Melawan Radikalisme Dengan Jurnalisme

Sumber: pixabay.com

lpmrhetor.com – Kita semua tahu, bahwa media sosial sebagai media yang bebas dan bersifat massal, lebih mudah terpapar oleh penyebaran berita palsu (hoaks).

Hoaks atau berita palsu dapat dengan mudah tersebar dan reproduksinya berjalan begitu cepat adalah karena pengguna media sosial memiliki sifat yang anonim. Para pengguna media sosial dapat dengan mudah menyembunyikan identitas mereka dan menyebarkan informasi palsu tanpa harus khawatir mempertanggungjawabkannya.

Anonimitas tersebutlah yang melindungi mereka dari tuntutan etika kebenaran informasi. Walaupun publik akhirnya tahu bahwa informasi yang diterimanya adalah palsu, namun si produsen akan tetap aman karena tidak ada yang mengetahui identitasnya.

Soroush Vosough, dkk. dalam jurnal The Spread of True and False News Online (2018) mengatakan bahwa di media sosial, penyebaran berita palsu berjalan lebih cepat dibanding penyebaran berita yang benar.

Jurnal tersebut juga menemukan fakta bahwa sebanyak satu persen berita palsu di twitter mampu menyebar ke 1.000 sampai 100.000 orang sejak 2006 (awal twitter berdiri) hingga 2017. Sedangkan, sebaran berita yang benar tidak mampu menggapai 1.000 orang pun.

Melalui fenomena tersebutlah, paham-paham kekerasan ekstrim dan radikalisme dapat dengan leluasa menyebar dan menjangkiti pikiran para pengguna media sosial.

Radikalisasi melalui hoaks dan sosial media

Dilansir dari Republika, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, mengatakan bahwa hoaks di media sosial adalah jalan mulus bagi paham radikalisme dan kekerasan.

“Budaya sharing tanpa saring ini harus dihilangkan,” katanya.

Suhardi juga menambahkan, bahwa publik saat ini terlalu cepat memberikan kesimpulan, tanpa melakukan verifikasi. Sehingga informasi yang memuat provokasi di media sosial mudah dianggap sebagai informasi yang benar.

“Apalagi memprovokasi orang yang pengetahuannya setengah-setengah, maka mereka akan menganggap provokasi itu merupakan sebuah kebenaran,” katanya lagi.

Perlu diakui, sebaran hoaks di media sosial yang sedemikian massifnya, membuat media sosial menjadi produsen paham ekstrim paling rajin.

Katakan saja Facebook, salah satu media sosial tersohor di dunia. Seperti dikatakan dalam laporan Tirto, hasil penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyatakan bahwa Facebook menjadi media yang berpotensi menjadi penyebar radikalisme.

Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa sebanyak 60 persen (dari 108) merupakan produsen radikalisme, dan 36 persen bertindak sebagai penyebar radikalisme. Sedangkan angka konsumen informasi hanya berada pada angka 4 persen saja.

Selain hasil riset PSBPS, ada pula temuan menarik dari hasil studi Solahudin, pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI).

Studi tersebut mempelajari berapa lama seseorang terpapar konten radikalisme hingga melakukan aksi teror. Hasilnya, 85 persen narapidana hanya membutuhkan waktu 0-1 tahun hingga memutuskan untuk melakukan aksi teror sejak berkenalan dengan paham radikalisme.

Sedangkan, Solahudin mencoba membandingkan dengan narapidana tahun 2002-2012, yang menurutnya, “ketika media sosial belum marak.”

Para narapidana generasi ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan aksi teror sejak kenal dengan paham radikalisme, yakni 5-10 tahun. Lima kali lebih lama ketimbang narapidana yang hidup di era media sosial.

Hal itu sudah cukup membuat aspek kebenaran dalam reproduksi informasi di media sosial semakin lemah. Walaupun, masyarakat masih saja dengan mudah memercayai informasi darinya mentah-mentah.

Semakin lemahnya kebenaran dalam arus informasi di media sosial, maka paham-paham kekerasan ekstrim dan radikalisme akan semakin mudah berseliweran.

***

Yusuf Omar, salah satu pendiri Hashtag Our Stories, tampil di depan kamera dengan perspektif ala vlogger. Ia menaruh kamera, yang tidak lain adalah ponsel pintarnya, menggunakan ‘tongsis’ (terkadang tangan) dan berbicara ke arahnya melalui mata kamera depan.

