Tiga Keberisikan Ka(mampus)Ku

Ilustrasi: pixabay.com

Oleh : Liberika Swarapukang*

 

Berisik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khususnya pada ranah peserta didik tatkala menjelang tahun ajaran baru semester ganjil saya rasa nyaris sama dari tahun ke tahun. Paling tidak untuk dua tahun belakangan dan terjadi lagi (kisah lama yang… Ariellll, awh) saat ini (tahun 2016, 2017, dan 2018).

Apasih masalahnya?

Ya, ribut perihal kepanitiaan, atribut OPAK/PBAK, dan tentunya MAKRAB. Ya paling tidak tiga hal ini sih ya~~ Saking seringnya viral di tiap ajaran baru, saya sebagai golongan tuli organisasi, buta UKM dan serta pengidap berrrmacam penyakit kronis mahasiswa pasif tiba-tiba mendadak bisa mendengar, mata saya jreng kuna(i)ng-kuna(i)ng, telinga saya mendadak menangkap bunyi “Bangkitlah mahasiswa, di bawah filosofi samudra (Biru, baca : H. Said Budairi) mari kita ciduk kader sebanyaknya – awh)”

Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi di antara kita semua ini?

“Kok panitia dibilang bikin berisik sih?” Tanya seorang qaqa yang uwuh-uwuh sedang jentik abu rokok pada salah satu warkop ka-aing!

Menurut saya ini cukup ribut, ada beberapa golongan yang bisa masuk sebagai panitia OPAK/PBAK. Sebutkan saja mereka yang aktif pada UKM, organisasi ekstra, dan peserta didik UIN tamvan dan UIN cantiks yang netzral, euh. Iseng nanya, apa aja sih syaratnya? IPK, PRESTASI, KEAKTIFAN, DLL.

Tapi, diriku tidak pernah menemukan pengumuman terbuka perihal syarat sah menggandeng adik maba memperkenalkan budaya kam(mampus)ku ini. Tidak ada pengumuman pula yang saya lihat perihal siapa saja, sih? Tapi emang perlu, ya? Perlu aja deh biar ndak ribut, serupa minta transparansi dana UKT, gitu lah.

 

Keberisikan yang lain adalah masalah atribut. Agustus 31 kemarin, salah dua anggota grub Whatsapp angkatan saya mengirim dua link dari dua media kampus yang berbeda perihal pemberitaan Atribut PBAK. (Kok nggak OPAK/PBAK lagi? Lelah syayatuh, sekarang kan makeh PBAK ajah).

Kiriman pertama berita datang dari LPM Arena (jadi inget pilem Thailand) yang mengangkat soal “Bisnis Panitia di PBAK”  bahasan utama dari media ini ialah adanya panita yang memanfaatkan momentum PBAK untuk meraup keuntungan melalui penjualan atribut PBAK.

Berbeda dengan Arena, satu lagi kiriman berita datang dari media intern Fakultas Dakwah dan Komunikasi yakni LPM Rhetor, yang mengangkat tema perihal warna-warna mempesona atribut PBAK.

Berita itu berkepala Biru Kuning PBAK Dari Tahun ke Tahun Selalu Sama.

Bahasan utama berita yang dimuat oleh LPM Rhetor pada 31 Agustus lalu ialah masalah Semiotika Warna.

Selain itu, LPM Rhetor juga menyebutkan nama salah satu organisasi yang menjadi obejek warna-warna itu.

Kemudian hal ini mendapat respon dari organisasi yang bersangkutan, iseng-iseng buka story Whatsapp saya nemu link menuju media milik organisasi tersebut yang  diwakili Syahadatpos.id dengan opini berjudul “Pencantuman Nama Organisasi “ku(nya si penulis).

Dalam opini itu si penulis ingin protes akan keberanian LPM Rhetor menuliskan nama organisasi si penulis sekaligus menangkis dugaan LPM Rhetor bahwa warna-warna pada atribut itu mewakili organisasinya, pada sesi wawancara Ketua Panitia PBAK Fakultas Dakwah dan Komunikasi  yang dimuat oleh LPM Rhetor mengatakan bahwa adanya kesamaan warna antar logo organ dan atribut PBAK itu hanyalah kebetulan saja.

Saya sedikit bingung, apakah kebetulan itu ada? Entahlah mungkin saya harus tanya Mas Reza A.A Wattimena atau kencan sama The Princenya Nicolo Machiavelli nih soal kebetulan ini.

Menurut Ketua Panitia PBAK Fakultas Dakwah dan Komunikasi, makna filosofis kuning mewakili bintang, kapas, datang dari lambang filosofis Pancasila serta warna biru mewakili samudera yang berarti luasnya khasanah keilmuan. Saya berharap mas dan mbak ini tidak berasal dari organisasi yang disebut LPM Rhetor, aamiin, sebab nanti bisa di tuduh tidak mengerti makna lambang organisasimu, mas mbaku.

Tapi, apabila diamati lebih jauh, filosofi itu tidak jauh dari makna lambang salah satu organ ekstra yang saya temukan di web. Dalam web tersebut tertulis: “Biru, berarti kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan harus digali oleh warga pergerakan, biru juga menggambarkan lautan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara.”

Nah, gimana tuh?

Selain itu, penulis melalui Syahadatpos.id  juga meminta LPM Rhetor untuk lebih menjaga integritas dan mengedepankan asas cover both side, gitu. Intinya jangan main nyodorin telunjuk ke kening gitu, ah.

Euh, LPM Arena aja kayanya asik, ngobrolin temen-temen yang nis-bisnis, toppi-toppi, ton-karton, ku-bukku dosenkuh. Eh, ku bukk-ku.

Ya ampun maafkan hamba nyinyir begini.~~

Maka tibalah kita pada keberisikan lain soal PBAK ini, yaitu makrab, biasanya iuaran yang di tarik untuk makrab menjadi menu utama. 2016 lalu, ketika saya yang masih korengan dan sebab saya lulusan MAN, kala saya berjalan menuju masjid saya melihat banner besar yang mengatakan bahwa “Kepada seluruh mahasiswa baru, ingat!!! Tidak ada penarikan iuran dalam bentuk apapun menyangkut OPAK (PBAK masa aku tuh).

Tapi nyatanya ada tarikan iuran dengan dalih uang makrab. Entahlah, saya rasa nggak ada salahnya makrab itu bayar toh cuma 50.000 (2016) tinggal tilipun mamah atau papah, toh juga buat ngakrab mana tahu akrab lalu lengket, jodoh, menikah, lulus cepat, jadi politikus atau PNS, punya anak, tua, mati mashook surga kan enak.

Tetapi, yang menjadi keberisikan, ialah acara-acara makrab yang di koordinir oleh panitia OPAK/PBAK, adanya bendera organ yang berkibar-kibar seolah ini bukan makrab universitas, melainkan makrab organ. Pernah beredar beberapa foto yang memperlihatkan realita ini, perihal makrab universitas/organ tak pernah ada kejelasan sama sekali.

Usailah tiga keberisikan itu, entah mengapa ini yang saya tangkap. Mengapa tidak masalah UKT yang kian mencekik sebab beberapa fakultas dan jurusan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, jadi saat ini UIN di bawah Kemenag sangat ramah pada kamu yang orang kaya?

 

Liberika Swarapukang. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang masuk golongan tuli organisasi, buta UKM dan serta pengidap berrrmacam penyakit kronis mahasiswa pasif.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan