Bunga di Tanah Surga

Sumber: kompasiana.com

Oleh: M. Jia Ulhaq

 

Hilir musim telah berganti, rakyat sudah menanti

.

Datang musim di pagi hari, dengan aroma melati berbau musim semi.

.

Pemilik kebun silih berganti untuk menanam kembali

.

Bunga telah mekar tembok-tembok mulai mencengkram di lahan-lahan.

.

Geredak-guruduk suara kasar mencari lahan, cekakak cekikik sang makelar.

.

Nada kesedihan terdengar di bilik-bilik rumah. Asap di dapur tak lagi terlihat.

.

Kucari bunga yang dihinggapi lebah agar aromanya masuk dalam hati.

.

Kucari di tanah Sunda, tapi tanah Sunda sedang dicengkram oleh alat berat yang menggusur rumah yang menanam bunga.

.

Di Jogja, kucari kesana, tapi, lahan, Jogja sudah dijadikan tempat parkir burung pengantar.

.

Tanah Kalimantan, kucari kesana, tapi, kalimantan sudah dijadikan lahan tambang.

.

Terus kucari sampai tanah Papua, tapi, Papua sedang terjadi huru-hara, ku urungkan niat tuk kesana.

.

Tanah Sumatera, banyak bunga yang mekar, tapi nyatanya  lahan disana sudah hangus terbakar.

.

Kemana lagi ku cari bunga yang mekar untuk meminang?

.

Mungkin harus pergi ketanah surga (katanya).

 

 

 

 

M. Jia Ulhaq adalah jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Puisi-puisi Naspadina: Tak Lagi Sama

Di Suatu Malam Tuhan Suatu malam, di depan