Cara Membedah Realita Masyarakat Ala Gramsci

Sumber: google.com

“Setiap orang adalah intelektual, baik secara sadar atau tidak, sebab setiap orang berusaha untuk memahami dunianya, namun tidak setiap orang bisa berperan sebagai intelektual.”

-Antonio Gramsci-

Antonio Gramsci dikenal sebagai salah seorang pemikir besar dan kritis pada masanya, juga dikenal sebagai penerus pemikiran Karl Marx dengan kritik-kritiknya.

Gramsci lahir tahun 1891 di Sardinia dan meninggal di Roma tahun 1937, dalam status tahanan penjara. Gramsci dijatuhi hukuman oleh pemerintahan Musolini selama 20 tahun penjara, namun ia hanya menyelesaikannya selama 10 tahun, karena penyakit yang dideritanya mengantarkannya pada kematian.

Gramsci mulai menuangkan pemikiran-pemikirannya ketika ia dalam penjara. Dengan tenaga yang masih tersisa akibat terus-menerus digerogoti penyakitnya, ia menuangkan pemikiran-peikirannya dalam buku hariannya. Pemikiran Gramsci yang menjadi pokok paling sentral dalam setiap pembahasan adalah mengenai hegemoni dominan, yang dibukukan dengan judul Quqreni del Carcere atau Selection From the Prison Notebooks.

Gramsci hidup pada masa dimana pergolakan “Era Revolusi” sedang naik-naiknya. Revolusi Perancis dan revolusi Rusia diantaranya. Namun Gramsci mendapatkan sebuah kegelisahan saat menyadari bahwa apa yang diramalkan oleh Marx mengenai revolusi, nyatanya tidaklah tepat.

Marx meramalkan orang-orang kecil atau buruh, harusnya memberontak dan menang serta menguasai struktur politik sosial, sehingga kehidupan proletar berubah dari tertindas menjadi bebas. Namun pada kenyataannya, teori Marx dalam perjalanannya mengalami kemacetan.

Herannya, setelah pemberontakan yang terjadi di Eropa, bukan komunisme yang berkembang, melainkan fasisme lah yang menggantikan posisinya. Seperti di Italia.

Sehingga muncullah kritik Gramsci terhadap teori Karl Marx. Menurut Marx faktor yang membuat terjadinya pemberontakan buruh, adalah struktur ekonomi kapitalis yang eksploitatif. Namun saat Gramsci melihat realitasnya, ia menyadari bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan segala perubahan sosial yang terjadi.

Saat sebuah negara akan digulingkan, semua aktor yang memainkan perannya dalam pemerintahan negara itu tidak akan tinggal diam, mereka akan melakukan kompromi-kompromi untuk menggagalkan revolusi, dan akan terus mencari cara agar kekuasaanya itu bertahan lama.

Inilah awal mula muncul teori Gramsci tentang “Hegemoni”. Hegemoni merupakan salah satu perangkat yang digunakan negara untuk melanggengkan kekuasaannya. Bahkan cakupan hegemoni yang dimiliki negara ini lebih luas, negara memiliki kekuasaan sehingga ia dapat melakukan dominasi terhadap orang-orang bawah demi menjalankan keinginannya.

Negara bisa saja menggunakan kekuasaannya terhadap segala perangkat negara,  seperti aparat keamanan untuk melakukan tindakan represif demi tercapainya sebuah tujuan.

Tanpa kita sadari, negara juga melakukan hegemoni secara halus dengan memasukkan ide dan pahamnya melalui media-media, pendidikan dan lain sebagainya.

Namun kita tak bisa langsung beranggapan bahwa hegemoni itu buruk. Karena pada hakikatnya hegemoni itu netral, tidak baik atau buruk.

Oleh Gramsci, hegemoni digunakan untuk perjuangan kelas. Gramsci mencoba meneruskan pejuangan Marx dengan pemikiran yang berbeda. Hegemoni kelas ini mencoba membujuk kelas-kelas lain untuk menerima kebudayaan, politik dan moral dari kelas tersebut.

Awalnya, perjuangan kelas yang oleh Marx digunakan untuk kelas ekonomi, namun hanya sebatas gerakan buruh.

Analisis Gramsci berhasil membantu untuk membuka dan menghubungkan gerakan buruh sebagai gerakan civil society dan begitu pula sebaliknya.

Untuk mencoba menyadarkan kelompok yang dihegemoni, supaya menaklukkan hegemoni atas diri mereka sendiri, maka diperlukan counter hegemony. Yang menjadi pelopor dari counter hegemony ini Gramsci menyebutnya dengan kaum intelektual organik.

“All men are intellectuals, one could therefore say; but not all men in society have the function of intellectuals”

Menurut Gramsci, setiap orang adalah intelektual, baik secara sadar atau tidak, sebab setiap orang berusaha untuk memahami dunianya, namun tidak setiap orang bisa berperan sebagai intelektual.

Keterkaitan hegemoni dengan masa sekarang, akan sangat menarik jika diperbincangkan, terlebih lagi hegemoni membahas tentang yang mendominasi dan didominasi. Yang pada realitas hari ini, hidup itu tentang diatur atau mengatur.

Yang menurut Gramsci bahwa setiap orang adalah intelektual, maka sebagai terpelajar haruslah bisa berperan sebagai intelektual sesungguhnya. Mempertanyakan diri mereka terhadap hegemoni, apakah yang talah menghegemoni mereka, karena sejatinya manusia tidak bisa lepas dari yang namanya hegemoni.

Maka tentukanlah akankah diri kita, dihegemoni atau yang menghegemoni.[]

Penulis: Dermawan Julianto

Editor: Muhammad Nizarullah

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan