Teror Diskriminatif dan Pencarian Jati Diri

Deskripsi Buku:

Judul: Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman

Penulis: A. Mustafa
Penerbit: Shira Media
Tebal: vi+358 halaman
ISBN: 978-602-5868-80-1
Tahun terbit: Cetakan Pertama, 2019

Karena kasus-kasus kekerasan terhadap transpuan masih dianggap remeh, membuat saya kembali membaca Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya A. Mustafa. Novel ini menduduki posisi kedua dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. Dan perlu diingat bahwa kisah di dalam novel tersebut based on true story. Tokoh transpuan yang bernama Roro Wilis atau Mbok Wilis merupakan jendela untuk melihat bagaimana kehidupan transpuan, mulai dari bagaimana orientasi seksual itu muncul, lalu bagaimana ia menentukan pilihan, masalah-masalah yang dihadapi, serta kepada pencarian akan Tuhan.

Perjalanan hidup Mbok Wilis diceritakan dengan gaya bahasa yang rileks. Selalu ada konflik internal dan eksternal dari si tokoh. Banyak adegan dibuat sangat intens, bahkan “hardcore“. Meski latar waktu pada tahun 70an-90an, tapi hal-hal yang dihadapi para transpuan masih sama dengan apa yang terjadi pada era sekarang. Faktanya, masih banyak mulut yang sering gosok gigi tetapi berbau busuk, atau tangan yang dicuci setiap waktu tetapi suka memukuli. Transpuan masih dipandang sebelah mata.

“Kalian bencong-bencong kurang ajar. Dikasih kelonggaran malah berulah. Sampah! Seharusnya kalian tidak perlu dikasih hati. Dasar pesakitan! Orang-orang sakit jiwa! Sudah diberi nikmat lahir sebagai laki-laki, eh, malah kepingin jadi perempuan. Kufur nikmat kalian.” (Halaman 53).

Dan ketika para transpuan membela harga dirinya, mereka masih saja terus-terusan dianggap salah. Penggerebekan serta kekejaman dari Satpol PP masih menakutkan. Tokoh Mbok Wilis banyak mengalami hal memilukan, seperti pukulan dan tendangan yang selalu menghantam tubuhnya

“Mbok Wilis mengerang kesal. Tangannya memegangi kaki si Baplang, berusaha menyingkirkannya dari wajahnya. Tapi, ia tak punya cukup tenaga. Ia meraung kesakitan tatkala si Baplang menyundut kulitnya dengan bara rokok. Pedih betul siksa yang diberikan manusia-manusia jahanam itu. Setelahnya, alih-alih menyudahi kezaliman mereka, tinju serta tendang kembali berlanjut. Begitu Mbok Wilis sudah tak sanggup berkutik, barulah polisi-polisi pamong praja itu pergi seraya memberikan ultimatum supaya mereka jangan cari gara-gara lagi.” (Halaman 55).

Dinamika hidup yang kelam tidak hanya dirasakan Mbok Wilis ketika menjadi PSK di Semarang yang sering dihantui oleh Satpol PP dan juga preman. Bukan hanya Mbok Wilis, waria lainnya juga mendapatkan hal serupa. Lalu pada suatu kesempatan, Mbok Wilis mempunyai pacar yang bernama Haris. Pacarnya tersebut tak kalah kejamnya. Mbok Wilis puas dipukuli. Bahkan Haris pernah nyaris membakarnya hidup-hidup berserta rumah kontrakannya. Beruntung Mbok Wilis diselamatkan oleh para tetangganya, sedangkan rumah kontrakannya habis dilalap api.

Hubungan toxic menghantui hidup Mbok Wilis. Sehingga lama kelamaan, ketika ia merasa hubungannya dengan Haris telah berakhir, ia jera, kapok, atau trauma untuk menjalin hubungan dengan menggunakan perasaan. Dengan tak adanya lagi perasaan cinta di hatinya, ia pun semakin bersemangat menjadi PSK.

“Cinta-cintaan itu cuma buat anak kecil, Wan. Kamu pikir, kalau aku percaya cinta, aku bakalan nyebong kayak gini?” (Halaman 184).

Tokoh Mbok Wilis ditampakkan sebagai seorang yang kuat serta tabah dalam menghadapi masalah. Genre bildungsroman dalam novel dengan alur maju mundur, membuat kita masuk melewati seluk-beluk kehidupan si tokoh, hingga pembaca diantarkan kepada jati diri si tokoh. Rasa simpati dapat dirasakan sangat kuat dalam kisah ini, yang barangkali perasaan semacam itu belum pernah kita rasakan sebelumnya terhadap transpuan.

Secara keseluruhan, kisah dalam novel ini membawa Mbok Wilis kepada pintu tobat. Hidupnya berubah ketika ia mengalami mimpi buruk tentang kiamat. Ujug-ujug, ia bisa dengan mudah menjalani hidup seperti para petobat yang bukan seorang transpuan, meskipun ia merasa kesulitan untuk beradaptasi.

“Bagaimana mungkin bisa bertobat kalau balik ke masjid atau gereja saja mereka diusir?” (Halaman 200).

Lika demi liku jalan telah ditata Mbok Wilis untuk menguatkan keyakinanannya, bahwa hanya kepada Tuhanlah seharusnya ia kembali. Ia pun pelan-pelan mengurangi rokok, minuman keras, dan memakan babi. Namun, ada satu hal yang tak bisa dengan mudah ia tinggalkan, yaitu rutinitas seks. Sebab ia adalah seorang PSK. Kendati demikian, dengan niat bertobat ia terus berusaha untuk mengurangi intensitas nyebong.

Citra dari Mbok Wilis akhirnya berubah. Mbok Wilis yang dulu dikenal sebagai Ratu PSK Waria di Simpang Lima, pada akhirnya menjadi seorang aktivis. Kepada teman kencannya, ia selalu menasihati mereka bahwa mereka harus kembali ke fitrahnya. Perjuangan tobat Mbok Wilis semakin berat ketika mantan pacarnya, Haris, selalu meminta jatah untuk dilayani. Karena kalau tidak, amukan Haris menjadi taruhannya.

“Di kamarnya, ia diperkosa lagi oleh Haris sebagai tanda kekalahannya melawan sang iblis. Tak ada yang datang menolong. Tak ada bencana yang jatuh dari langit untuk menghukum Haris, atau malaikat kematian yang muncul mencabut nyawa laki-laki itu.” (Halaman 207).

Selaku pembaca yang emosinya terombang-ambing, saya terkagum-kagum dengan cerita hidup Mbok Wilis. Bertobat atau tidak, setidaknya ia telah menginspirasi banyak orang tentang cara bertahan hidup dalam cacian, pun dalam teror yang hampir tak berujung.
Di sisi lain dalam novel ini, seorang tokoh yang bernama Suko Djatmoko atau Pak Wo juga mengalami diskriminasi. Pak Wo merupakan seorang agamis yang dianggap sesat. Hidupnya juga dikepung pembicaraan tak mengenakkan seperti yang masih marak terjadi: agamanya sama, tapi saling “menerakakan”.

Tembok rumah Pak Wo pernah ditulisi dengan kalimat: “AHMADIYAH SESAT! AHLI NERAKA! MAMPUS!”. Hunjaman-hunjaman perilaku buruk dari masyarakat bagai tak berujung. Namun, Pak Wo memiliki hati yang cukup sabar dan kuat pendiriannya terhadap apa yang ia yakini. Meski sesekali ia meledak-ledak di depan semua orang.

“Cacian para tetangga sudah jadi makanan sehari-hari, sementara cacian ‘orang gila’, ‘kafir sesat’, dan segala fitnahan lainnya tak lagi bikin kupingnya memerah. Ia dihindari seakan-akan membawa kusta sehingga orang-orang enggan berada terlalu dekat dengannya.” (Halaman 209).

Jika transpuan seakan-akan menjadi manusia kelas ke dua, maka Ahmadiyah menjadi anak tiri dalam agamanya sendiri. Banyak kasus yang bisa dipetik di koran atau media daring, tentang hal-hal yang menyangkut tindak diskriminatif kepada transpuan atau aliran agama tertentu. Padahal, semua dari mereka tak terbukti mengganggu atau menyakiti orang lain. Seharusnya hal-hal semacam itu cukup dikembalikan ke pribadi masing-masing dan menjadi hal yang personal.

Selain kisah Mbok Wilis dan Pak Wo, di sela-sela itu, ada juga kisah Babi Lumpur yang memiliki kesamaan dengan sikap kemanusiaan dalam kedua kisah tersebut. Penulis cukup cerdas untuk memadukan fantasi dan bildungsroman yang mampu menyindir pembaca secara perlahan. Ternyata, dapat diartikan dari ketiga kisah tersebut bahwa perilaku binatang dan manusia sama saja. Kurangnya perikebinatangan dan kurangnya perikemanusiaan.

A. Mustafa, atau saya lebih mengenalnya dengan nama Adham T. Fusama, ia melakukan wawancara dengan tokoh Mbok Wilis dan Pak Wo sebelum ia menulis cerita yang diserahkan dengan senang hati oleh tokoh itu. Dengan kebebasan gaya bahasanya sendiri, ia berhasil menyampaikan kegelisahan si tokoh atau bahkan kegelisahan penulis sendiri. Isu minoritas yang menyangkut transpuan dan aliran agama adalah hal yang sensitif di Indonesia, tapi penulis dengan gamblang mengisahkannya secara kompleks.

Novel ini bisa menjadi hiburan sekaligus sindiran dalam cara kita memandang hidup, atau sederhananya untuk menjalin hubungan harmonis antarmanusia. Telah lama kita masih jalan di tempat dalam bermasyarakat, menghardik yang tidak sepaham, serta menistakan manusia yang dianggap melanggar norma. Fanatisme diri juga sepatutnya dikurangi, sebab apa yang kita tuduhkan ke orang, barangkali tidak seperti yang kita pikirkan.

Dalam novel ini saya merasa kecewa pada satu hal. Penulis terlalu banyak mengisahkan duka dari tokoh transpuan, tetapi sedikit sekali memperlihatkan sukacita dari seorang transpuan. Andai saja banyak jendela untuk pembaca melihat sukacita dari transpuan, maka dapat lebih memberikan pengalaman menarik. Oh ya, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman harus segera dibangunkan atau dibiarkan tertidur panjang?

Eko Wahyudi, Jurnalis Lpm Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,