Kisah PMII di PBAK

Tiap kali PBAK berlangsung, nama PMII selalu mencuat dan jadi obrolan. Ada panitia gelap, ada bendera berkibar di Makrab, bahkan brosur organisasi yang bebas tersebar.

lpmrhetor.com, UINNama baik Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) belakangan ini sedang banyak diperbincangkan. Pasalnya, pasca penyelenggaraan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2018, PMII banyak diterpa isu “tidak mengenakkan” soal keterlibatannya di pekan orientasi mahasiswa baru tersebut.

Sebut saja berita Arena berjudul Bisnis Panitia di PBAK. Berita tersebut mengupas dengan telanjang bagaimana panitia PBAK melakukan bisnis terselubung. Seperti menjual atribut peserta dan pernak-pernik PBAK lainnya.

Jika ditelaah, berita tersebut sebenarnya sah-sah saja diterbitkan oleh Arena mengingat data yang disajikan memang sudah sesuai dengan prinsip dan kode etik jurnalistik.

“Ya, memang sesuai. Data yang kami angkat itu memang sesuai, dan sesuai dengan apa yang didapatkan ketika di lapangan,” tegas Ilham Rusdi, Pemimpin Umum LPM Arena, kepada lpmrhetor.com (3/9/2018).

Dalam berita tersebut, terdapat salah satu kesaksian seorang kader PMII, Septiana Ayu Paramita, yang memanfaatkan agenda PBAK untuk berjualan atribut peserta. Septiana berjualan atas nama organisasinya, PMII.

Pasca terbitnya berita tersebut, muncul desas-desus bahwa banyak kader PMII merasa keberatan. Padahal menurut Ilham, Arena tidak bermaksud sedikit pun menyinggung PMII secara kelembagaan. Arena juga hanya menulis kata ‘panitia’ sebagai kepala berita.

“Ya, kita nggak ada maksud sama sekali,” terang Ilham mengklarifikasi.

Isu keterlibatan PMII dalam PBAK (OPAK) bukan kali ini saja terjadi. Beberapa peristiwa pernah membuat ramai ruang obrolan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga beberapa tahun ke belakang akibat keterlibatan tersebut.

Panitia gelap di OPAK FDK 2016

Pada tahun 2016, para peserta PBAK, yang saat itu bernama OPAK, diributkan dengan hadirnya seorang “panitia gelap” dalam gelaran OPAK di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Disebut panitia gelap adalah karena terdapat seorang mahasiswa yang bukan berasal dari UIN Sunan Kalijaga, namun terlibat aktif bekerja sebagai panitia.

lpmrhetor.com berusaha menelusuri keberadaan “panitia gelap” yang dimaksud saat itu. Dan memang benar, mahasiswa yang tidak berkenan disebutkan namanya tersebut merupakan mahasiswa di salah satu kampus swasta di Yogyakarta, turut terlibat dalam agenda OPAK 2016 di FDK.

“Iya saya jadi panitia dan ikut terlibat dalam OPAK 2016,” katanya.

Ia bahkan menjawab secara terbuka saat ditanya mengapa dirinya bisa terlibat dalam agenda tersebut.

Tak jawab walaupun jawabannya juga kalian tahu, ikut PMII aja,” katanya (27/8/2018).

Keterlibatannya dalam penyelenggaraan OPAK 2016 tentu saja menyalahi salah satu syarat menjadi panitia OPAK yang dibuat oleh Senat Mahasiswa (Sema) FDK. M. Rahmat Zain, Ketua Sema FDK periode 2016-2018, mengatakan bahwa salah satu syarat menjadi panitia OPAK 2016 di fakultasnya adalah ‘Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi.’

“Untuk perihal kriteria kaya gitu. Intinya dia harus mahasiswa Fakultas Dakwah [dan Komunikasi-Red.]. Pasti,” katanya (29/8/2018).

 

Bendera PMII berkibar di Makrab Saintek 2017

Masa keakraban (Makrab) mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) memang sudah dilaksanakan. Para peserta berangkat ke Pantai Goa Cemara lokasi makrab saat itu, sejak pagi hari dan pulang dengan selamat.

Namun, terdapat keganjalan dalam acara Makrab tersebut, yakni viralnya foto yang memperlihatkan para peserta makrab beserta panitia mengibarkan bendera PMII di lokasi makrab.

Foto tersebut tersebar di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan cukup menjadi obrolan hangat pada saat itu.

Salah satunya seperti obrolan dalam isi chatting Whatsapp Sylvia Maharani, mahasiswi KPI, dengan salah seorang temannya.

“Fakultas mana ini, mak (Sylvia-Red),” ucap seseorang kepada Sylvia sembari mengirimkan foto tersebut.

“Saintek, wkwk. Frontal amat,” balas Sylvia.