Namun, lain dengan vlogger pada umumnya, yang hanya menceritakan perjalanan dan pengalaman pribadinya saja, Yusuf justru menceritakan, atau tepatnya melaporkan, peristiwa di sekitarnya laiknya reporter stasiun televisi.

Ia melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang representatif terhadap konten yang akan ia laporkan, menambahi dengan beberapa data, dan dilakukan secara terbuka dan aktual. Semuanya dilakukan agar video yang ia buat bersifat faktual.

Video tersebut kemudian ia unggah ke berbagai media sosial, salah satunya instagram. Dalam akun instagram pribadinya, @yusufomarsa, dapat dilihat berbagai macam karya-karyanya.

Sebut saja salah satu videonya yang membahas mengenai pengalaman warga Norwegia yang harus melaksanakan puasa selama 20 jam, karena siang di negara tersebut berlangsung lebih lama daripada malam.

“Puasa selama 20 jam sangat tidak mudah. Ini adalah puasa terpanjang di dunia,” katanya di awal video.

“Sekarang pukul 21.45 malam, dan matahari masih bersinar di Oslo, Norwegia,” ia melanjutkan.

“Anda tahu? Saya harus puasa selama 19 sampai 20 jam,” ucap seorang warga yang menjadi narasumber dalam video tersebut.

Videonya kemudian memperlihatkan sebuah area masjid dan terlihat beberapa orang sedang melaksanakan ibadah. Lalu tampil lagi narasumber yang lain.

“Saya telah menghabiskan dua sampai tiga kilo (kilogram) selama 15 hari. Badan saya menjadi semakin kecil, namun batin saya merasa senang,” ucap warga lainnya.

Jurnalisme dalam ponsel

Jika ditelaah, walaupun dengan gaya vlog, video Yusuf sangat mirip dengan video reportase yang biasa kita lihat di stasiun televisi. Video tersebut memang tidak diterbitkan di sebuah platform media konvensional. Namun, telah berhasil terpublikasikan ke seluruh dunia melalui media sosial. Dan tentu saja berhasil memberikan informasi yang faktual.

Itulah yang kemudian ia sebut sebagai Mobile Journalism (Mojo). Yakni kegiatan kejurnalistikan yang semuanya dilakukan dengan ponsel pintar. Baik riset, recording, editing, hingga publikasi pun dilakukan hanya dengan ponsel pintar.

Yusuf mengatakan bahwa Mojo dapat menjadi alat baru untuk menyebarkan kebenaran. Ia mengatakan, bahwa jika ponsel pintar dan media sosial menjadi satu kesatuan, yang kemudian dikolaborasikan dengan prinsip jurnalisme, maka kebenaran akan hadir lebih banyak dan lebih massif.

“Lebih banyak kamera, maka lebih banyak perspektif. Lebih banyak perspektif, maka lebih banyak kebenaran,” katanya (6/7/2018).

Di lain kesempatan, Yusuf mengatakan bahwa saat ini setiap orang pada dasarnya sudah mampu melaksanakan fungsi sebagai jurnalis. Jika sebelumnya jurnalisme publik ini dikenal dengan istilah citizen journalism, maka bagi Yusuf hal itu sudah tidak berlaku lagi saat ini.

“[Sebenarnya] citizen journalism itu tidak ada, yang ada hanya jurnalisme yang hanya digunakan untuk konten breaking news [di televisi] saja. Namun, hari ini, dalam beberapa tahun terakhir, cerita terbaik [dalam hidup] kita pasti akan kita ceritakan melalui ponsel,” katanya kepada lpmrhetor.com pada Jumat (30/8/2018).

Yusuf juga sempat mengatakan dalam salah satu kesempatan, bahwa saat ini seseorang tidak perlu menjadi reporter konvensional yang mesti berafiliasi dengan perusahaan media untuk berbagi cerita.

“Anda tidak perlu menjadi reporter [konvensional] untuk membagikan cerita anda. Cukup dengan ponsel,” katanya (6/7/2018).

Apa yang Yusuf lakukan membuktikan bahwa perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan menjamurnya media sosial, dan massifnya penggunaan ponsel pintar, dapat dimanfaatkan sebagai medium informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Lebih jauh dari itu, kemajuan teknologi informasi dapat pula dimanfaatkan sebagai medium edukasi publik.

Hashtag Our Stories, sebuah komunitas Mojo yang didirikan Yusuf, memiliki jargon yang menarik, yakni “Empowering mobile storytelling.”  Menurut Yusuf, berbagai informasi dan berita yang diproduksi oleh ponsel selama ini selalu mendapat tudingan “Belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.”

Untuk itu, komunitasnya hadir dengan membawa prinsip jurnalisme ke dalam mobile storytelling. Artinya, walaupun hanya dengan ponsel, reproduksi informasi masih tetap dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kehadiran prinsip-prinsip jurnalisme dalam media sosial dianggap sangat penting. Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam The Elements of Journalism (2007) mengatakan bahwa jurnalisme merupakan alat untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh publik dan kepada publik.

Sifat jurnalisme yang transparan membuat informasi yang direproduksinya tidak mudah terpapar kebohongan. Satu berita kecil saja harus mengalami berbagai macam fase sebelum akhirnya dapat terbit dan sampai ke hadapan publik.

Keberadaan narasumber yang kompeten dan representatif, kehadiran data-data yang faktual dan aktual, adalah aspek-aspek yang wajib ada dalam sebuah karya jurnalistik.

Bahkan, sebagai elemen pertama dalam buku tersebut, Kovach dan Rosentiel menaruh elemen “Kebenaran”. Hal itu karena kebenaran merupakan aspek utama dan wajib bagi jurnalisme. Sehingga kredibilitas sebuah informasi dapat dipertanggungjawabkan.

Hal ini akan menjadi obat bagi “sakitnya” faktualitas informasi di jagat media sosial.

Melawan radikalisme dengan jurnalisme

Jika hoaks dan media sosial menjadi jalan mulus radikalisme, lalu mengapa jurnalisme tidak dapat berkolaborasi dengan media sosial untuk melawannya? Bukankah prinsip faktual dalam jurnalisme dapat melawan prinsip provokatif dalam radikalisme dan hoaks?

Yusuf Omar adalah bukti bahwa media sosial dan ponsel pintar tidak selalu bersandingan dengan kata hoaks dalam hal informasi. Media sosial justru memiliki potensi lebih besar untuk menyebarkan kebenaran.

Wacana Mobile Journalism ala Yusuf Omar tidak perlu kita imitasi mentah-mentah. Kita cukup mengadaptasi prinsip-prinsipnya dalam kehidupan ber-media sosial kita.

Mulailah menghilangkan prinsip-prinsip dasar hoaks dalam ber-media sosial, dan mulailah menggunakan prinsip-prinsip jurnalisme. Baik saat bertindak sebagai produsen, maupun konsumen informasi.

Misalnya, jika sebelumnya kita mudah percaya dengan informasi yang tidak diketahui asal-usulnya, maka cobalah mulai melakukan verifikasi dan melakukan telaah lebih dalam terhadap informasi tersebut.

Caranya mudah, cukup tulis kata kunci yang berkaitan dengan informasi tersebut di kolom pencarian google, misalnya, dan lakukanlah riset sederhana. Jika sudah dapat diketahui asal-usulnya, maka barulah kita boleh percaya.

Atau, jika sebelumnya kita ‘menikmati’ konten-konten provokatif, bahkan membuatnya, maka cobalah mulai menggunakan media sosial sebagai medium advokasi publik.

Yusuf Omar mengatakan, bahwa sosial media dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk mengadukan perilaku kekerasan dan ketidakadilan akibat perilaku kekerasan tersebut, alih-alih menikmati konten-konten provokatif, bahkan memproduksinya.

“[Media sosial] dapat menjadi ruang bagi penggunanya untuk mengadukan ketidakadilan di sekitarnya. Seperti perempuan yang menerima kekerasan oleh suaminya, atau barangkali anak-anaknya. Bagi saya, itulah fungsi lain dari media sosial,” katanya.

Hoaks memiliki tipikal tertutup, tidak jelas siapa pembuatnya dan asal usulnya, dan cenderung mengandung konten yang hanya asumtif tanpa sajian data-data yang representatif. Sedangkan jurnalisme lebih terbuka, verifikatif, dan banyak menyajikan data-data dan perspektif yang beragam.

Mulailah![]

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW