Selamat Jadi Mahasiswa, Selamat (Memilih) Dewasa

Foto: andrianigusti8.blogspot.com

lpmrhetor.com – Ada dua jenis kelahiran dalam perjalanan kehidupan kita sebagai manusia. Pertama, lahir ke alam dunia sebagai makhluk-nya sang pencipta. Kedua, lahir sebagai pikiran yang bertindak sebagai manusia.

Oke, mari kita bahas dua jenis kelahiran tersebut. Anggap saja ini sebagai ucapan selamat datang kami kepada segenap kawan-kawan mahasiswa baru UIN Sunan kalijaga tahun 2018.

Kelahiran pertama kali kita adalah kelahiran sebagai makhluk. Ya, hanya makhluk tak berdaya tanpa modal apapun selain perlengkapan fisik yang menempel di tubuh kita berupa panca indera, sistem pernafasan, pencernaan, dan lain sebagainya.

Itupun belum bisa digunakan 100%, harus dilatih setiap detiknya hingga semuanya terasa terbiasa.

Kelahiran ini sangat merepotkan. Bukan diri kita yang repot, tapi orang lain yang dibuat repot oleh kita. Ibu kita misalnya, beliau harus mengandung terlebih dahulu onggokan tubuh kita, jika normal sembilan bulan, jika tidak normal bisa lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Ibu kita setengah mati dibiarkan menanggung bebannya.

Selain ibu, ayah adalah tokoh kedua yang kita buat repot. Pikirannya penuh sesak dengan kekhawatiran baik keselamatan kita saat dilahirkan, keselamatan istri tercintanya, dan yang tidak boleh dilupakan, adalah total biaya dari A sampai Z, dari mengandung sampai melahirkan.

Lubang mana lagi yang nampaknya bisa digali untuk menutupi biaya kelahiran kita, lubang sebelah mana lagi?

Selanjutnya kakek kita, nenek kita, paman, bibi, sanak famili, tetangga kanan kiri, pun ikut-ikutan dibuat repot oleh kita. Bayangkan! Oleh diri kita seorang!

Semenjak kelahiran pertama itu kita banyak diajarkan… Oh bukan, kita dipengaruhi oleh banyak hal. Lingkungan, situasi sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dari mikro sampai yang makro.

Kita mempunyai nama, kita mempunyai nasab, mempunyai status sosial, sampai pada akhirnya hidup ini diserahkan kepada tujuan, capaian, dan target kita sendiri. Kita dituntut untuk mempunyai cita-cita! Oh Tuhan… Dituntut!

Terlalu banyak pengaruh dari berbagai lingkungan yang kita temui seiring bertambah pula usia kita hidup, akhirnya membuat segalanya menjadi kompleks, atau awut-awutan. Semrawut!

Kita banyak dituntut ini dan itu. Sedangkan, di sisi lain pikiran kita mulai menuju ke arah matang, sehingga sudah mampu melihat, menimbang, dan memilih pilihan kita sendiri.

Dua sisi itu setiap saat selalu dibenturkan. Dan ketika sudah tiba saatnya fase jenuh melanda, akan ada dua kemungkinan yang terjadi dalam diri kita: terlahir kembali, atau mati ditenggelamkan oleh banyak tuntutan, yang kalau kita perhatikan, semua itu bukanlah dari dalam diri kita, tho? Semuanya merupakan faktor eksternal kehidupan kita.

Kelahiran yang kedua adalah terlahir kembali sebagai pribadi yang menang. Disebut menang, karena kita mampu mengalahkan, atau setidaknya mendamaikan, antara dua sisi yang disebutkan di atas.

Pikiran kita akhirnya menemukan kesimpulan-kesimpulan tentang bagaimana hidup yang harus kita jalani. Sadar atau tidak, itu semua adalah hasil dari kumpulan pengalaman kita sepanjang hidup yang diolah menjadi rute melanjutkan perjalanan di fase selanjutnya, fase manusia yang telah dewasa.

Berbeda dengan kelahiran awal kita dahulu, kelahiran ini, ada atau tidaknya, kita sendirilah yang memutuskan. Kita tidak perlu merepotkan siapapun untuk mempersiapkan kelahiran semacam ini.

Tak ada orang lain yang perlu payah merawat. Tak perlu lagi ayah memikirkan pembiayaan kelahiran kita di fase ini. Cukup kita sendiri.

Dan saat ini, menjadi mahasiswa {entah ini merupakan pilihan sendiri atau tuntutan) merupakan babak final kita sebelum kita memutuskan akan terlahir kembali atau tidak.

Ya, tentu bukan melahirkan manusia dari dalam rahim kita (untuk kalian para wanita), tapi kelahiran ini merupakan kelahiran kita sebagai pribadi, sebagai makhluk Tuhan yang mampu menciptakan pikiran orisinal, lalu bertansformasi menjadi kontribusi pada kehidupan alam semesta.

Kelahiran sebagai pikiran yang bertindak. Selamat kawan, ini babak akhir. Selamat menjadi Mahasiswa!

You may also like

Sistem Birokrasi UP 45 Menciderai Asas-Asas Demokrasi

Setelah menggelar aksi menuntut transparansi anggaran pengelolaan fasilitas