Namun sayang, saat ditanya mengenai siapa si pengirim pesan, Sylvia lupa. Ia hanya mengatakan bahwa informasi tersebut ia dapat dari story Whatsapp seorang mahasiswa Saintek.

“Aku lupa, eh, itu siapa yang nanya. Aku tahu dari Saintek karena ada dulu anak Saintek yang pernah update story itu. Itu nomor WA-ku yang lama,” kata Sylvia kepada lpmrhetor.com.

Agenda Makrab yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Saintek sejatinya bukan bagian dari PBAK 2017. Namun, persepsi yang ada di benak para peserta berbeda dengan realita.

Seperti yang dikatakan oleh Zamrud Mahfur Abdilah, salah seorang peserta makrab fakultas Saintek 2017. Izam sapaan akrabnya mengatakan ia tidak tahu bahwa makrab dan PBAK adalah agenda yang terpisah. Bahkan, Izam mengira bahwa makrab merupakan bagian dari PBAK.

Hal itu karena para peserta mendaftar dan membayar biaya makrab melalui loket yang disediakan saat pendaftaran PBAK. Karena agenda yang bersamaan tersebut, timbul persepsi salah pada mahasiswa baru.

“Dulu, awalnya aku juga ngira itu makrab PBAK,” kata Izam saat ditemui di Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga (04/07/2018).

 

Penyebaran brosur PMII di PBAK FAIB 2018

Hari terakhir PBAK di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FAIB) juga tidak lepas dari ‘campur tangan’ PMII. Saat penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) berlangsung di hari terakhir (29/8), para penanggungjawab agenda tersebut justru menyebarkan brosur PMII berjudul Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kepada para peserta.

“Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi organisasi mahasiswa ekstra kampus terbesar di Indonesia saat ini,” seperti tertulis dalam brosur tersebut.

Hal itu seperti diungkapkan oleh Hilda, peserta PBAK FAIB 2018.

“Insya Allah semua [brosurnya] dapat dari penanggungjawab [FGD] nya,” ungkap Hilda, Senin (3/9/2018).

Peristiwa ini tentunya membingungkan, mengingat FGD dalam PBAK merupakan agenda universitas, bukan agenda organisasi tertentu, bahkan PMII.

Inarotul Nurhaha, salah satu panitia bagian acara PBAK FAIB, justru mengatakan bahwa tidak ada satu brosurpun yang tersebar selama acara berlangsung.

“Setahu saya tidak ada brosur yang disebarkan. Saya yang [bagian-Red] acara aja nggak tahu, loh,” katanya, (3/9/2018).

lpmrhetor.com kemudian menghubungi ketua panitia PBAK FAIB, M. Ahsan Rasyid. Namun, yang bersangkutan menolak untuk memberikan keterangan.

“Mohon maaf, saya tidak bisa diwawancarai,” balas Ahsan dalam pesan Whatsapp (3/9/2018).

Setelah itu akun Ahsan tidak lagi dapat dihubungi, bahkan menghilang.

 

Klarifikasi PMII

Terkait peristiwa-peristiwa tersebut, lpmrhetor.com menemui Ketua Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga, Syauqi Fath mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.

Syauqi menyampaikan bahwa bahwa momen-momen tahunan seperti PBAK ini merupakan isu klasik. Isu klasik yang tiap tahunnya selalu mengusung dan mengangkat bahwa yang terlibat hanya organ-organ tertentu.

“Dan saya kira itu wajar dalam dinamika organisasi ekstra kampus,” katanya.

“Mungkin selama ini anggapan bahwa kader-kader PMII yang terlibat dimana, kepanitiaan PBAK dengan individu mereka sebagai kader PMII. Di satu sisi, idealnya kan panitia harus bertugas sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur), untuk tugas, fungsi dan sebagai mana panitia itu bekerja. Mereka harus mengesampingkan yang mana kepentingan organisasi dan kepentingan kampus.” Ungkap Syauqi, Selasa (04/09/2018).

Syauqi sendiri juga bercerita bahwa tidak ada tindakan dari Komisariat PMII, selama itu tidak merugikan bagi mereka. Dalam artian bukan fakta yang disampaikan.

Dia juga menegaskan kembali terkait PBAK itu murni acara kampus. Menurutnya yang dilakukan PMII hanya intervensi ke dalam kepanitiaan saja.

Dia menjelaskan bahwa PMII tidak mungkin melakukan hal yang terlalu jauh, seperti untuk menjalankan misi organisasi dalam PBAK ini, sedangkan yang terlibat banyak dari organ-organ ekstra.

“Jadi tidak ada hal-hal yang dilakukan itu sifatnya intruktif, itu nggak ada,” pungkasnya. []

 

Reporter: Darmawan Julianto dan Itsna Rahmah Nurdiani

Editor: Fiqih Rahmawati

 

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW