Di Balik Manisnya Gula Kelapa

Sumber: Islami.coSumber: islami.co

Lpmrhetor.com– Di balik manisnya gula jawa yang dinikmati masyarakat, tersimpan jerih payah dan perjuangan penderes (penyadap gula) yang harus mempertaruhkan nyawa.

“Hidup memang penuh perjuangan, lagi pula, mungkin ini sudah takdir saya jadi penderes,” sekiranya itulah yang diungkapkan Warsun dengan senyum yang agak dipaksakan.

Warsun, atau yang kerap disapa Narjo itu merupakan salah seorang penderes (penyadap) nira kelapa asal Desa Racamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Dengan memakai topi, kaus oblong, serta celana pendek berwarna coklat andalannya itu, ia melangkah menuju tempat penderesan dengan santai tapi juga pasti. Tak lupa, ia juga melingkarkan ikat pinggang yang dirancang khusus untuk menggantungkan wadah dan sebilah sabit untuk memotong mayang (manggar) agar mengeluarkan air nira. Dengan kaki telanjang, Warsun memulai aksinya. Ia memanjat dengan hati-hati. Namun tetap terlihat terampil.

Kamis malam (07/01), saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Warsun dan istrinya, yang kebetulan sedang duduk santai di depan rumahnya. Perbincangan dimulai dengan kisah awal perjuangannya menjadi penderes. Bapak dua anak ini, berkisah bahwa jalan hidup menjadi penderes sudah ia lakoni sejak lulus dari sekolah dasar.

Sehingga, jika usianya saat ini sudah menginjak 53 tahun, maka ia sudah menjalani profesi penderes atau pengrajin gula jawa (gula kelapa) ini selama 40 tahun lebih. Dalam pengolahannya, ia selalu dibantu istrinya, Ipah (48).

“Selalu dibantu bojo, saya manjat dia geneni [masak],” ucapnya sembari melihat Ipah.

Memanjat pohon kelapa 44 kali dalam sehari dengan tinggi 20-30 meter sudah menjadi rutinitas Warsun. Demi menghasilkan nira yang banyak, maka air nira kelapa harus diambil dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Menurutnya, nira yang bagus bisa ia dapatkan ketika cuaca sedang cerah. Dari hasil memanjat 22 pohon itu, ia hanya mendapatkan 5-6 kilogram gula merah setiap harinya. Tentu hal tersebut juga tergantung pada cuaca dan kondisi tubuhnya.

Di tengah obrolan itu, ia juga mengenang perjuangannya ketika masih muda dan penuh semangat.
“Waktu saya masih bujang, malah pernah sampai 45 pohon dalam sekali panjat, pohon kelapa juga masih banyak dan nggak terlalu tinggi,” ungkapnya dengan bangga, sembari tersenyum menatap langit malam itu.

Angka kecelakaan para penderes di Banyumas memang sangat tinggi. Tidak hanya kematian, tetapi bisa juga menyebabkan cacat permanen dan membuat mereka harus mencari pekerjaan lainnya. Dilansir dari suarabanyumas.com, dalam rentang waktu 2014-2019, dari jumlah 26.580 penderes di Banyumas, tercatat 700 kasus kecelakaan yang telah dialami penderes.

Kecelakaan itu juga pernah dialami Warsun, selama 40 tahun menjadi penderes, ia pernah 3 kali jatuh dari pohon kelapa setinggi 20-30 meter.
“Ya, pernah jatuh 3 kali. Pertama, waktu masih bujang dan paling parah itu sampai nggak sadar berjam-jam dan langsung di bawa ke sedeng [saat ini red- Rumah Sakit], pergelangan tangan patah dan harus pakai gips, sampai sekarang masih terasa sakitnya,” ujarnya sambil menunjuk pergelangan tangannya yang sempat patah.

Dari kecelakaan itu, ia sempat berhenti beberapa tahun untuk tidak menderes, hingga kondisinya pulih kembali. Untuk yang kedua dan ketiga kalinya, karena keterbatasan biaya, Warsun hanya mengandalkan tukang pijat langganannya.

“Sebenarnya, saya punya kartu penderes, tetapi baru beberapa tahun ini, dan berharap ngga pernah pakai kartu itu,” jelasnya.

Pemkab Banyumas telah mengeluarkan Kartu Penderes yang berfungsi sebagai jaminan santunan, bagi para penderes yang mengalami kecelakaan akibat terjatuh dari pohon. Namun, lagi-lagi proses pencairan dana santunan itu tergolong sulit dan menyusahkan bagi masyarakat desa.

“Rata-rata penderes itu dari keluarga kurang mampu dan minim pengetahuan, birokrasi yang panjang juga harus diperbaiki,” ungkap Ketua Koperasi Nira Satria, Nartam Andera Nusa, yang dilansir dari detik.com

Bukan hanya itu, 10 tahun yang lalu, harga gula kelapa pernah mengalami penurunan harga yang drastis yaitu Rp. 1500/kg. Pada saat itu, Warsun merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengambil ijazah sekolah menengah anaknya, karena tak adanya biaya.

“Masih teringat jelas, saat benar-benar nggak punya uang, sampai nggak bisa ambil ijazah anak pertama. Jadi ijazahnya baru diambil pada saat dia akan menikah,” tuturnya.

Meskipun memiliki penghasilan yang tidak menentu dan memiliki risiko pekerjaan yang tinggi, Warsun mengungkapkan bahwa dirinya tetap bersyukur menjadi seorang penderes dan masih diberi umur panjang. Ia senang karena menghasilkan produk yang manis dan dibutuhkan banyak orang.

Selain Warsun, tentunya masih banyak orang yang bertahan menjadi penyadap nira. Nira-nira itu mereka kumpulkan dengan mempertaruhkan nyawa. Sebagai orang tua, Warsun berharap anak-anaknya kelak tidak mengalami kesusahan yang ia rasakan. Maka dari itu, ia tidak pernah mengarahkan anak laki-lakinya untuk mengikuti jejaknya menjadi penderes.

“Saya tidak menyuruh anak lanang (laki-laki) jadi penderes. Selain risiko yang ada, pohon kelapa disini juga semakin sedikit. Di sisi lain, saya tetap berharap penderes akan selalu ada,” pungkasnya. []

*Kisah ini hanyalah coretan kecil dari salah satu perjuangan manusia yang tinggal di daerah sentra gula kelapa.

Reporter: Lutfiana Rizqi Sabtiningrum

Editor: Kusharditya Albi H

You may also like

Puisi-puisi Dian: Ibu Pertiwi dan Mempertanyakan Tuhan

Ibu Pertiwi Meski masih dalam buaian ibu Meski