Kiprah PMII dari Masa ke Masa

Sumber: google.com

Putera bangsa, bebas merdeka…

Tangan terkepal dan maju ke muka…

lpmrhetor.com – Bermula dari berita lpmrhetor.com berjudul “Biru Kuning PBAK dari Tahun ke Tahun Selalu Sama”.

Dalam berita tersebut, lpmrhetor.com menuliskan bahwa warna-warni atribut yang digunakan oleh peserta PBAK identik dengan warna bendera organisasi Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII).

Berita tersebut menuai banyak kontroversi, terutama dari para kader PMII. PMII bahkan menuding lpmrhetor.com mengada-ada dan cenderung tendensius dalam berita tersebut.

Tudingan tersebut disampaikan dalam sebuah tulisan yang diterbitkan oleh syahadatpost.id, media online asuhan PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), berjudul Lembaga Pers Mahasiswa UIN Sukijo Krisis Nyali Atau Krisis Ide?

Seperti yang tertulis di artikel tersebut, Aris, si penulis, menggunakan diksi ‘terbesar’ dalam menyebutkan organisasinya tersebut.

“Untungnya, PMII adalah organisasi terbesar di UIN Sukijo,” seperti tertulis di sana.

Diksi “terbesar” tersebut boleh dikatakan benar.

Bagaimana bisa? Berikut kisahnya.

Kisah Perjalanan PMII sebagai Organisasi “Terbesar”

PMII memang bukan organisasi kemarin sore. PMII sudah berkiprah selama 58 tahun di negara ini. Maka, tidak heran jika Syahadat Post menggunakan diksi tersebut.

Situs resmi pmii.or.id mengatakan bahwa ide untuk mendirikan PMII berawal dari hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi ahlu sunnah wal jamaah.

Sebenarnya PMII baru berdiri secara resmi pada 17 April 1960. Namun, beberapa tahun sebelumnya juga sudah berdiri beberapa organisasi mahasiswa NU yang kurang lebih serupa.

Organisasi tersebut di antaranya adalah Ikatan mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) di Jakarta, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Surakarta, dan Persatuan Mahasiwa Nahdlatul Ulama (PMNU) di Bandung.

Beberapa organisasi di atas masih bersifat lokal, sehingga belum cukup menghilangkan keresahan sebagian besar mahasiswa NU yang menginginkan sebuah wadah yang bersifat nasional, meski sebenarnya, wadah mahasiswa Nahdliyin sudah ada yang bersifat nasional, yaitu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang berdiri pada 24 Februari 1954.

Hal itu kemudian membuat pimpinan pusat IPNU, Mohammad Tolchah Mansoer, bersama-sama dengan Rais Aam Syuriyah PBNU, KH Abdul Wahab Chasbullah, menolak berdirinya suatu organisasi mahasiswa NU karena dikhawatirkan akan melemahkan eksistensi IPNU yang baru saja berdiri.

Sampai akhirnya ide tersebut diletakkan di atas meja Konferensi Besar IPNU I, enam tahun kemudian di Kaliurang, tepatnya pada 14-17 Maret 1960.

Adalah M. Said Budairy, salah satu dari 13 orang bernama “Panitia Sponsor” yang dibentuk di Kaliurang. Disebut sponsor karena kelak ke-13 orang itu merumuskan pendirian organisasi mahasiswa NU yang selama ini diidam-idamkan.

Said, bersama Khalid, Ubaid, Syukri, Hilman, Ismail, Nakhrowi, Suaidi, Mansyur, Jaelani, Huda, Kholid, dan Husein, selanjutnya mengadakan pertemuan di Gedung Madrasah Muallimin NU, Wokromo, Surabaya pada 14-16 April 1960. Kelak pertemuan itu disebut Musyawarah Mahasiswa Nahdlatul Ulama.

Hasil musyawarah tersebut kemudian diumumkan di Balai Pemuda satu hari kemudian, 17 April 1960. Tanggal itulah yang hingga kini dijadikan hari lahirnya PMII.

