Biru Kuning PBAK Dari Tahun ke Tahun Selalu Sama

Suasana PBAK 2017 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. (Dok. Rhetor/Nadia).

lpmrhetor.com, UIN – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) sudah menjadi agenda tahunan bagi kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setiap agenda PBAK dari tahun ke tahun ini tentunya tidak lepas dengan warna-warni atribut bagi setiap peserta PBAK. Batik, blangkon, pita turut menghiasi penampilan para peserta PBAK ini.

Berdasarkan pengamatan lpmrhetor.com, dari tahun ke tahun terdapat atribut yang selalu sama dengan yang dikenakan peserta PBAK. Warna biru dan kuning nampaknya tak pernah lepas dan selalu menghiasi kostum para peserta PBAK. Diduga warna biru kuning ini diambil dari lambang salah satu organisasi ekstra kampus yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Apakah benar atau ada makna filosofi tertentu dari warna atribut yang diambil tiap tahunnya ini?

Sudah sejak tahun 2015 budaya biru kuning yang menghiasi PBAK (sebelum tahun 2017 dikenal dengan OPAK) selalu menjadi warna atribut untuk kegiatan orientasi tersebut. OPAK 2015 biru kuning dipakai pada name tag dan topi yang dikenakan peserta. Untuk OPAK tahun 2016 hanya ada pada name tag. Laki-laki memakai warna kuning dan perempuan warna biru. PBAK tahun 2017 dan 2018 juga pada name tag, hanya saja berkebalikan dengan tahun 2016. Dimana yang laki-laki harus memakai name tag dengan depannya warna biru sedangkan perempuan warna kuning.

Ketua Panitia PBAK Universitas 2018, Rivaldi, menjelaskan bahwasanya segala atribut dan kostum yang dipakai peserta PBAK, Panitia Universitas tidak memiliki wewenang untuk ikut menentukan. Panitia Universitas sendiri hanya menentukan regulasi yang berhubungan dengan rektorat, seperti menembuskan rundown umum, menembuskan pemateri untuk mengisi seminar.

“Pokoknya kalau masalah atribut kita nggak ikut campur. Sejak dari awal kemudian kita bentuk, kita rapat koordinasi memang sudah disepakati setiap fakultas dibebaskan untuk membentuk atribut, logo atau sebagainya itu tergantung dari fakultas mau menonjolkan ciri khasnya fakultas masing-masing,” ucapnya saat ditemui lpmrhetor.com, Senin (27/08).

Ketua Panitia PBAK Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Aji Nurfadilah, menjelaskan bahwa kostum dan atribut sebenarnya sudah menjadi ketentuan dari pihak masing-masing PTKIN. Namun di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dikembalikan kepada fakultas masing-masing.

“Kostum itu kan krusial ya, jadi itu soal kesepakatan fakultas sendiri-sendiri,” ujar Aji.

Dia juga menyanggah dugaan mengenai warna atribut yang diambil dari warna logo PMII. Dia menegaskan bahwa itu hasil kesepakatan bersama yang panitianya tidak hanya terdiri dari anak PMII saja. Menurutnya, kesamaan warna biru kuning PBAK dengan lambang PMII itu hanya kebetulan saja.

“Yang pertama kuning kami ngambilnya di filosofi Pancasila itu di Padi dan Kapas, jadi orang banyak ilmunya semakin menunduk. Jadi orang yang pinter itu merendah istilahnya begitu dan itu identik dengan mahasiswa. Kalau untuk yang warna biru itu tentang keluasan ilmu itu kita lambangkan dengan samudera, makanya kita ada biru kuning,” ucapnya mantap.

Aji juga menjelaskan bahwa sebenarnya dosen sangat berperan dalam segala pengambilan keputusan terkait PBAK tahun ini, tak terkecuali dengan kostum dan atribut. Segala hasil keputusan yang disepakati panitia fakultas harus kita bicarakan dengan dengan dosen.

“Kalau di dosen masih dibantah ya kita pembacaan lagi,” ungkap ketua panitia PBAK Fakultas Dakwah tersebut.

Senada dengan itu, Angga Eka Tama, Ketua Panitia PBAK Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, juga menjelaskan hal yang sama. Bahwa sudah menjadi tradisi untuk Fakultas Tarbiyah dan Keguruan untuk selalu menggunakan atribut warna biru kuning tiap tahunnya.

“Ya untuk Fakultas Tarbiyah biasanya kami mempunyai tradisi ya memang ini himbauan dari pihak LKM nya sendiri, ya memang warna biru kuning ini memang sudah menjadi tradisi kita yang memang melambangkan dari luasnya ilmu samudra. Itu memang dari dulu memang seperti itukan,” ungkapnya saat ditemui di Teatrikal Fakultas Tarbiyah, Selasa (28/08).

Namun sayangnya, maksud baik dari panitia PBAK mengenai warna yang diambil itu tidak disosialisasikan dengan baik kepada peserta PBAK, baik di tahun 2018 ini maupun di tahun-tahun sebelumnya. Alvin Sofia Khoirunnisa, salah satu peserta PBAK, mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan sosialisasi apapu mengenai tujuan daripada kostum dan atribut PBAK.

“Kalau untuk masalah warna tidak dijelaskan, hanya dijelaskan mengapa harus membawa pot, itupun setelah ada yang tanya,” ungkapnya.[]

 

Reporter: Darmawan Julianto dan Itsna Rahmah N.

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW