lpmrhetor.com – Hai, guys! Ane mau bahas sedikit tentang fotografi, nih. Tapi sebenarnya, sih, ane juga enggak terlalu bisa. Ya, sedikit tau aja.

Daripada disimpan sendiri, kan, entar takutnya basi. Jadi, mending dibagi, deh.

Kali ini ane mau sharing tentang sebuah teknik pengambilan gambar. Pada dasarnya, tekniknya itu banyak. Ada high speed, slow speed, show action, zooming, bulb, dan panning. Banyak banget, kan?

Sebenarnya, masih ada yang lain sih. Tapi, yang ane bilang di atas itu teknik-teknik dasar pada umumnya.

Nah, kali ini ane mau bahas salah satunya. Teknik yang katanya susah-susah gampang. Namanya Panning. Bukan “pening” ya. Kalau “pening” mah penyakit (garing ya?). Oke, skip kalau gitu.

Jadi, Panning ini adalah teknik yang biasa digunakan saat memotret objek yang bergerak. Contohnya motor, mobil, sepeda, becak, bemo, bahkan orang lari sekalipun.

Kalau kata Addison-Wesley di More Joy of Photography (1981), Panning tuh saat si fotografer gerakin kameranya buat nangkep objek yang bergerak. Katanya lagi, gerakannya itu sambil dia jaga gambar objeknya, alias “ngikutin”.

Moving a camera to photograph a moving object while keeping the image of the object in the same relative position in the viewfinder,” kata buku terbitan perusahaan kamera paling lejen, Eastman Kodak Company, itu.

Nah, dengan begitu, si objek yang dibidik si fotografer bakal jadi fokus, sedangkan semua objek di sekitarnya, yang lebih passif, bakalan blur.

Terus, gimana caranya motret sambil gerak begitu? Emang bisa?

Pertanyaan begitu emang sering dilontarin kalau udah ngomongin Panning. Termasuk sampe sekarang juga ane masih bertanya-tanya.

Maka dari itu, teknik ini bener-bener bergantung pada kemahiran menggunakan Shutter Speed. Biar gampangnya, kita bisa gunakan mode TV, atau S (Shutter Priority), yang udah ada pada set up kamera.

Tapi, ane biasanya gunain mode M (Manual). Emang lebih ribet ngaturnya. Tapi, biar bisa nyeimbangin aja, sih. Nah, kuncinya tetap gimana kita mainin Shutter Speed-nya.

Nick Garbutt, spesialis fotografi wildlife, yang udah motret cheetah, macan, singa, dsb. selama 15 tahun bilang, kalau Shutter Speed-nya kecepetan, maka objeknya bakalan enggak fokus. Terus, kalau terlalu lambat, nanti objek passif di sekitarnya malah kurang blur.

“Enggak ada formula khusus, sih. Semuanya tergantung sama kecepatan objek, dan kapasitas blur yang diinginkan,” kata Garbutt, kaya yang dilansir dari Popular Photography (11/09).

Tapi, sebagai pemula kaya ane, ane rekomendasiin set Shutter Speed-nya di 1/15 sampe 1/60. Udah aman lah segitu.

Tapi, jangan terlalu fokus ke situ. Balik lagi ke kaidahnya bang Garbutt barusan: semuanya tergantung gimana kecepatan objek. Semakin tinggi kecepatan objek bergerak, semakin tinggi pula Shutter Speed yang digunakan.

Prinsipnya gini, saat objek foto yang dibidik tampak kurang tajam, naikkan Shutter Speed-nya. Saat background kurang blur, turunkan Shutter Speed-nya. Gampang-gampang susah lah, ya.

Terus, waktu motret kita harus ngarahin kamera ngikutin gerakan objek dengan tenang dan stabil. Soalnya, kalau enggak begitu, hasilnya bakal enggak menarik.
Kuatin kaki. Anggep aja kaki kita lagi ditanem. Terus ikutin deh gerak objek. Jangan lupa, geraknya se-smooth mungkin, ya.

Matt Delorme, fotografer Pinkbike, bilang di salah satu videonya, “Kenalin garis lurus yang bakal dijadiin lintasan objek kamu. Terus ikutin secara lembut.”

Coba aja kalau enggak percaya.

Dan, yang perlu diingat itu, sediain ruang yang cukup agar kameranya leluasa ngikutin gerakan objek.

Yang terakhir, semua tips yang ane ceritain di atas bakalan jadi percuma kalau enggak banyak dipraktekin.

Intinya, “Practice makes perfect!”[]

 

Fotografer: Ahmad Fajril Haq

Editor: Ina Nurhayati

dok: Rhetor/Fajril

You may also like

Gaung Penolakan IMF-WB Sampai Yogyakarta

lpmrhetor.com – Gemuruh suara penolakan gelaran Annual Meeting