Apa Tanggung Jawab Mahasiswa? Mari Belajar Pada Ibrahim

Dok. Rhetor

Pemuda adalah manusia yang mudah resah,

Apakah anda salah satunya?

lpmrhetor.com – Jika sudah berbicara mengenai mahasiswa, maka biasanya akan terjadi perpecahan definisi ke dalam beberapa patahan-patahan.

Kita boleh menyebut mereka sebagai segerombolan anak muda yang terpelajar, boleh juga kita menyebut mereka sebagai sekelompok anak muda yang people representative, atau yang lebih tidak berbobot lagi, kita menyebut mereka sebagai anak muda tamatan SLTA yang “kebetulan” saja melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi: universitas.

Para panitia Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) biasanya rajin memaknai “mahasiswa” dengan cuap-cuap Agent of Change, Agent of Social Control, atau lebih keren lagi, Agent of Power Control, yang ketiga-tiganya justru membuat bingung para peserta PBAK, yang tentu saja mereka newcomer di dunia mahasiswa.

Jika anda adalah mahasiswa, silakan anda coba simulasikan, bahwa anda adalah agen dari sekelumit tuntutan tersebut yang sebetulnya sulit sekali diterjemahkan. Bagaimana kira-kira tindakan yang akan anda lakukan? Bisa dijamin, menjadi agen penjualan obat herbal berbasis Multi Level Marketing saja, anda akan kebingungan. Apalagi menjadi agen dari perubahan sosial.

Oke, kita kesampingkan paparan di atas yang belum-belum sudah membuat anda mengernyitkan dahi. Mari sejenak mengenang kisah Ibrahim Alaihissalam ketika dirinya resah mencari Tuhannya.

Ibrahim, seorang yang lahir dari latar belakang sosial dan kebudayaan yang tidak bisa kita sebut sebagai kebudayaan Islami. Jangankan Islami, tauhid saja tidak. Ibrahim lahir di tengah lingkungan masyarakat yang sangat irrasional, terutama soal ketuhanan (musyrik).

Tak cukup itu, keadaan irrasional tersebut disuburkan dengan kekuasaan seorang raja yang sewenang-wenang, otoriter, lalim, lagi bengis. Namruz nama raja itu.

Dengan keadaan tatanan sosial demikian, rasanya sulit menemukan individu yang mempunyai daya berpikir yang luas, kreatif, apalagi kritis. Semuanya terpusat, didikte, dan diseragamkan berdasarkan selera sang penguasa. Segala aspek kehidupan betul-betul diatur oleh kehendak sang raja. Tak satupun individu di bawah kekuasaannya diperbolehkan untuk menentukan cara hidup mereka sendiri.

Semuanya harus manut, tidak boleh tidak. Bahkan apapun kebijakan yang diedarkan oleh pemerintah haruslah ditaati, tidak boleh tidak. Tercatat ada kebijakan dari sang penguasa yang sampai membuat galau seluruh masyarakat kala itu. Kebijakan tersebut adalah aturan untuk membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir. Jelas, kebijakan tersebut adalah kebijakan yang konyol, dan lagi, tidak boleh tidak harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat.

Disebut konyol karena–terang saja–anak bayi yang belum mempunyai dosa setitik partikel atom pun harus dibunuh. Bayi yang dikandung sembilan bulan dengan susah payah, dan dilahirkan oleh seorang ibu yang rela mempertaruhkan nyawa, harus dibunuh ketika berhasil dilahirkan. Dan itu resmi menjadi kebijakan negara yang secara absolut mesti dipatuhi.

Namun, di mana ada kekuasaan sewenang-wenang, maka akan selalu ada keresahan. Keresahan itu dirasakan oleh ibunda Ibrahim. Selepas setelah dilahirkan, Ibrahim dibawa lari untuk disembunyikan dari aparat pemerintahan. Ibrahim disembunyikan di dalam gua hingga akhirnya tumbuh dewasa dan bisa kembali hidup di tengah masyarakatnya.

Sebagai seorang pemuda, tentu secara positioning ia sudah mulai diterima di masyarakat. Ibrahim mulai diberikan akses untuk bergabung dalam topik obrolan, ritual, ataupun perilaku orang dewasa. Kita tentu mengalaminya hari ini bukan? Ibrahim pun pernah mengalami hal seperti itu.

