Resensi Buku Born Outlaw: Mafia dan Kartel dalam Sikap Anarkis

sumber: google.com

Judul                           : Born Outlaw: 33 Catatan Tentang Mafia, Kartel, Pembangkang, dan Anarkis

Penerbit                       : Buku Mojok

Penulis                         : Eddward S. Kennedy

Tebal                           : xviii + 248 Halaman

Cetakan                       : Pertama, September 2019

ISBN                           : 978-623-7284-12-3

Pada sebuah toko buku di awal tahun 2020, mata saya tertuju pada sebuah buku berwarna hitam bertuliskan Born Outlaw: 33 Cacatan Tentang Para Mafia, Kartel, Pembangkang, dan Anarkis. Satu hal yang cukup menarik perhatian saya, penulisnya adalah Eddward S. Kennedy, penulis yang sering saya baca tulisan-tulisannya di tirto.id.

Eddward S. Kennedy lebih banyak menguliti tentang kisah-kisah pelanggar hukum yang disebabkan oleh negara dan salah satunya, ia abadikan dalam buku Born Outlaw. Kennedy menyerap banyak informasi dari berbagai sumber: buku, film, surat kabar, dan media daring. Uniknya, setiap kisah yang dituliskan Kennedy tidak hanya perihal kekejaman, tetapi juga faktor pendorongnya.

Hal menarik pada 33 kisah di buku tersebut tentu saja tentang mafia dan kartel yang disusul dengan kisah-kisah para anarkis. Pada daftar isi dapat diketahui bahwa buku ini terbagi dua bagian. Bagian pertama mengisahkan Para Mafia dan Kartel dan bagian kedua mengisahkan para Bandit dan Pembangkang.

Pada halaman awal buku, Kennedy mengatakan bahwa ia menikmati kisah-kisah mafia dan kartel dalam melanggar hukum, dan ia juga menyebutkan ketagihan terhadap kisah-kisah para pembangkang—termasuk anarkis di dalamnya—yang mempersetankan aturan.

Eddward juga menambahkan bahwa semua kisah yang ditulisnya dalam buku ini demi memenuhi hasratnya terhadap segala hal yang berkaitan dengan sikap outlaw. Baginya, mereka adalah orang-orang yang bernyali besar dengan kisah pertualangan hidup yang mengasikkan. Namun, ia tidak otomatis membenarkan segala tindakan atau sikap ideologis orang-orang di dalam bukunya ini.

Tidak sedikit orang yang beranggapan mafia dan kartel merupakan sindikat yang sama. Mereka melakukan bisnis, mulai dari penjualan narkoba, penjualan senjata api, perdagangan manusia, pencurian mobil, pemerasan, perlawanan pada petugas hukum, pembunuhan, dan prostitusi. Dunia yang gelap dan beringas, pembunuhan lazim dilakukan. Kendati demikian, ada perbedaan yang mencolok antara keduanya.

Mafia merupakan organisasi kejahatan murni yang terorganisasi dan hanya berasal dari Italia. Dalam hal lain, “mafia” merupakan streotip etnis yang ofensif terhadap orang Italia. Mafia mengedepankan negosiasi dan teror. Sehingga tidak heran, jika pemimpin mafia selalu mengedepankan musyawarah sebelum atau sesudah pertikaian. Sebuah adegan dalam film GodFather bisa menjadi contoh bagaimana para pemimpin mafia berkumpul untuk mencapai kata mufakat.

Jika mafia mengedepankan negosiasi dan teror, kartel nyaris tidak pernah sudi untuk melakukan itu. Para kartel cenderung memilih jalan pintas dengan kekerasan. Kartel lebih beringas, tidak setuju maka “DOR!”. Namun, ada satu hal yang harus digarisbawahi bahwa kartel tidak selalu dikategorikan sebagai organisasi yang ilegal. Secara definitif, kartel merupakan grup yang mengendalikan aliran produk tertentu sehingga dapat mengendalikan harga. Jika produk yang menjadi bisnis mereka resmi dalam pasar internasional, maka mereka memiliki azas legalitas.

Hal lain mengenai kekejaman, jelas kartel merupakan sindikat pengumbar pornografi kekerasan tanpa tanding. Namun, mafia juga mempunyai level kekejamannya sendiri, meski sebatas tembak menembak biasa dan sedikit sekali mereka melakukan kebiadaban dibandingkan para kartel. Para penggila adegan sadis akan menganggap kekejaman yang dilakukan mafia hanya seperti adegan lawak.

*

Para kartel tidak selalu membangkang kepada pemerintah, sesekali mereka bersekongkol. Kejadian itu terjadi terhadap masyarakat Cheran, Meksiko. Masyarakat Cheran pada awalnya hidup dengan damai, sebelum wilayahnya dikuasai kartel narkotika. Tak hanya bisnis obat-obatan, para kartel juga melakukan penebangan kayu secara liar. Situasi di Cheran tambah runyam ketika pemerintah dan aparat setempat juga terlibat. Sebagian besar tentara pun ikut menerima suap kartel. Negara yang harusnya mensejahterakan rakyatnya, justru tidak didapat oleh masyarakat Cheran. Dengan keadaan yang semakin kacau, masyarakat sipil Cheran pun akhirnya membangkang, mereka mengangkat senjata dan melawan. Upaya tersebut berhasil.

Hingga kini Cheran menjadi kota otonom yang mampu menjalankan kehidupan sosial politiknya tanpa campur tangan negara. Cheran menjadi salah satu kota dengan tingkat kriminalitas terendah di Meksiko, dengan hal itu pemerintah Meksiko mempersilakan Cheran untuk membuat hukum sendiri yang tidak ada dalam konstitusi Meksiko. Salah satu di antaranya: larangan iklan partai politik. Menarik bukan?

Selain kisah pembangkangan yang dilakukan masyarakat Cheran, masih banyak kisah lain yang disajikan, bahkan dari berbagai negara. Sebut saja, kisah awal mula munculnya Black Bloc: Anarko-Sindikalis Berbaju Hitam-Hitam, Rote Zora: Ketika Grup Feminis Jerman Melawan Pemerkosa dengan Teror, Nakam: Grup Yahudi yang Balas Dendam kepada Nazi, Kanno Sugako: Anarkis Jepang Yang Berencana Membunuh Kaisar, dan lain-lainnya. Tentu semua kisah pelanggar hukum merupakan representatif dari sikap negara yang semena-mena, ada ketidakadilan di situ atau barangkali mereka tidak membutuhkan negara, dan merasa bisa hidup tanpa naungan sebuah negara.

Saya menganggap kisah-kisah di dalam buku Born Outlaw bukan hanya sekedar kisah pada masa lalu yang harus dikenang. Namun, pencarian makna melalui kisah-kisah tersebut juga harus didapatkan.

Kisah-kisah pelanggar hukum dalam buku ini, saya akui dapat menggugah hasrat pembangkangan muncul. Kita dibawa masuk ke dalam cerita dengan segala faktor pendorongnya. Munculnya para pembangkang tidak lepas dari kebusukan pemerintah yang kian terbuka. Ketidakpercayaan terhadap pemerintah pun membuat pandangannya terhadap negara hanya sebagai pemburu atas dalih-dalih keamanan.

Pencarian Makna

Outlaw, secara definisi adalah orang yang berada di luar perlindungan hukum, masyarakat yang tidak sah, atau mencabut perlindungan hukum. Hal yang sangat menarik adalah kenapa kisah-kisah outlaw para mafia dan kartel disatupadukan dengan para anarkis dan makna apa yang terkandung di dalamnya?

Terlepas dari tindak kejam yang dikisahkan dengan sangat mengerikan, barangkali ada dua hal yang bisa didapatkan. Pertama, mereka bisa bertahan tanpa adanya pemerintahan, seperti halnya para anarkis yang menolak hadirnya sebuah pemerintahan. Kedua, sama-sama melakukan pembangkangan terhadap negara, contohnya para mafia dan kartel yang melanggar hukum dan menyuap aparaturnya.

Mafia dan kartel merupakan kelompok yang mempunyai otoritasnya sendiri dan terdapat pemimpin yang mempunyai kelihaian dalam mengurusnya. Mereka bukanlah kelompok kolektif. Namun, mereka berbeda dengan pemerintah di dalam negara. Jika dibandingkan, otoritas dalam keahlian di bisnis gelap mereka belum sebanding dengan otoritas negara yang bersifat politis yang acap kali memperlihatkan kekuasaan gila: membuat segala aturan yang menguntungkan aparaturnya saja, membuat definisi sesat terhadap suatu hal, contohnya terhadap kata ‘anarkis’ yang dengan mudah negara selewengkan maknanya, dan bahkan hingga urusan keyakinan agama pun negara yang mengaturnya.

Lewat kisah-kisah pelanggar hukum, kita bisa tahu bahwa secara alamiah manusia adalah makhluk yang bisa hidup tanpa negara. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Mansour Fakih dalam jurnal yang berjudul Anarkisme: Paham yang Tak Pernah Padam. Secara garis besar, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang secara alamiah mampu hidup harmoni dan bebas, tanpa intervensi kekuasaan (negara).

Kebebasan sikap yang ditunjukan mafia dan kartel merupakan cerminan dari apa yang disebutkan Mansour Fakih di atas. Barangkali Anda sudah menonton film dokumenter The Bajau yang diproduksi oleh Watchdoc, disutradarai oleh Dandhy Laksono?

Pengambaran makna kebebasan dalam artian manusia bisa hidup tanpa adanya negara salah satunya dapat dilihat dari Suku Bajo di Indonesia. Hasrat untuk mencukupi kehidupan secara alamiah bisa terpenuhi. Namun, dari sisi lain, peran pemerintah dapat terlihat mengacaukan keharmonisan dalam mencukupi pemenuhan hak kehidupan. Pada film tersebut, negara bahkan tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup para “korban” yang dirampas tanah atau kekayaan lautnya.

Buku Born Outlaw (2019) ini memang menunjukan ketenggrinasan—kekejaman para mafia dan kartel. Namun, bagi orang-orang yang mencari sebuah makna dari kisah tersebut, ia dapat memendar-mendarkan sikap Outlaw dan menjadikannya sebagai semangat revolusi atas ketidakpuasan terhadap negara. Tentu saja, kita semua berharap keharmonisan dalam kehidupan.

Kisah pelanggar hukum yang disajikan sarat akan makna kebebasan. Mereka mempersetankan aturan-aturan dari pemerintah. Jika politikus mulai kurang ajar, penjahat semakin bertebaran, dan polisi semakin korup, maka orang-orang di dalam pemerintahan itulah yang sejatinya bisa disebut “penjahat”. Seperti yang dilakukan masyarakat Cheran mereka mengusir hak pemerintah di kotanya.

Di dalam esai Emma Goldman yang tersohor, ia menyebutkan apologi penguasa dan hukum yang paling absurd adalah mereka [penguasa dan hukum] berupaya mengurangi kejahatan. Terlepas dari kenyataan bahwa negara itu sendiri merupakan penjahat terbesar yang melanggar setiap hukum alam dan hukum tertulis, mencuri dengan dalih pajak, membunuh dengan dalih perang dan hukuman mati, dan negara juga telah gagal menghancurkan atau mengurangi bencana mengerikan ciptaannya sendiri.

Pernyataan Emma Goldman tersebut menjadi refleksi dalam satu abad terakhir ini. Jika dalih-dalih negara adalah lembaga yang mensejahterakan rakyat, maka itu hanyalah bualan belaka. Bisnis-bisnis yang dilakukan para mafia dan kartel condong tidak peduli dengan keberadaan negara, bahkan aparatur negara bisa dengan mudah disuap.

 

Eko Wahyudi, Jurnalis Magang LPM Rhetor, Mahasiswa aktif di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Resensi Buku Melawan Dari Dalam: Pasang Surut Perjalanan Persma Malang

Judul Buku                  : Melawan Dari Dalam Pers