Puisi-puisi Perjalanan Jiwa yang Belum Selesai

Sumber: pixabay.com

Oleh: Nabil Muhammad*

 

 

Angkuh

 

Telah dimulai perjalanan tak kenal batas

Perkawinan dunia nyata dan khayalan

Melahirkan nafsu dan keinginan

Berkembang dan mengembara dengan rakus

 

Penggiringan menelusuri arus-arus gairah

Menghanyut menemukan batu-batu mulia penuh keindahan

Merampas satu persatu darinya

Tanpa peduli cipta ruang kenikmatan

 

Kita merampas keindahan

Merobek jiwa para pencari

Atas sebuah keinginan

Dengan lantai kekuasaan

 

Telah hancur jiwa yang dicipta atas pencapaian

Telah terbuka pintu kekecewaan atas agungnya khayalan

Telah mati hati-hati yang jernih

Sebab nafsu telah angkuh dan jiwa telah mati

 

 

Buas

 

Dunia sangat buas dalam penyajiannya

Keberingasan-keberingasan yang lapar

Mengejar, memangsa dan berkuasa

Semua penuh kesesakan

 

Tepukan gemuruh pencapaian dikumandangan

Menunggang-langgangkan

Mencabik-cabik

Melahap rakus kekuasaan

 

Di sudut-sudut hanya terlihat lemah

Menumpukkan diri pada kaki-kaki

Menyerahkan tubuh dan pemuas nafsu

Pada para pemegang dunia yang lapar

 

Tak perlu pengakuan atas pencapaian

Zaman takkan pernah selesai atas perdebatan

Tak perlu memamerkan kekuatan

Jika menginjak yang lemah menjadi berharga

 

 

Kehancuran

 

Kebuasan nafsu telah merasuki jiwa

Terbawa pada nalar dusta

Omong kosong telah menjadi raja

Memimpin kehancuran dan menertawakan

 

Kita adalah kebodohan yang nyata

Membunuh kedermawanan dengan angkuh

Menghujani pedang-pedang penuh kegusaran

Membakar gumpalan harapan

 

Tipu daya pencapaian menjadi potret perbudakan

Berperan licik dalam benteng pertahanan yang gelap

Sedangkan rudal telah diluncurkan tertuju pada jiwa

Dengan cepat meluluhlantakkan dinding-dinding kesucian

 

Telah hangus terbakar teks-teks pencipta

Kayu-kayu kehidupan telah rapuh

Abu berterbangan kembali pada kesucian

Sementara lantai jiwa telah pekat menghitam penuh kesuraman

 

 

Kesadaran

 

Hidup memaksa diri masuk ke dalam pengembalaan

Mengelilingi lika-liku cipta atas rasa

Memperoleh pengaruh dari keinginan

Menggagas ruang pencapaian

 

Kesadaran telah dibutuhkan

Atas keuntungan dan kehilangan

Atas kegagalan dan keberhasilan

Kita adalah proses kembali bukan meraih

 

Tak ada penemuan di dalam jiwa

Jika meraih hanya mengutamakan keberhasilan

Jika penemuan memaksa jiwa untuk puas

Telah tercipta jiwa-jiwa yang rugi

 

Kita bisa berpergian,

Tapi “kembali” Telah menjadi kata mati

Yang di tusuk pisau kepuasan

 

 

 

*Nabil Muhammad adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Puisi-puisi Kusharditya Albi

Toilet Terima kasih untuk Tuhan yang telah sudi