Ibrahim juga banyak melihat kebiasaan masyarakatnya. Malapetaka berupa kebijakan membunuh semua bayi laki-laki, yang dirinya berhasil selamat, pun menjadi atensinya. Jelas-jelas, kebijakan tersebut membuat tidak nyaman seluruh lapisan masyarakat. Akibat dari ketidaknyaman adalah keresahan.

Di level selanjutnya, keresahan akan bertransformasi menjadi “mempertanyakan”. Ini yang kemudian penulis sebut sebagai kritisisme. Dan hal itu, ada dalam diri pemuda bernama Ibrahim: resah kemudian mempertanyakan.

Selain kebijakan genosida bayi tersebut, ada kebijakan lain dari sang penguasa yang membuat Ibrahim turut resah dan mempertanyakan, yaitu kebijakan untuk bertuhan lebih dari satu, dan keharusan setiap warga negara untuk menyembah sang raja laiknya Tuhan.

Ibrahim sebagai bagian dari masyarakat tentu dipaksa untuk mematuhi kebijakan itu. Namun, bukan Ibrahim kalau tidak resah dan mempertanyakan. Masa kekuasan Namruz mesti terusik dengan sikap Ibrahim.

Dalam sekuel ini, nampaknya Ibrahim berpikir keras. Kalau pada kasus kebijakan sebelumnya Ibrahim bisa dengan gampang menyimpulkan penolakannya. Dalam kasus ini Ibrahim mesti mengerahkan seluruh daya berpikirnya sebagai seorang manusia.

Berbagai rumusan masalah ia catat dan garisbawahi. Berbagai analisa kritis ia lakukan dalam rangka memecahkan masalah ketuhanan tersebut. Satu rumusan masalah yang ia catat adalah, Tuhan dapat disembah lantaran Tuhanlah yang maha segalanya.

Sehingga, manusia yang serba keterbatasan ini menyandarkan segalanya pada Tuhan. Sementara yang terjadi di masyarakatnya, Tuhan yang disembah cenderung lebih dari satu. Mana mungkin kekuasaan Tuhan terbagi-bagi? Itu rumusan masalah kedua.

Ketiga, ketika Namruz mengaku dirinya Tuhan dan mengharuskan masyarakat menyembah, Ibrahim berpikir bahwa Tuhan yang maha kuasa, seyogyanya tidak memiliki kelemahan yang manusia miliki. Jika masih punya, berarti belum maha kuasa, tidak pantas disembah, bukan Tuhan.

Namruz itu manusia laiknya Ibrahim. Dan yang paling penting, Namruz sudah pasti akan menghadapi kematian sebagaimana yang akan pula dialami Ibrahim. Artinya, Namruz tidak maha kuasa, bukan Tuhan.

Keresahan Ibrahim menjadi-jadi. Pertanyaannya yang ia catat dalam kehidupan ini semakin banyak. Siapa yang paling berkuasa di tengah alam semesta ini? Yang kekuatannya tak punya tandingan, sehingga laik menjadi Tuhan yang patut disembah. Al-Qur’an merekam keresahan itu dengan begitu aduhai syahdunya.

Dikisahkan Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kebenaran. Terlebih kebenaran hakiki mengenai siapa Tuhan sesungguhnya. Barangkali asas praduga tak bersalah dipraktikkan oleh Ibrahim.

Praktik praduga tak bersalah Ibrahim dilayangkan kepada bintang-bintang yang dirinya anggap sebagai Tuhan, ia amati dugaannya tersebut. Sampai ketika deretan bintang itu lenyap ditelan langit, Ibrahim pun membatalkan dugaan Tuhan terhadap bintang-bintang.

Sementara deretan bintang menghilang, Ibrahim menatap bulan yang tetap kokoh bertengger di langit. Dugaan akan Tuhan dilayangkan ke bulan, sinarnya yang menerangi bumi ditengah gulitanya malam dijadikan dasar dari hipotesanya tersebut. Namun, ketika pagi menjelang, bulan itu lenyap, dan lagi, Ibrahim membatalkan dugaan tersebut.

Bulan lenyap ditelan pagi, matahari muncul. Lebih terang, lebih besar, dan sinarnya membuat sekujur tubuhnya kepanasan, apalagi matanya dibuat silau lantaran berani memandang matahari. Dengan sumringah Ibrahim menduga inilah Tuhannya.

Ialah yang kuat, besar, terang, panas, yang tentunya penuh dengan kekuatan. Namun sayangnya, semua itu lenyap ketika malam tiba. Ibrahim kembali dipenuhi kekecewaan sambil barangkali bergumam– ‘Tuhan tidak pernah mati!’.

Singkat cerita, Ibrahim akhirnya berada pada kesimpulan final, bahwa Tuhannya adalah Dzat yang mampu menciptakan segalanya, yang dirinya lihat selama ini, menciptakan dirinya, orang tuanya, Namruz, bintang, bulan, matahari, dan segenap alam semesta ini. Itulah Tuhannya sang pencipta yang harus dirinya sembah.

***

Kisah di atas mari kita abadikan dalam ingatan kita. Sebagai pelajaran berharga, lagi sarat makna. Kemudian, setidaknya ada dua poin yang bisa kita ambil untuk menjadi bahan refleksi sehubungan dengan pembicaraan di awal mengenai mahasiswa.

Dua poin tersebut adalah “resah” dan “mempertanyakan”. Suatu jalan yang digunakan Ibrahim dalam mencari kebenaran. Kehidupan kita tak pernah lepas dari berbagai peristiwa dan persoalan. Apalagi semakin bertambah umur seseorang, semakin kompleks pula peristiwa dan persoalan yang dialaminya.

Menemukan-mempunyai keresahan adalah satu cara menyikapi semua hal ini. Lalu, seperti paparan di atas, pada level selanjutnya keresahan itu niscaya akan bertransformasi menjadi “mempertanyakan“. Itupun tergantung pada seberapa kuat kadar keresahan yang kita miliki.

“Mempertanyakan” adalah satu hal yang alami dari hukum aksi-reaksinya Isaac Newton. Ini merupakan suatu daya ataupun potensi melakukan peninjauan ulang terhadap keresahan yang kita alami. Terlebih jika keresahan kita terlanjur besar dan juga dibantu oleh wawasan yang luas, daya melakukan peninjauan ulang ini laiknya melakukan petualangan yang penuh akan tantangan.

Ketika sudah berhasil bertransformasi menjadi daya “mempertanyakan”,  maka saat itu kita berhasil menjadi manusia yang tidak sekadar menjadi penurut dan pengikut yang buta.

Praktik “mempertanyakan” biasanya akan dimulai dari kata “kenapa”. Dimulai dari hal yang paling mendasar, sampai pada variabel yang berkaitan dengan persoalan di tingkatan yang lebih tinggi, semuanya akan dimulai dengan kata tanya “kenapa”.

Misal, saat anda dipaksa mengenakan atribut konyol dan datang sejak pagi-pagi buta saat PBAK, anda tidak akan menerima dan melakukan intruksi tersebut secara mentah-mentah. Namun, anda akan bertanya, “Kenapa harus mengenakan atribut semacam ini? Apa tujuannya? Apa maknanya?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti anda bodoh atau tidak tahu apa-apa. Bahkan walaupun anda sudah memiliki pengetahuan terhadap fenomena tersebut, anda akan tetap bertanya. Hal itu dilakukan agar anda berada pada posisi yang “sadar”. Posisi yang membuat anda terhindar dari manipulasi dan pemanfaatan.

Seperti Ibrahim bukan?

Lalu, setelah menyelami kisah hidup Ibrahim dan mencoba memaknai prinsip “mempertanyakan”, dapatkah kita menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, “Apa tanggung jawab mahasiswa?”

Jika anda Ibrahim, maka sudah pasti anda akan menjawab dengan pertanyaan, “Kenapa mahasiswa harus memiliki tanggung jawab?” Lalu anda akan mencari tahu jawabannya dengan bertumpu pada pertanyaan, “Apa itu mahasiswa?”.

Namun, karena anda bukan Ibrahim, anda akan terjebak pada jawaban berupa Agent of Change, Agent of Social Control, dan Agent of Power Control. Itupun terjadi jika anda menyerah pada tumpuan tersebut. Lain lagi jika prinsip “resah-mempertanyakan” sudah coba kita praktikkan.

Namun, mampukah kita menemukan dan mempunyai keresahan tersebut? Sehingga kelak kita akan berada pada titik di mana kita mampu menjadi individu yang pandai mempertanyakan sesuatu seperti Ibrahim.

Jika anda masih bingung, itu wajar. Bukankah menjadi agen obat herbal saja sudah sangat membingungkan?

Ikhlas Alfarisi. Pemimpin Umum LPM Rhetor periode 2018-2019, yang juga aktif sebagai mahasiswa KPI.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan