyalah sebuah tahun tentang berapa manusia yang mengeluhkannya. Perkara hal di depan hidung: isolasi dan kematian, hingga kesehatan pikiran, tubuh, dan bahkan emosi yang terenggut akibat pandemi.

Ada satu kutipan dari sahabat dekat, dia mengatakan, “Pandemi tidak hanya merenggut waktu kita, tapi kemanusiaan kita”. Sampai di sini aku sepakat dengannya. Apapun yang terjadi, manusia memang makhluk yang lemah. Siapa yang mampu melontarkan waktu dan kemanusiaan, tak seorang pun yang mampu kecuali kematian.

Bicara tentang kematian adalah hanya angka-angka. Tahun ini, rasanya jiwa yang meninggal berbalut angka hanya menjadi tontonan biasa. Dan di tahun ini, semuanya memang perkara hitung-hitungan, bukan? Berapa umur seseorang ketika ia meninggalkan jasadnya? Terlalu muda atau terlalu tua, kah? Berapa hutang atau warisan yang ditinggalkan? Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk mengurus kematian? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar seseorang dapat tergantikan?

Tak seperti di awal pandemi. Semakin lama manusia semakin tak melihat kematian sebagai suatu yang menyedihkan. Terutama rasa sedih dan keinginan untuk bertemu jiwa yang pergi juga dilarang atas nama penularan. Tidak ada belas kasih, bersedih buat apa? Hanya memperparah suasana, sebab sang waktu akan terus bergulir.

Aku rasa semua kematian sama saja. Hanyalah soal ditinggalkan atau meninggalkan, lebih cepat atau lebih lama.

Tidak ada namanya kemajuan, tidak ada bagi mereka yang lemah dan dipaksa lemah. Tapi, ada manusia yang terus melawan. Berapa juta manusia di seluruh dunia yang keluar untuk berdemonstrasi melawan tiran dalam 2020. Entah berapa berapa orang yang terus mengais rezeki di jalanan sembari berusaha mengabaikan corona. Entah berapa juga manusia yang hanya menyibakkan rambut dan merawat kulit, bahkan, entah berapa juta orang yang hanya mengeluh dan pasrah karena keadaan.

Just breaking out of 2020! Dalam momen menyambut tahun baru 2021, meskipun tak ada yang mampu menyangka bahwa 2020 berjalan hanya seperti “ini”. Iya, hanya seperti “ini”. Seperti sampah-sampah yang mengalir di sungai, sementara sungai meminta untuk dibersihkan, tetapi ada tangan lain yang melemparkan sampah. Artinya, semua terjadi secara tiba-tiba, tak ada persiapan yang matang untuk menghadapi pandemi. Layaknya, kita adalah air di sungai yang tercemar.

Semakin mengeluh tentang 2020 semakin membuat diri ini lupa diri, karena apa lagi yang terlintas? kalau bukan keluhan dan harapan tentang vaksin. Tahun 2020 hanya sebuah tahun, sama seperti tahun lainnya. Hanyalah waktu! dan ternyata, manusia tidak selemah yang terkira. Para pejuang medis, pejuang yang mengurungkan niatnya untuk keluar liburan, maupun hanya untuk bersenang-senang, pejuang yang mengikhlaskan PHK, pejuang yang sembuh dari virus, dan pejuang-pejuang lainnya di sekeliling kita. Manusia telah menjadi kuat, semakin hari semakin kuat.

Tahun ini adalah tahun di mana banyak Sisifus-Sisifus baru telah lahir. Mereka adalah orang-orang yang menjalani hidup dengan sepenuhnya. Mengambil alih hari-hari esok, tanpa takut dengan kehidupan serta kematian di dalamnya.  Menantang nasib dan menolak tunduk pada terjalnya hidup, meskipun ditimpa batu berkali-kali. Entah berupa kemiskinan, entah berupa kematian.

Meskipun saya sempat merasa putus asa dalam 2020 ini. Tapi, setelah dipikir-pikir, banyak karya yang bagus dari para seniman, dari para penulis, dari para content creator dalam apapun bidangnya. Semua karya di tahun 2020, secara tidak langsung memberikan semangat tentang corona –yang awalnya sebagai momok menakutkan– menjadi pencarian hikmah di baliknya. Ternyata banyak manusia yang memanfaatkan pandemi sebagai kesempatan untuk produktif. Manusia, punya insting berburu dan bertahan hidup yang sebelumnya tidak kita sadari.

Malam ini, beberapa orang mencoba memberi harap pada hari esok, pada lembar yang baru. Mencoba melupakan hari-hari kemarin dan berjanji akan mendapatkkan hidup yang lebih baik lagi. Esok, hari ini, maupun kemarin, aku pikir tak ada bedanya, yang terpenting adalah bagaimana kita menghidupinya.

Dan mungkin perlu kita ingat bahwa kesenangan hari esok adalah penderitaan kita hari ini dan kemarin. Tak perlu merobek lembar-lembar tahun ini. Berjanjilah bahwa keberanian kita tak akan berubah sedikit pun. Simpan lembaran tahun ini sebagai pengingat bahwa kita telah memperjuangkan hidup kita.

Tak ada lagi yang perlu disesali. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua waktu sama saja. Maka ucapkan selamat pada semangat yang baru. Kepada keberanian yang baru.

Oleh Ko

*Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang bercita-cita menjadi Mangaka. “Ko” adalah sebuah nama pena.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,