Sebagai ketua pertama, dipilihlah Mahbub Djunaidi, seorang esais cum aktivis yang sudah lama melanglangbuana di kancah perpolitikan Indonesia sejak era Orde Lama.

Mengenal sosok tokoh pendiri PMII

Mahbub Djunaidi menjabat sebagai ketua umum selama tiga periode (1960-1967). Mahbub bukan hanya dikenal sebagai seorang organisatoris. Ia juga dikenal sebagai seorang wartawan, sastrawan, sekaligus politikus.

Jakoeb Oetama, dalam Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi (2017), mengatakan “Seperti Bung Mochtar Lubis, selain wartawan adalah juga sastrawan, Mahbub boleh dibilang sebelum jadi wartawan sudah sastrawan, tentu saja sekaligus politisi.”

Mahbub merupakan putra dari Kiai Haji Muhammad Djunaidi. Ia lahir di Tanah Abang, pada 27 Juli 1933. Ayahnya merupakan tokoh NU Betawi kala itu.

Karir perpolitikan Mahbub berawal ketika duduk di bangku SMP,  ia terpilih sebagai ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Menginjak bangku SMA ia sudah tergabung dalam IPNU.

Tercatat sebagai Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Mahbub memilih untuk bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, pada tahun 1960 ia memilih untuk mangkir, walaupun saat itu ia mejadi pegurus HMI, untuk mendirikan PMII.

Sejak tahun 1960 ia tidak hanya tergabung dalam organisasi mahasiswa akan tetapi ikut andil dalam pergerakan politik praktis. Ia menjabat sebagai anggota DPR-GR/MPRS dari fraksi partai NU.

Bagi Mahbub, politik adalah hal yang penting. Maka dari itu ia tidak menghilangkan aspek politik dalam segala tulisannya.

Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, pantas saja ia dijuluki sebagai pendekar pena.

KH Said, dalam simposium pemikiran Mahbub Djunaidi dan pendidikan jurnalisme pergerakan yang digelar oleh PB PMII pada 2013 lalu mengatakan bahwa Mahbub sangat menginspirasi dalam gaya kepenulisan dan pemikiran.

“Gaya tulisan dan pemikirannya sangat menginspirasi. Harapan saya, generasi muda masa kini bisa meneladani dan mengambil manfaat dari pemikiran Mahbub Djunaidi,” ujar Kyai Said pada Republika di kantor PBNU, Jakarta Pusat (28/11/13).

Relasi dengan NU hingga interdependen

Semenjak berdirinya PMII sejak tahun 1960, secara keorganisasian PMII berada di bawah NU sebagai induk organisasi. Hal tersebut bertahan hingga tahun 1972.

Pada tahun itu mereka menyatakan interdependensinya dan memutuskan untuk tidak ada ikatan terhadap organisasi manapun.

Deklarasi interdependensi PMII dicetuskan pada tanggal 14 Juli 1972, dalam Musyawarah Besar III di Murnajati, Lawang, Jawa Timur.

Maka dari itu, deklarasi interdependen PMII-NU dikenal dengan “Deklarasi Murnajati”.

Beberapa bulan kemudian tanggal 24 Desember 1991 pada musyawarah kerja nasional (Mukernas) PB PMII di Cimacan Jawa Barat, guna mempertegas posisi interdependensi PMII-NU, maka dikeluarkan prinsip-prinsip yang menyambungkan keduanya.

Yaitu Ukhuwah Islamiyah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Mabadi Khoiru Ummah, Al-Musawah, dan hidup berdampingan dan berdaulat secara penuh.

Sehingga, ada beberapa hal yang menyebabkan sebagian besar orang mempertimbangkan PMII sebagai organisasi pilihan.

Salah satunya ialah prinsip yang tertanam mengacu erat pada ideologi NU “Ahlu Sunnah Wal-Jamah”, mengingat Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, dan NU sebagai organisasi Islam yang tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia.

Maka, bolehlah PMII dikatakan sebagai organisasi “terbesar”.[]

Reporter: Siti Halida Fitriati

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW